
Ada acara tanya jawab dalam suatu ceramah keagamaan. Salah satu peserta bertanya, “Mengapa jika Islam mengajarkan kasih sayang, banyak perang dan konflik terjadi?”
Pertanyaan ini sontak mengundang banyak respon dari pendengar lainnya. Ada yang meledek, maupun ada yang marah.
Ulama yang menjadi narasumber menjelaskan dengan sabar. Ia menguraikan dari dalil ajaran agama.
Apa saja penjelasan ulama mengenai hal ini? Penting kita memahami kasih sayang Allah bagi manusia. Mari kita membahasnya agar bisa mengalami kasih-Nya.
Islam Mengajarkan Kasih Sayang
Sehubungan dengan pertanyaan di atas, ulama memberikan uraian. Ia menegaskan pada dasarnya Islam mengajarkan kasih sayang.
Ia memberikan dalil yang mendukung hal ini. “Katakanlah: ‘Jika kamu mencintai Allah . . . niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Qs 3:31).
Ayat ini menyatakan ada ajaran kasih dalam agama Islam. Sehingga Mukmin yang baik pasti akan berusaha mengamalkannya.
Kasih Sayang yang Lemah
Selanjutnya ulama menjelaskan beberapa alasan mengapa banyak perang dan konflik terjadi. Pertama, tentu karena ada banyak oknum umat yang tidak paham. Banyak orang salah mengambil jalan kekerasan.
Selanjutnya, Islam mengajarkan kasih sayang namun bukan berarti lemah. Agama mengajarkan untuk mampu membela diri. Sehingga jika diserang harus bisa melawan.
Ulama bahkan membandingkan dengan ajaran agama Nasrani. Menurutnya, ini adalah ajaran kasih yang kebablasan dan lemah.
Karena Nasrani mengajarkan untuk tidak melawan musuh. Bahkan untuk mengasihi dan mengampuni musuhnya.
Dalam Islam hal ini sangat berbeda. Memang ada ruang untuk negosiasi dan perdamaian, namun umat siap jika perlu berlaku keras.
Islam Mengajarkan Kasih Sayang dan Ketegasan
Ulama kemudian memberikan berbagi dalilnya. Umat harus siap untuk bertahan, maupun untuk menyebarkan syiar dengan berani.
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi: tidak ada ilah kecuali Allah . . .” (Shahih Bukhari 24).
Hal ini berarti aktif bertindak hingga orang tunduk kepada agama. Umat melakukannya baik dengan negosiasi ataupun ketegasan.
“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka habisilah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat . . . maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Qs 9:5).
Dalam hal ini bahkan umat bisa berlaku sangat tegas. Karena ada Hadist yang mengatakan bahkan wanita dan anak-anak kafir tidak terlindungi.
“. . . Beliau ditanya tentang kaum musyrikin penduduk suatu negeri yang diserbu lalu para wanita dan anak keturunan mereka binasa. Beliau menjawab: ‘Mereka termasuk dari golongan mereka . . . Tidak ada perlindungan (bagi mereka) . . .” (Shahih Bukhari 2790).
Bagaimana dengan Kasih Sayang Sejati?
Hal inilah yang kemudian menjadi diskusi hangat. Karena memang benar pada satu pihak Islam mengajarkan kasih sayang. Namun pada pihak lain ada banyak dalil yang tegas.
Dalam studi agama ditemukan bahwa Al-Quran memiliki sekitar 6.236 ayat. Dari semua ayat ini, kata “kasih” tertulis tidak lebih dari 70 kali.
Itupun pemakaian kata “kasih” kebanyakan tentang kasih manusia kepada orang, obyek, atau Allah. Namun dalam seluruh Al-Quran, hanya ada sekitar 20 ayat tentang kasih Allah kepada manusia.
Juga di dalam ayat tentang kasih Allah terdapat banyak prasyarat. Sebagai contoh, Surah Al–Imron ayat 31 (Qs 3:31) yang dikutip sebelumnya.
Ayat ini meminta manusia mengasihi Allah terlebih dahulu. Barulah kemudian setelah itu Allah akan mengasihi manusia.
Masalahnya, jelas kita manusia berdosa. Kita lemah dan melakukan banyak khilaf. Tidak mungkin kita bisa mengasihi Allah dengan baik.
Semua Manusia Membutuhkan Kasih Sayang Allah
Inilah yang menjadi kegelisahan seorang Mukmin (Atta) yang mengikuti ceramah. Ia merasa sulit untuk bisa menerimanya.
Karena pada dasarnya semua manusia membutuhkan kasih. Perlu ada kasih antara suami dan istri, orang tua dan anak.
Juga perlu ada kasih dalam hubungan sosial bermasyarakat. Apalagi kita tinggal di negara dengan beragam latar belakang.
Hal ini termasuk bagi umat Muslim sendiri. Di banyak negara ada umat Muslim minoritas yang membutuhkan pertolongan.
Misalnya para pengungsi Rohingya yang membutuhkan perlindungan. Atau para pengungsi Muslim dari Afrika Utara dan Timur Tengah yang ke Eropa.
Tentu sebagai sesama manusia kita semua membutuhkan kasih sayang sesama. Terlebih lagi, terhadap Allah. Kita pasti membutuhkan kasih-Nya agar bisa selamat.
Berawal dari Kasih Sayang Allah
Karena hal inilah Atta mencari jawaban. Ia rindu menemukan kasih sayang Allah untuk manusia.
Sampai satu saat ia mendapatkan kutipan menarik di med sos.
“Jikalau seorang berkata, ‘Aku mengasihi Allah,’ padahal ia membenci saudaranya, orang itu bohong. Karena jikalau ia tidak mengasihi saudaranya yang dapat dilihat, maka tidak bisa ia mengasihi Allah yang belum pernah dilihatnya . . . orang yang mengasihi Allah, harus mengasihi saudaranya juga” (Injil, Surat 1 Yahya 4:20-21).
Kutipan yang mengesankannya adalah bahwa manusia perlu hidup dalam kasih. Karena siapa mengasihi Allah justru perlu mengasihi manusia.
Atta melihat ada penekanan besar untuk mengasihi. Hal ini berbeda dari ajaran yang selama ini ia terima.
Namun pada awalnya ia kesulitan karena tidak tahu cara memulainya. Atta melihat kasih manusia sangat terbatas.
Dalam proses belajar akhirnya ia menemukan jawaban. Kita bisa mengasihi karena Allah terlebih dahulu memberikan kasih-Nya.
“Kita mengasihi sebab Tuhan terlebih dahulu mengasihi kita . . . Dengan hal inilah kita mengenal kasih, yaitu bahwa Al-Masih telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita. Maka, kita pun patut menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita” (Injil, Surat 1 Yahya 4:19, 3:18).
Kasih Sayang Allah Membawa Keselamatan
Akhirnya Atta mempelajari bahwa Allah mengasihi manusia berdosa. Ia ingin semua orang selamat.
Karena itu Allah menjelma menjadi manusia. Inilah Isa Al-Masih yang lahir dari seorang perawan.
Isa membawa ajaran kasih Allah. Selanjutnya Isa mati di kayu salib untuk menanggung hukuman dosa. Isa yang mampu melakukan hal ini karena hanya Dia pribadi suci tidak berdosa.
Melalui Isa kita mendapatkan ampunan dosa. Kita nantinya juga mendapatkan jaminan surga. Caranya dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.
Dengan dasar inilah kita bisa belajar mengasihi sesama. Kita mengasihi karena telah mengalami kasih Allah dalam hidup kita.
“Aku [Isa Al-Masih] memberi perintah baru kepadamu, yaitu hendaklah kamu saling mengasihi. Seperti Aku sudah mengasihi kamu . . . melalui hal itu, semua orang akan tahu bahwa kamu adalah para pengikut-Ku, yaitu jika kamu saling mengasihi” (Injil, Surat Yahya 13:34-35).
Kasih Sayang Allah yang Sejati
Memang bisa saja berbagai agama dan Islam mengajarkan kasih sayang. Namun kita paham bahwa kasih manusia sangat terbatas.
Allah memberikan kasih-Nya kepada manusia. Melalui Isa kita mendapatkan kasih-Nya dan belajar mengasihi orang lain.
Ini adalah kasih sejati yang menyelamatkan. Kasih ini bukanlah kasih lemah. Melainkan justru merupakan kekuatan besar.
Hanya dengan kasih-Nya kita bisa mengampuni musuh kita. Hanya dengan kasih-Nya kita sebagai manusia bisa hidup damai. Bahkan kita mendapatkan jaminan surga.
Maukah Anda mendapatkan kasih Allah? Mari mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.
Lihat artikel ini dalam bentuk video
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel “Islam Mengajarkan Kasih Sayang Penting: Bagaimana Cara Mendapatkannya?” Jika Anda berminat, silahkan klik pada link-link berikut:
- Kasih Sayang Allah Dalam Al-Quran Dan Injil
- Bukti Terbesar Kasih Allah Dalam Islam Dan Kristen
- Kasih Yang Rela Menderita
- Hakim Yang Adil Dan Penyayang
- Hisab, Benarkah Bukti Kasih Sayang Allah Pada Muslim?
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca:
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Jika kasih itu lemah, mengapa ada ajaran kasih dalam Islam?
- Apa yang terjadi jika Allah tidak mengasihi manusia?
- Adakah kasih yang melebihi kasih Isa Al-Masih yang menyelamatkan manusia dan menjamin masuk surga? Buktikan!
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”

PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected].