Berawal dari ingin takwa, saya menyelidiki kitab suci.
Karena mengimani Kitab-kitab Allah merupakan jaminan kebahagiaan dan kedamaian hati. Di dalamnya terdapat kebenaran untuk kehidupan.
“Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikit pun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al-Quraan yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu” (Qs 5:68).
Karena itu penting kita mengetahui sejarah Kitab-kitab Allah, kepada siapa Allah menurunkannya, dan bagaimana proses terbentuk kitab-Nya.
Sehingga, kita bisa mendapatkan petunjuk dan cahaya kehidupan yang dapat menuntun kita sampai di akhirat.
Mari ikuti kisah pencarian saya.
Jumlah Kitab-Kitab Allah Menurut Islam
Saya mengetahui ada empat kitab suci yang umat Islam percayai. Selain itu juga ada 100 suhuf (shahifah). Yaitu wahyu dalam bentuk lembaran yang belum dibukukan (Shahih Ibnu Hibban 361).
Hadits menjabarkan 100 suhuf ini turun kepada beberapa nabi berbeda. Yaitu kepada Nabi Syits 50, kepada Nabi Akhnukh (Idris) 30, kepada Nabi Ibrahim 10. Selanjutnya kepada Nabi Musa sebelum turunnya Kitab Taurat, 10 suhuf.
Sedangkan untuk empat kitab, Allah juga menurunkan kepada nabi yang berbeda-beda. Yaitu Kitab Taurat melalui Nabi Musa. Kitab Zabur melalui Nabi Daud. Kitab Injil melalui Nabi Isa. Dan Al-Quran melalui Nabi Islam.
Mengapa Hanya Satu Kitab yang Menjadi Panduan?
Saya sangat tertarik untuk membaca dan mengetahui isi semua suhuf dan kitab ini. Namun rupanya saya tidak bisa melakukannya. Karena para ulama berpendapat isi dari suhuf adalah pujian, dzikir, nasehat. Namun tidak wajib untuk mengajarkannya kepada manusia. Juga maknanya sudah tercantum dalam kitab lainnya.
Sedangkan untuk Kitab Taurat, Zabur, Injil isinya tidak terpercaya lagi. Karena sudah mengalami banyak perubahan.
Sehingga umat Islam sekarang hanya memakai Al-Quran sebagai panduan. “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Qs 15:9).
Pada awalnya saya menerima hal ini. Hingga saya membaca ayat Al-Quran yang menarik, menyatakan janji Allah akan menjaga firman-Nya.
“Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Qs 6:115).
Inilah yang menjadi pemicu awal untuk saya rindu mengetahui sejarah Kitab-kitab Allah.
Ada banyak pertanyaan dalam hati saya. Contohnya: bagaimana cara para nabi mendapat wahyu?
Dan yang terutama, jika Alah menjaga firman-Nya mengapa hanya berlaku untuk Al-Quran? Bagaimana dengan penjagaan terhadap isi Taurat, Zabur, dan Injil?
Kisah Turunnya Al-Quran
Saya memulai pencarian dengan mempelajari Kitab Al-Quran. Karena saya tidak menemukan catatan sejarah maupun arkeologi tentang suhuf sama sekali.
Al-Quran turun melalui Nabi Islam. Saat ia berusia 40 tahun di gua Hira. Wahyu pertama yang turun adalah surah Al-Alaq ayat 1-5. Yang berisi perintah membaca.
Peristiwa ini yang kita kenal dengan nama Nuzulul Quran. Secara umum diperingati pada malam 17 Ramadan setiap tahunnya.
Proses turunnya wahyu rupanya sangat berat. Contohnya, Hadits Shahih Al-Bukhari No. 3 menjelaskannya secara detail. Wahyu datang pada malam hari melalui ruh yang pertama-tama ia tidak kenali, disebut Namus (berarti rahasia).
Ruh itu mencengkramnya dengan kuat. Sehingga Nabi Islam gelisah dan ketakutan.
Hadits Jami’ At-Tirmidzi No. 3567 menggambarkan tekanan Nabi Islam. “. . . wahyu datang kepadaku seperti gemirincingnya lonceng dan cara ini yang paling berat bagiku . . . sungguh kening beliau bercucuran keringat.”
Bahkan berkali-kali Nabi Islam ingin bunuh diri. Yaitu saat dia lama tidak mendapat wahyu (Hadits Ahmad No.24768).
Saya menjadi heran. Jika ini wahyu Allah, mengapa proses menerimanya seberat itu?
Selanjutnya setelah Nabi Islam wafat, barulah mulai proses pengumpulan Al-Quran. Pada era Khalifah Abu Bakar, hingga standardisasi di era khalifah Utsman.
Hal ini terjadi dengan cara menyatakan satu standard Al-Quran yang benar. Dan membakar versi lainnya. Sehingga umat Islam hanya memiliki satu versi yang sama.
Kelengkapan Kitab Al-Quran
Selanjutnya proses pembukuan Al-Quran sangat menarik. Karena melewati berbagai dinamika yang panjang.
Ada banyak pertanyaan saat saya mempelajarinya. Beberapa contohnya:
Mungkinkah manusia lupa? Nabi Islam tidak bisa membaca dan menulis. Dia menghafalkan dan melafalkannya. Pernah ada satu kisah dimana dia lupa ayat Al-Quran (Shahih Muslim 1311).
Yakinkah isinya lengkap? Awalnya para sahabat mencatat perkataan nabi Islam dalam berbagai media. Misalnya pelepah kurma, potongan kulit, permukaan batu cadas, atau tulang belikat unta, dsb. Namun sepanjang sejarah banyak peperangan terjadi. Sehingga banyak penghafal Al-Quran yang wafat terbunuh.
Bagaimana dengan ayat-ayat yang hilang? Aisha menyatakan: “Ayat rajam dan menyusui orang dewasa diwahyukan sepuluh kali . . . dan disimpan di bawah ranjangku. Ketika utusan Allah wafat dan kami disibukkan dengan kematiannya, seekor kambing masuk dan memakan kertas itu” (Sunan Ibn Majah 1934).
Bagaimana dengan Kitab Taurat, Zabur, dan Injil?
Dalam kegelisahan ini saya teringat ayat. “Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu” (Qs 10:94).
Saya bertanya kepada teman Nasrani (Yanto). Mengapa ia sangat yakin dengan kitab sucinya? Berikut ini adalah jawabannya.
Kitab Taurat, Zabur, dan Injil disatukan menjadi Alkitab. Berasal dari 40 penulis berbeda.
Penulis Alkitab adalah para nabi dan rasul yang mendapatkan pewahyuan dari Ruh Allah. “Tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah” (Injil, Surat 2 Petrus 1:21).
Kurun waktu penulisan lebih dari 1600 tahun. Mencakup tiga kontinen dengan tiga bahasa berbeda. Walaupun demikian, isi Kitab Taurat, Zabur, Injil sesuai dan saling menguatkan.
Bagaimana dengan Kelengkapan Kitab Taurat, Zabur, dan Injil?
Saya juga menemukan rupanya bangsa Yahudi telah mengenal tulisan dari sejak abad ke-11 sebelum Masehi. Mereka menjaga keaslian naskah melalui cara penyalinan yang sangat ketat. Sehingga jika berbeda satu titik saja maka salinan tidak sah.
Selain itu ada banyak kopian naskah asli. Misalnya, “Naskah Laut Mati” berisi kopian Taurat dan Zabur. Berasal dari tahun 150 SM. Ini adalah salah satu penemuan kopian naskah kitab suci yang tertua.
Untuk Kitab Injil ada banyak sekali kopian naskah aslinya. Ada lebih dari 13.000 salinan. Semuanya sesuai dengan naskah asli. Salah satu contohnya adalah Codex Vaticanus yang ada 350 tahun sebelum Al-Quran.
Semua hal ini menjadi bukti yang kuat bahwa tidak mungkin isi kitab-kitab ini diubah.
Petunjuk dan Cahaya Kehidupan
Mempelajari sejarah kitab-kitab Allah membuat saya tertarik untuk mengetahui apa petunjuk dan cahaya Allah yang terdapat di dalamnya (Qs 5:44,46).
Yanto menyatakan Taurat, Zabur, dan Injil sejalan. Berisi panduan kebenaran Allah bagi kehidupan kita.
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (Injil, Surat 2 Timotius 3:16).
Selanjutnya semua kitab ini memiliki pesan yang sama. Yaitu menyatakan Isa Al-Masih sebagai Kalimatullah (Injil, Lukas 24:44).
Inilah petunjuk dan cahaya Allah untuk membimbing kehidupan manusia, bahkan sampai membawa kita kepada surga.
Mari Mempelajari Petunjuk dan Cahaya Allah!
Yanto memahami bahwa semua hal ini baru bagi saya. Sehingga memerlukan waktu untuk saya mencernanya. Namun ia mendorong saya untuk mulai membaca Kitab Taurat, Zabur, dan Injil.
“. . . berita Kesukaan [Taurat, Zabur, Injil] mengenai Kristus [Isa Al-Masih] ini. Berita ini adalah cara Allah yang penuh kuasa untuk membawa semua orang percaya ke surga . . . yaitu membenarkan kita di hadirat-Nya, apabila kita beriman kepada Yesus Kristus [Isa Al-Masih] . . .”(Injil, Surat Roma 1:16-17, FAYH).
Inilah awal mula saya membaca semua kitab ini. Saya terkesan dengan isi di dalamnya. Saya mendapatkan pengharapan dan kedamaian Allah.
Bagaimana dengan Anda pembaca? Saya mengajak untuk membaca sendiri Kitab Taurat, Zabur, dan Injil. Mari temukan kebenaran di dalamnya.
Saya menyarankan mulai membaca dari Kitab Zabur dan Kitab Injil Yahya. Berikut ini adalah link untuk membaca Kitab Taurat, Zabur dan Injil.
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel “Benarkah Al-Quran Mengakui Alkitab Adalah Wahyu Allah?” Jika Anda berminat, silahkan klik pada link-link berikut:
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
Dengan memakai tiga kriteria atas mungkinkah Al-Quran tiru manusia? Berikan alasannya?
Dengan memakai tiga kriteria atas mungkinkah Alkitab tiru manusia? Mengapa demikian?
Pewahyuan Al-Quran atau Alkitab yang membuktikan Allah Maha Kuasa? Jelaskanlah jawaban Saudara!
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”
Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini.
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected].
1. Karena belum tahu itulah Al-Quran bukan wahyu Allah, masak menurunkan ayat harus turut kemauan manusia? Contoh: 1. Ayat Maqam Ibrahim tempat shalat (Qs 2:125) 2. Ayat Hijab (Qs 33:59) 3. Ayat Reshuffle isteri Muhammad (Qs 66:5) 4. Ayat mengenai tawanan perang badar (Qs 8:67)
Sebuah data yang menarik. Kami berharap pengunjung situs memeriksa ayat-ayat yang dikutip di atas untuk mengetahui kebenarannya. Sebab bila ilah Islam bisa didikte, maka ayat Al-Quran patut diragukan. Terimakasih. ~ Solihin
BOAS
30 November 2015 3:43 pm
~ Kang Biangkala,
Muhammad mengikuti nasehat Abu Bakar sama Utsman. Sebab mereka berdua itu sudah tahu persis siapa sebenarnya sumber wahyu selama ini. Kenali Muhammad, perhatikan hikmat raja Salomo berikut:
Amsal 1:10-14, “Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut; jikalau mereka berkata: “Marilah ikut kami, biarlah kita menghadang darah, biarlah kita mengintai orang yang tidak bersalah, dengan tidak semena-mena; biarlah kita menelan mereka hidup-hidup seperti dunia orang mati, bulat-bulat, seperti mereka yang turun ke liang kubur; kita akan mendapat pelbagai benda yang berharga, kita akan memenuhi rumah kita dengan barang rampasan; buanglah undimu ke tengah-tengah kami, satu pundi-pundi bagi kita sekalian.”
Bila mencermati ayat-ayat Al-Quran, maka kita tidak ada kesan bahwa Allah yang berfirman di sana, melainkan manusia. Karena itu, ayat-ayatnya pun saling bertentangan dan rancu (Qs 1:6). Terimakasih untuk tanggapan saudara. ~ Solihin
ronald kharismawan
30 November 2015 4:29 pm
~ To: Staff,
Indikatornya sederhana, tapi itu cukup bagi siapa yang membacanya merenungkan kembali apa yang telah kita yakini selama ini.
Dalam hal ini dibutuhkan bukan saja perenungan, tetapi juga keberanian untuk berpikir kritis terhadap isi Al-Quran. Pertanyaannya, beranikah Muslim berpikir kritis dan mempertanyaakn Al-Quran? ~ Solihin
Can same
30 November 2015 5:27 pm
* Malam,
Aku jawab no. 3 saja, sebab jawaban no. 3 menjawab no. 1 dan 2.
3. Jelas maha kuasa Al-Quran. Keluaran 31:17, “Antara Aku dan orang Israel maka inilah suatu peringatan untuk selama-lamanya, sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh ia berhenti bekerja karena kelelahan.”“Dan Sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan” (Qs-Qaf : 38).
Jelas mas, masak Tuhan kelelahan. Jadi lebih benar Al-Quran.
Kami menyayangkan saudara tidak jujur dalam mengutip ayat Taurat, Keluaran 31:17. Berikut ayat yang benar. “Antara Aku dan orang Israel maka inilah suatu peringatan untuk selama-lamanya, sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh Ia berhenti bekerja untuk beristirahat.” Di sini tidak disebutkan keletihan. Mungkinkah Allah letih?
Sungguh berbeda dengan Al-Quran yang menyatakan bahwa Allah tidak ditimpa keletihan. Jelas, ini pandangan manusia. Bagaimana mungkin Allah berpikir bahwa Dia akan letih? Pemikiran demikian sangat tepat disampaikan manusia. Pertanyaannya, pewahyuan Al-Quran atau Alkitab yang membuktikan Allah Maha Kuasa? Mengapa? ~ Solihin
Adi
30 November 2015 6:24 pm
~ Dear Can Same,
Mohon maaf, anda membaca Alkitab atau buku dongeng sebelum tidur? Coba baca kembali ayat yang benar. Keluaran 31:17, “Antara Aku dan orang Israel maka inilah suatu peringatan untuk selama-lamanya, sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh Ia berhenti bekerja untuk beristirahat.”
Hingga saat ini Allah yang menciptakan manusia tidak pernah lelah, tetapi senantiasa berkarya dalam upaya penyelamatan kita dari dosa. Tuhan memberkati.
Apa yang dikutip saudara Can Same merupakan bentuk ketidakjujuran. Kami sangat menyayangkan bahwa saudara Can Same berbuat demikian. Ini mencoreng diri dan agamanya. Terimakasih untuk tanggapan saudara. ~ Solihin
mantan ilah arab
30 November 2015 6:42 pm
~ Keluaran 31:17, “…enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh Ia berhenti bekerja untuk beristirahat.” Maha Kuasa adalah salah satu sifat Allah yang artinya satu-satunya penguasa yang menguasai langit dan bumi. Beristirahat bukan berarti berhenti berkuasa melainkan berhenti bekerja menciptakan spesies baru dari yang telah diciptakan selama enam tahapan penciptaan.
Konteks diskusi kita berkaitan dengan wahyu yang diturunkan oleh Allah: Apakah Allah Maha Kuasa menurunkan ayat atau manusia yang maha kuasa mengatur Allah menurunkan ayat. Pewahyuan Al-Quran tidak membuktikan Allah Maha Kuasa menurunkan ayat, tetapi membuktikan manusia lebih maha kuasa mengatur Allah menurunkan ayat.
Sangat menarik pemaparan saudara. Memang benar bahwa pewahyuan Al-Quran tidak membuktikan Allah maha kuasa sebab Allah bisa didikte manusia. Kami berharap pengunjung situs ini memikirkan lebih lanjut untuk memercayai kitab yang tidak pernah difirmankan Allah. ~ Solihin
BOAS
1 Desember 2015 2:29 am
~ Kepercayaan yang menyembah Allah Abraham, kitab sucinya hanya ada satu, yaitu Alkitab, tidak ada lagi yang lain. Jika ada yang mengaku-ngaku penyempurna Alkitab maka itu palsu. Alkitab sudah kenyang diobok-obok, diuji dan difitnah oleh orang lain tetapi sampai detik ini tetap berdiri kokoh. Al-Quran dilarang diselidiki, karena rapuh, makanya Al-Quran kelihatan seakan-akan kokoh berdiri.
Orang Kristen tidak melarang dan tidak garang ketika Alkitab diselidiki dan digemparkan sebab orang Kristen yakin Allah sendiri yang akan menjaga firman-Nya. Tetapi jangan coba-coba berbuat demikian terhadap Al-Quran secara terang-terangan bisa bisa terjadi perang dunia ke-3, karena alloh Al-Quran tidak dapat berkutik jika bukan umat Islam yang berkutik. Jika demikian, manakah yang asli?
Bagus sekali pemaparan saudara. Kami memiliki pandangan bahwa bukan manakah yang asli, tetapi manakah yang benar. Sebab kita patut meragukan kitab yang tidak pernah diwahyukan Allah. Terimakasih untuk tanggapan saudara. ~ Solihin
rizal
1 Desember 2015 3:02 am
~ To: Boas dan Kristen,
Saya percaya kalau Injil dan Al-Quran diwahyukan dari Allah yang sama. Bedanya adalah para nabi dan kitab suci sebelum Al-Quran hanya ditujukan bagi kaum tertentu saja dan pada periode waktu tertentu saja. Buktinya anda bisa baca dalam Injil, Matius 10:5-6 dan Matius 15:24, “Jawab Yesus: ‘Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel’.” Jadi, jelas sudah, kalau nabi Isa dan Injilnya hanya diperuntukan bagi bangsa Israel pada waktu itu saja. Berbeda dengan nabi Muhammad dan Al-Quran, beliau tidak ditujukan bagi bangsa Arab dan orang Muslim saja tapi Al-Quran ditujukan bagi seluruh umat manusia (Qs 34:28).
Kami mengerti pendapat saudara demikian. Sebab kami menduga saudara belum membaca Injil secara menyeluruh dan membandingkannya dengan Al-Quran. Sehingga saudara menyimpulkan bahwa yang mewahyukan adalah Allah yang sama. Menurut kami, Injil dan Al-Quran tidak diwahyukan oleh Allah yang sama. Isinya pun sungguh berbeda.
Alkitab ditulis selama ribuan tahun oleh 40 penulis, tetapi memiliki satu tema, yaitu keselamatan dalam Isa Al-Masih. Sebaliknya, Al-Quran ditulis selama 23 tahun, tetapi tidak jelas, tidak kronologis, dan tidak sistematis tema yang hendak disampaikan. Pertanyaannya, mengapa pewahyuan Al-Quran tidak memiliki tema untuk kepastian keselamatan manusia? ~ Solihin
cari ilmu
1 Desember 2015 3:03 am
~ To: Boas,
“Kepercayaan yang menyembah Allah Abraham, kitab sucinya hanya ada satu, yaitu Alkitab.”
Respon: Memang Alkitab sudah ada di jaman Abraham. “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?” (Qs 3:65).
Memang Alkitab belum ada di zaman Abraham, tetapi penyembahan kepada Allah yang benar telah diturunkan turun temurun kepada anak cucu Abraham. Sehingga ini yang dicatat dalam Alkitab. Taurat ditulis oleh Nabi Musa agar firman yang disampaikan kepada Abraham dapat dibaca anak cucunya.
Sungguh berbeda dengan Al-Quran. Tidak jelas bagaimana kronologis kisah Abraham dalam Al-Quran. Sehingga kisah Abraham tidak lengkap dan banyak Muslim tidak tahu tentang asal usul Abraham dan bagaimana Allah berfirman kepada Abraham. Pertanyaannya, mengapa pewahyuan Al-Quran tidak memiliki tema untuk kepastian keselamatan manusia? ~ Solihin
rizal
1 Desember 2015 3:16 am
~ To: Boas,
Anda baca dalam Al-Quran (Qs 2:125-133) dan nabi Muhammad merupakan doa nabi Ibrahim yang dikabulkan oleh alloh swt (Qs 2:128-129).
Banyak hal yang tidak disampaikan Al-Quran, sekalipun Muslim mengklaim bahwa Al-Quran kitab penyempurna. Namun, kami tidak mempersoalkan tentang doa Ibrahim atau doa nabi saudara, tetapi pewahyuan yang ada dalam Al-Quran. Benarkah Allah yang berfirman dalam Al-Quran? Bukankah hanya nabi saudara sendiri yang berfirman di sana? Mengapa nabi saudara yang berfirman di sana? ~ Solihin
anakku nafiisah
1 Desember 2015 3:29 am
~ Benarkah Al-Quran itu ditulis oleh Muhammad? Apakah bible itu Alkitab (Injil)? Jika Alkitab itu 40 orang dan dari zaman 1500 tahun, siapa saja mereka?
Kami kira saudara yang perlu menjawab itu. Benarkah Al-Quran ditulis Muhammad? Sebab tidak ada indikasi bahwa Al-Quran adalah wahyu Allah. Banyak hal janggal dalam Al-Quran, seperti Qs 1:6. Belum lagi Al-Quran mutlak dan satu-satunya yang menyampaikannya adalah nabi saudara dan dalam bahasa Arab. Ini sangat meragukan.
Berbeda dengan Alkitab yang ditulis selama ribuan tahun oleh 40 penulis, yaitu Nabi Musa, Nabi Yeremia, Nabi Yesaya, Nabi Daniel, Rasul Matius, Rasul Yohanes, dan sebagainya. Pertanyaannya adalah mengapa Al-Quran tidak memiliki tema yang sama dengan Alkitab tentang kepastian keselamatan manusia? ~ Solihin
keyakinanku
1 Desember 2015 3:45 am
~ Sekedar tanya. Dalam Alkitab ada yang disebut the ten commandments atau sepuluh perintah Allah. Yang ingin kutanyakan, apakah kesepuluh firman Allah tersebut masih berlaku atau tidak?
Sepuluh perintah Allah tersebut memiliki makna hubungan vertikal dan hubungan horizontal. Isa Al-Masih menjelaskan inti dari sepuluh firman itu adalah mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Dengan demikian, sepuluh perintah Allah tetap berlaku hingga sekarang. Ini menjelaskan pewahyuan Alkitab membuktikan Allah maha kuasa. ~ Solihin
soulnight
1 Desember 2015 3:46 am
~ Menurut pendapat saya pribadi kitab suci adalah penunjuk arah untuk melakukan kehendak Allah. Kalau melihat perjalanan kisah di dalam kedua kitab suci tersebut saya lebih gampang mencerna, memahami, dan mengamalkan apa yang ada di dalam Alkitab dibanding dengan Al-Quran. Setiap saya mempelajari Al-Quran pasti saya harus benar-benar mengartikannya dahulu baru bisa memahami. Maaf bila ada yang tersinggung.
Terimakasih untuk kesaksian saudara. Kami menghargai karena saudara berkenan berbagi pengalaman saat mempelajari Al-Quran. Sekalipun Al-Quran ditulis satu orang, tetapi isinya tidak sistematis dan tidak kronologis sehingga ini bisa membingungkan pembaca. Semoga kita memilih kitab yang benar dan tepat untuk menjawab kebutuhan manusia tentang kepastian keselamatan. ~ Solihin
BOAS
1 Desember 2015 3:47 am
~ Bila kitab yang kemudian itu (Al-Quran) isinya bertentangan dengan yang terdahulu (kitab Injil) berarti ada yang palsu. Simak dan pikirkanlah mana yang palsu dari kedua isi kitab itu:
(Al Waqiyah :11-40) berisi kenikmatan bersetubuh di surga telah dinyatakan sesat oleh Isa Al Masih ratusan tahun sebelumnya. Matius 22:28-29, “‘Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Sebab mereka semua telah beristerikan dia.’ Yesus menjawab mereka: ‘Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah!'”
Nb: Sabda Isa Al-Masih dengan tegas mengatakan bahwa “sumber wahyu” ayat Al-Quran sesat.
Kami setuju dengan saudara bahwa bila dua kitab ini saling bertentangan, maka keduanya perlu diperiksa manakah yang benar. Tentu kebenaran hanya milik Isa Al-Masih. Sebab Isa Al-Masih adalah kebenaran. Karena itu, firman Isa Al-Masih menjadi tolok ukur untuk menilai perkataan Muhammad. ~ Solihin
soulnight
1 Desember 2015 3:54 am
~ Sampai kapan pun kedua kitab tersebut bisa ditiru bahkan dipalsukan, karena yang menulis kedua kitab tersebut adalah manusia. Sejauh itu ciptaan manusia pasti bisa ditiru atau dirubah oleh manusia lain. Lain halnya dengan ciptaan Tuhan, namun sebenarnya setiap orang yang mempelajari kedua kitab tersebut harus melihat tujuan dari masing-masing kitab tersebut. Saya pribadi lebih mudah memahami dan menjalankan apa yang ada di dalam Alkitab dibanding Al-Quran. Saya tidak mengerti bahasa Arab.
Kami berpendapat bahwa Alkitab tidak mungkin bisa ditiru atau diubah. Sebab para nabi dari zaman yang berbeda menuliskan dengan tema yang sama, yaitu kepastian keselamatan dalam Isa Al-Masih. Ini tidak mungkin bisa ditiru dan diubah. Tidak demikian dengan Al-Quran. Al-Quran memuat banyak ayat-ayat yang bisa dibuat manusia, seperti membunuh dan tidak adanya kepastian masuk sorga. ~ Solihin
Boni Santosa
1 Desember 2015 3:59 am
~ Al-Quran diwahyukan alloh SAW dalam konteks orang Arab abad 5-6 yang menganut animisme, sedangkan Alkitab diwahyukan Allah (Elohim) dalam konteks orang Israel dari abad 15 SM sampai 1 M yang tegar tengkuk dan agamawi. Inti dari kitab-kitab itu adalah ajaran untuk mengenal siapa Alloh hu akbar (Alloh SAW) atau Allah (Ellohim) atau Tuhan itu.
Baik Al-Quran maupun Alkitab keduanya diwahyukan Sang Maha Kuasa untuk manusia menjadi bijak “seperti” Allah dalam konsep berpikir, bersikap dan memandang sesama. So, kenapa anda berebut mana kitab yang paling diwahyukan? Pertanyaannya adalah apakah anda semua sudah menjadi bijak “seperti” Allah?
Mengetahui kitab yang diwahyukan Allah akan membawa pada kebenaran sejati. Ini yang disampaikan Alkitab bahwa manusia diselamatkan dalam Isa Al-Masih. Sedangkan Al-Quran tidak memiliki tema untuk kepastian keselamatan manusia. Padahal Al-Quran disampaikan oleh satu orang dan di waktu yang sama. Tetapi nihil untuk menjelaskan kepastian masuk sorga. Alih-alih memberikan kepastian, nabi saudara tidak tahu dan memastikan Muslim masuk neraka (Qs 46:9; 19:71).
Karena itu, kami menyadari dalam memahami ini hikmat dan kebijaksaan dari Isa Al-Masih yang diperlukan. Kami dianugerahkan hal ini. Karena itu, kami sangat bersyukur kepada Isa Al-Masih. ~ Solihin
rizal
1 Desember 2015 4:21 am
~ To: Soulnight, Saudaraku kalau anda tidak mengerti bahasa Arab maka anda baca saja terjemahannaya. Sekarang banyak Al-Quran dan terjemahannya. Bukankah Injil sekarang adalah terjemahan?
To: Boni Santosa, Tujukan pendapat anda ini pada staff IDI. Apakah mereka semua sudah menjadi bijak “seperti” Allah? Sebab staf IDI yang buat temanya.
Kami telah menanggapi pernyataan saudara Boni Santosa. Silakan saudara membaca tanggapan kami di atas. Kami menyadari bahwa hanya Alkitab yang merupakan wahyu Allah. Sebab Alkitab ditulis 40 penulis dan dalam waktu yang berbeda, tetapi memiliki tema yang sama, yaitu kepastian keselamatan dalam Isa Al-Masih. Jelas, ini sungguh hebat. Pertanyaannya, mengapa Al-Quran tidak memiliki tema kepastian keselamatan, tidak kronologis dan tidak sistematis? ~ Solihin
Bayu
1 Desember 2015 4:50 am
~ To: Staff,
Salah besar, anda bilang dengan memakai kriteria di atas. Ini saja sudah salah. Anda memaksakan bahwa hanya pendapat anda yang benar. Renungkanlah: Kebenaran suatu kitab Allah itu terletak pada isinya. Jika terdapat kontradiksi di dalamnya tentu saja kitab Allah itu sudah berubah.
Faktanya: Isi Alkitab itu banyak terdapat kontradiksi. Kenyataannya “Alkitab salah” dalam menyebutkan urutan penciptaan langit dan bumi. Sedangkan Al-Quran dengan tepat menyebutkan apa yang salah dalam Alkitab. Sekarang, jika ada kesalahan dalam Alkitab, apa masih bisa dikatakan Alkitab itu asli? Apa masih layak untuk diikuti?
Kami telah membaca Alkitab berulang kali dan tidak menemukan adanya kontradiksi di dalamnya. Sebab tema Alkitab itu satu saja, yaitu kepastian keselamatan dalam Isa Al-Masih. Ini yang tidak dimiliki Al-Quran. Sekalipun Al-Quran disampaikan oleh satu orang, yaitu nabi saudara dan di masa itu juga. Pertanyaannya, pewahyuan Alkitab atau Al-Quran yang membuktikan kemahakuasaan Allah? ~ Solihin
Dhani
1 Desember 2015 5:00 am
~ Bagi saya jelas Alkitab wahyu Allah karena terbukti kebenaran akan kebesaran Tuhan Allah yang mengatur semua ciptaannya.
Kami sangat setuju dengan saudara bahwa Alkitab adalah wahyu Allah. Sebab Alkitab memiliki tema yang sama yang disampaikan para penulis, yaitu kepastian keselamatan dalam Isa Al-Masih. Terimakasih untuk komentar saudara. ~ Solihin
Ida
1 Desember 2015 5:04 am
~ Artikel kali ini semakin bagus dan makin membuat mata terbuka akan kebenaran dan saya setuju dengan saudara Dhani. Jika ada buku ajaran-ajaran yang manusianya mengatur Tuhan Allah, maka itu sudah jelas ajaran sesat. Hanya Alkitab yang menyatakan kuasa Tuhan Allah atas semua ciptaannya dan Tuhan Allah tidak mengenal lelah. Itulah kuasa Allah.
Terimakasih untuk apresiasi saudara. Kami berharap para pengunjung semakin mengenal Isa Al-Masih dengan benar tatkala membaca artikel di atas. Di sini diperlukan keberanian untuk berpikir kritis. ~ Solihin
PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected].