• Skip to main content
  • Skip to header right navigation
  • Skip to site footer
Isa Dan Islam

Isa Dan Islam

Dialog Agama - Isa dan Islam

  • Maksud Situs Ini
    • Tentang Kami
    • Isa dan Al-Fatihah
    • Daftar Artikel
  • Jalan ke Surga
  • Artikel
  • Media
  • Kitab Suci
  • Hubungi Kami

Islam Mengajarkan Kasih Sayang, Mengapa Banyak Konflik Terjadi?

Isa Dan Islam > Artikel > Kepercayaan Orang Islam > Perspektif Islam > Islam Mengajarkan Kasih Sayang, Mengapa Banyak Konflik Terjadi?
22 Januari 2025 | 243 Komentar

jari-tangan-membentuk-tanda-kasih sebagai ilustrasi islam mengajarkan kasih sayang

Ada acara tanya jawab dalam suatu ceramah keagamaan. Salah satu peserta bertanya, “Mengapa jika Islam mengajarkan kasih sayang, banyak perang dan konflik terjadi?”

Pertanyaan ini sontak mengundang banyak respon dari pendengar lainnya. Ada yang meledek, maupun ada yang marah.

Ulama yang menjadi narasumber menjelaskan dengan sabar. Ia menguraikan dari dalil ajaran agama.

Apa saja penjelasan ulama mengenai hal ini? Penting kita memahami kasih sayang Allah bagi manusia. Mari kita membahasnya agar bisa mengalami kasih-Nya.

Islam Mengajarkan Kasih Sayang

Sehubungan dengan pertanyaan di atas, ulama memberikan uraian. Ia menegaskan pada dasarnya Islam mengajarkan kasih sayang.

Ia memberikan dalil yang mendukung hal ini. “Katakanlah: ‘Jika kamu mencintai Allah . . . niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Qs 3:31).

Ayat ini menyatakan ada ajaran kasih dalam agama Islam. Sehingga Mukmin yang baik pasti akan berusaha mengamalkannya.

Kasih Sayang yang Lemah

Selanjutnya ulama menjelaskan beberapa alasan mengapa banyak perang dan konflik terjadi. Pertama, tentu karena ada banyak oknum umat yang tidak paham. Banyak orang salah mengambil jalan kekerasan.

Selanjutnya, Islam mengajarkan kasih sayang namun bukan berarti lemah. Agama mengajarkan untuk mampu membela diri. Sehingga jika diserang harus bisa melawan.

Ulama bahkan membandingkan dengan ajaran agama Nasrani. Menurutnya, ini adalah ajaran kasih yang kebablasan dan lemah.

Karena Nasrani mengajarkan untuk tidak melawan musuh. Bahkan untuk mengasihi dan mengampuni musuhnya.

Dalam Islam hal ini sangat berbeda. Memang ada ruang untuk negosiasi dan perdamaian, namun umat siap jika perlu berlaku keras.

Islam Mengajarkan Kasih Sayang dan Ketegasan

Ulama kemudian memberikan berbagi dalilnya. Umat harus siap untuk bertahan, maupun untuk menyebarkan syiar dengan berani.

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi: tidak ada ilah kecuali Allah . . .” (Shahih Bukhari 24).

Hal ini berarti aktif bertindak hingga orang tunduk kepada agama. Umat melakukannya baik dengan negosiasi ataupun ketegasan.

“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka habisilah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat . . . maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Qs 9:5).

Dalam hal ini bahkan umat bisa berlaku sangat tegas. Karena ada Hadist yang mengatakan bahkan wanita dan anak-anak kafir tidak terlindungi.

“. . . Beliau ditanya tentang kaum musyrikin penduduk suatu negeri yang diserbu lalu para wanita dan anak keturunan mereka binasa. Beliau menjawab: ‘Mereka termasuk dari golongan mereka . . . Tidak ada perlindungan (bagi mereka) . . .” (Shahih Bukhari 2790).

Bagaimana dengan Kasih Sayang Sejati?

Hal inilah yang kemudian menjadi diskusi hangat. Karena memang benar pada satu pihak Islam mengajarkan kasih sayang. Namun pada pihak lain ada banyak dalil yang tegas.

Dalam studi agama ditemukan bahwa Al-Quran memiliki sekitar 6.236 ayat. Dari semua ayat ini, kata “kasih” tertulis tidak lebih dari 70 kali.

Itupun pemakaian kata “kasih” kebanyakan tentang kasih manusia kepada orang, obyek, atau Allah. Namun dalam seluruh Al-Quran, hanya ada sekitar 20 ayat tentang kasih Allah kepada manusia.

Juga di dalam ayat tentang kasih Allah terdapat banyak prasyarat. Sebagai contoh, Surah Al–Imron ayat 31 (Qs 3:31) yang dikutip sebelumnya.

Ayat ini meminta manusia mengasihi Allah terlebih dahulu. Barulah kemudian setelah itu Allah akan mengasihi manusia.

Masalahnya, jelas kita manusia berdosa. Kita lemah dan melakukan banyak khilaf. Tidak mungkin kita bisa mengasihi Allah dengan baik.

Semua Manusia Membutuhkan Kasih Sayang Allah

Inilah yang menjadi kegelisahan seorang Mukmin (Atta) yang mengikuti ceramah. Ia merasa sulit untuk bisa menerimanya.

Karena pada dasarnya semua manusia membutuhkan kasih. Perlu ada kasih antara suami dan istri, orang tua dan anak.

Juga perlu ada kasih dalam hubungan sosial bermasyarakat. Apalagi kita tinggal di negara dengan beragam latar belakang.

Hal ini termasuk bagi umat Muslim sendiri. Di banyak negara ada umat Muslim minoritas yang membutuhkan pertolongan.

Misalnya para pengungsi Rohingya yang membutuhkan perlindungan. Atau para pengungsi Muslim dari Afrika Utara dan Timur Tengah yang ke Eropa.

Tentu sebagai sesama manusia kita semua membutuhkan kasih sayang sesama. Terlebih lagi, terhadap Allah. Kita pasti membutuhkan kasih-Nya agar bisa selamat.

Berawal dari Kasih Sayang Allah

Karena hal inilah Atta mencari jawaban. Ia rindu menemukan kasih sayang Allah untuk manusia.

Sampai satu saat ia mendapatkan kutipan menarik di med sos.

“Jikalau seorang berkata, ‘Aku mengasihi Allah,’ padahal ia membenci saudaranya, orang itu bohong. Karena jikalau ia tidak mengasihi saudaranya yang dapat dilihat, maka tidak bisa ia mengasihi Allah yang belum pernah dilihatnya . . . orang yang mengasihi Allah, harus mengasihi saudaranya juga” (Injil, Surat 1 Yahya 4:20-21).

Kutipan yang mengesankannya adalah bahwa manusia perlu hidup dalam kasih. Karena siapa mengasihi Allah justru perlu mengasihi manusia.

Atta melihat ada penekanan besar untuk mengasihi. Hal ini berbeda dari ajaran yang selama ini ia terima.

Namun pada awalnya ia kesulitan karena tidak tahu cara memulainya. Atta melihat kasih manusia sangat terbatas.

Dalam proses belajar akhirnya ia menemukan jawaban. Kita bisa mengasihi karena Allah terlebih dahulu memberikan kasih-Nya.

“Kita mengasihi sebab Tuhan terlebih dahulu mengasihi kita . . . Dengan hal inilah kita mengenal kasih, yaitu bahwa Al-Masih telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita. Maka, kita pun patut menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita” (Injil, Surat 1 Yahya 4:19, 3:18).

Kasih Sayang Allah Membawa Keselamatan

Akhirnya Atta mempelajari bahwa Allah mengasihi manusia berdosa. Ia ingin semua orang selamat.

Karena itu Allah menjelma menjadi manusia. Inilah Isa Al-Masih yang lahir dari seorang perawan.

Isa membawa ajaran kasih Allah. Selanjutnya Isa mati di kayu salib untuk menanggung hukuman dosa. Isa yang mampu melakukan hal ini karena hanya Dia pribadi suci tidak berdosa.

Melalui Isa kita mendapatkan ampunan dosa. Kita nantinya juga mendapatkan jaminan surga. Caranya dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.

Dengan dasar inilah kita bisa belajar mengasihi sesama. Kita mengasihi karena telah mengalami kasih Allah dalam hidup kita.

“Aku [Isa Al-Masih] memberi perintah baru kepadamu, yaitu hendaklah kamu saling mengasihi. Seperti Aku sudah mengasihi kamu . . . melalui hal itu, semua orang akan tahu bahwa kamu adalah para pengikut-Ku, yaitu jika kamu saling mengasihi” (Injil, Surat Yahya 13:34-35).

Kasih Sayang Allah yang Sejati

Memang bisa saja berbagai agama dan Islam mengajarkan kasih sayang. Namun kita paham bahwa kasih manusia sangat terbatas.

Allah memberikan kasih-Nya kepada manusia. Melalui Isa kita mendapatkan kasih-Nya dan belajar mengasihi orang lain.

Ini adalah kasih sejati yang menyelamatkan. Kasih ini bukanlah kasih lemah. Melainkan justru merupakan kekuatan besar.

Hanya dengan kasih-Nya kita bisa mengampuni musuh kita. Hanya dengan kasih-Nya kita sebagai manusia bisa hidup damai. Bahkan kita mendapatkan jaminan surga.

Maukah Anda mendapatkan kasih Allah? Mari mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.

Lihat artikel ini dalam bentuk video


Artikel Terkait

Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel “Islam Mengajarkan Kasih Sayang Penting: Bagaimana Cara Mendapatkannya?” Jika Anda berminat, silahkan klik pada link-link berikut:

  1. Kasih Sayang Allah Dalam Al-Quran Dan Injil
  2. Bukti Terbesar Kasih Allah Dalam Islam Dan Kristen
  3. Kasih Yang Rela Menderita
  4. Hakim Yang Adil Dan Penyayang
  5. Hisab, Benarkah Bukti Kasih Sayang Allah Pada Muslim?

Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca:

Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:

  1. Jika kasih itu lemah, mengapa ada ajaran kasih dalam Islam?
  2. Apa yang terjadi jika Allah tidak mengasihi manusia?
  3. Adakah kasih yang melebihi kasih Isa Al-Masih yang menyelamatkan manusia dan menjamin masuk surga? Buktikan!

Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.

Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”

Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini.
Kategori: Kepercayaan Orang Islam, Perspektif Islam

Bagikan Artikel Ini:

Share on Facebook Share on X (Twitter) Share on WhatsApp Share on Email Share on SMS

PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR

Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!

Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected].

Subscribe
Beritahulah

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

243 Comments
Paling lama
Terbaru
sejarah
27 Februari 2017 1:10 pm

~i
Yesus katanya Tuhan, Yesus menyerahkan nyawanya? Kepada siapa Yesus menyerahkan nayawanya sementara Yesus itu katanya adalah Tuhan? Tidak sanggupkah Tuhan mengasihi manusia selain dengan jalan menjadi hina terlebih dahulu sebagaimana Yesus mati terkutuk di tiang salib?

Balas
staff
28 Februari 2017 8:39 am
Balasan ke  sejarah

~
Saudara Sejarah,

Perbedaan Isa Al-Masih dengan ilah lain adalah Isa Al-Masih menunjukkan kasih-Nya yang besar melalui tindakan konkret. Ini membuktikan kasih Isa Al-Masih tidak lemah. Sebaliknya, pengorbanan Isa Al-Masih membuktikan kebesaran kasih Isa Al-Masih.

Bagaimana dengan alloh Islam? Alloh Islam tidak pernah membuktikan kasihnya kepada umat Islam, bukan? Kalau boleh tahu, apa bukti konkret alloh Islam mengasihi umatnya secara spesifik? Mohon pencerahan saudara.
~
Solihin

Balas
Usil
27 Februari 2017 1:46 pm

~
To: Nasrani,

Kasih tanpa pedang adalah kelemahan. Pedang tanpa kasih adalah kekejaman. Pedang dengan kasih adalah kesempurnaan. Itulah Islam.

Balas
staff
28 Februari 2017 8:46 am
Balasan ke  Usil

~
Saudara Usil,

Menarik sekali pernyataan saudara bahwa kasih tanpa pedang adalah kelemahan. Barangkali lebih baik saudara memberikan contoh konkret mengenai kasih tanpa pedang adalah kelemahan agar kami tidak menduga-duga. Bagaimana saudara?

Bila kasih tanpa pedang adalah kelemahan, mengapa Qs 3:31 menyebutkan bahwa alloh Islam mengasihi dan mengampuni dosa-dosa? Bagaimana hubungan kasih dan pedang dalam perspektif Al-Quran? Mohon penjelasan saudara.
~
Solihin

Balas
pengunjung
27 Februari 2017 1:59 pm

~
Jadi, kasih Isa Al-Masih adalah kasih terkuat, terbesar dan menyelamatkan. Jangankan untuk menjadi Tuhan yang akan saya sembah, menjadikan ajudan saja sosok seperti Yesus itu sungguh tidak layak. Sejatinya Tuhan itulah adalah maha kuasa dan perkasa.

Balas
staff
28 Februari 2017 8:51 am
Balasan ke  pengunjung

~
Saudara Pengunjung,

Saudara mengakui bahwa Tuhan mahakuasa, maka saudara pun perlu mengakui bahwa Tuhan dapat menunjukkan kasih-Nya dengan cara yang dikehendaki-Nya. Hal ini bila saudara konsisten dengan pernyataan saudara. Faktanya, saudara menolak kemahakuasaan Allah dengan menolak bahwa Allah dapat menunjukkan kasih-Nya dengan menderita mati di kayu salib untuk menyelamatkan manusia dari dosa.

Pertanyaannya adalah mengapa saudara mengingkari kemahakuasaan Allah yang berkenan menjadi manusia dan menunjukkan kasih-Nya dengan mati di kayu salib? Mohon penjelasan saudara.
~
Solihin

Balas
Alif
27 Februari 2017 2:04 pm

~
Kasih yang mana yang diajarkan Yesus? Yesus datang bukan untuk damai/kasih, tapi untuk pedang/perang. Tertulis di Alkitab berarti itu ucapan Yesus, orang Kristen dilarang menyangkal Alkitab.

Balas
staff
28 Februari 2017 8:55 am
Balasan ke  Alif

~
Saudara Alif,

Ada baiknya bila saudara mengutip ayat tersebut secara lengkap sehingga mengerti dengan benar maksud kata ‘pedang’. Benarkah kata ‘pedang’ memiliki arti perang berdasarkan teks tersebut? Kami mengajak saudara untuk jujur terhadap diri sendiri. Lagi pula, tidak ada bukti konkret bahwa Isa Al-Masih berperang. Bila ada, maka tertulis dimanakah dalam Injil?

Sebaliknya, Isa Al-Masih menunjukkan kebesaran kasih-Nya dengan “memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Injil, Rasul Besar Matius 20:28). Dengan demikian, tidak ada kasih yang lebih besar selain yang ditunjukkan Isa Al-Masih.
~
Solihin

Balas
Ahli Fikir
27 Februari 2017 2:35 pm

~
Jadi kasih sayang Allah lebih besar daripada kasih sayang Yesus (Yoh. 14:28), dan kasih sayang Allah lebih besar daripada sesiapapun (Yoh. 10:29).

Balas
staff
28 Februari 2017 12:45 pm
Balasan ke  Ahli Fikir

~
Saudara Ahli Fikir,

Kami senang saudara mengutip ayat Injil. Walaupun demikian, kami menyayangkan karena saudara tidak membaca dengan teliti ayat-ayat tersebut. Kami mengutipnya untuk saudara. “Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku” (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:28).

Ayat di atas justru menegaskan bahwa Isa Al-Masih mengasihi manusia, bukan menekankan tentang kasih Allah lebih besar dibandingkan Isa Al-Masih. Dengan demikian, saudara salah konteks memahami ayat tersebut. Bagaimana dengan alloh Islam? Kami tidak menemukan bukti konkret alloh Islam. Al-Quran hanya menjelaskan alloh Islam maha penyayang. Apa bukti konkret kasih alloh Islam?
~
Solihin

Balas
Anggur bin Yakult
27 Februari 2017 5:46 pm

~
Tentu saja tidak lemah kalau ajaran kasihnya itu; kasih duit, kasih beras, kasih indomie, dsb.

Balas
staff
28 Februari 2017 12:50 pm
Balasan ke  Anggur bin Yakult

~
Saudara Anggur,

Mengasihi bukan sekedar retorika belaka. Allah menyebut diri-Nya kasih karena Dia membuktikan kasih-Nya dengan datang ke dunia dan mengambil rupa manusia. Dan dalam keadaan manusia, Dia relah “memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Injil, Rasul Besar Matius 20:28). Bukankah ini kasih yang konkret?

Adalah tidak bijak bila ada ilah yang menyebut dirinya maha pengasih dan maha penyayang, tetapi tidak pernah menunjukkan kasihnya secara khusus. Alih-alih membuktikan kasih, malah yang terjadi adalah kebingungan. Bagaimana menurut saudara bila ada ilah yang hanya beretorika?
~
Solihin

Balas
الملك|ᴮᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ|كالا
27 Februari 2017 5:47 pm

*****
1. Berarti ajaran Islam itu munafik.
2. Berarti tidak ada Allah.
3. Tidak ada, buktinya ilah Islam itu bukan kasih tetapi sombong. Hαdits qudsi, dαri Abu Hurαirαh rα, sαw bersαbdα: “Ilαh kitα berkαtα, ‘kemuliααn αdαlαh sαrungku dαn kesombongαn αdαlαh selendαngku’.” (HR.Muslim,4752). Padahal: 1 Yohαnes 4:8, “…Allαh αdαlαh kαsih.” 1 Korintus 13:4, “Kαsih itu…tidαk sombong.” Amsαl 21:4, “…sombong…αdαlαh dosα.” Yohαnes 3:8, “…dosα, berαsαl dαri iblis…”

Balas
staff
28 Februari 2017 12:53 pm
Balasan ke  الملك|ᴮᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ|كالا

*****
Saudara Biangkala,

Tidak mudah untuk membuktikan kasih alloh Islam sebab hingga saat ini rekan-rekan Muslim belum dapat menunjukkan kasih alloh Islam secara spesifik dan konkret, kecuali yang umum-umum saja. Harap ini menjadi sebuah perenungan bersama. Bila kasih dianggap sebagai kelemahan, mengapa alloh Islam menyebut dirinya maha pengasih?
~
Solihin

Balas
LGN
27 Februari 2017 5:59 pm

*****
Terima kasih buat staff IDI Tuhan Yesus memberkati.

1. Kasih itu bersumber dari Allah. Menurut saya ini adalah pertanyaan yang sangat tepat bagi Muslim. Jika kasih itu lemah kenapa mereka diajarkan kasih? Mohon dijawab buat saudara-saudara Muslim.

2. Jika Allah tidak mengasihi kita manusia apalah jadinya kita ini umat manusia, tidak ada harapan, yang pasti jika Allah tidak mengasihi, manusia pasti tinggal menunggu maut (neraka). Namun saya bersyukur Allah sudah menyatakan kasih-Nya buat saya (Yohanes 3:16).

3. Tidak ada kasih yang melebihi Allah, karena Allah sumber kasih. Hanya Yesus (penuh kasih) yang mampu menyelamatkan dan mengampuni dosa manusia dan itu sudah dinyatakan. Allah adalah Yesus, Yesus adalah Allah. “Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30).

Balas
staff
28 Februari 2017 12:58 pm
Balasan ke  LGN

*****
Saudara LGN,

Kasih yang membuat Allah rela datang ke dunia dan mengambil rupa manusia agar manusia dapat diselamatkan. Kasih tidak lemah. Sebaliknya, kasih menunjukkan kebesaran dan kekuatan Allah. Bukankah tidak ada seorang pun yang dapat memberikan nyawanya untuk orang lain? Apakah memberikan nyawa untuk orang lain sebagai kelemahan? Kiranya ini menjadi perenungan bagi pengunjung situs ini.
~
Solihin

Balas
rizal
27 Februari 2017 10:37 pm

*****
1. Saya mau tahu dari mana anda mendengar orang Islam yang mengatakan ajaran kasih itu lemah? Ingat jangan pernah bersaksi dusta karena itu akan menghambat kalian masuk surga (Matius 19:18).

2. Maka manusia akan binasa. Untuk itu Allah memberikan kalian kesempatan untuk bertobat, sebab kalian salah menyembah Tuhan, yang kalian sembah adalah utusan Tuhan.

3. Ada. Yaitu Allahnya Yesus dan Allahnya kita semua. Buktinya Yesus menyuruh menyembah Allah bukan menyembah diri-Nya (Markus 12:29-30; Qs 5:72 dan 117). “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabb-ku dan Rabb-mu.”

Balas
staff
28 Februari 2017 1:08 pm
Balasan ke  rizal

*****
Saudara Rizal,

1. Pertanyaan saudara telah dijawab oleh saudara Anakkunafiisah di kolom bawah. Ia menyatakan bahwa kasih Kristen itu lemah. Bukankah ini menandakan bahwa Muslim memandang kasih itu lemah?

2. Isa Al-Masih tidak pernah menyebut diri-Nya utusan, kecuali penafsiran saudara. Saudara dapat memeriksa banyaknya ayat yang menjelaskan bahwa Dia adalah Tuhan. Silakan saudara klik ini http://tinyurl.com/8abrx5t untuk mengetahuinya. Bagaimana dengan alloh saudara? Apa bukti konkret kasih alloh saudara untuk menyelamatkan saudara dari dosa?

3. Membaca poin membuat hati kami bertanya-tanya. Mengapa saudara tidak menyebutkan alloh saudara? Bukankah alloh Islam dan Isa Al-Masih berbeda? Alloh Islam tidak pernah memberikan bukti konkret kasihnya kepada manusia. Apa bukti konkret kasih alloh saudara untuk menyelamatkan saudara dari dosa?
~
Solihin

Balas
anakkunafiisah
27 Februari 2017 10:52 pm

*
1. Betul sekali kasih Kristen itu lemah. Dia tidaklah dibangun pada ajaran Yesus sendiri dan juga tidak dibangun di atas nash atau hukum yang berlaku. Bahkan membuat hukum baru dan “penggenapan” yang palsu. Penggenapan tidaklah menghapus apa yang ada dalam Taurat itu. Bahkan jika memang Kristen jujur menganut kasih sesuai ajaran Yesus dia pasti taat dalam menjalankan Taurat sebab telah tertulis 22:40, “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.“

Yakni ada makna dimana: 1. Harus dijalankan sesuai Taurat dan kitab atau 2. Dengan kasih inilah sebagai dorongan dalam ketaatan menjalankan hukum Taurat dan kitab para nabi. Mudah-mudahan bisa jadi renungan karena kami Muslim adalah saksi bagi kalian kelak.

Balas
staff
28 Februari 2017 1:53 pm
Balasan ke  anakkunafiisah

*
Saudara Anakku,

Menarik sekali pernyataan saudara bahwa kasih Kristen tidak dibangun pada ajaran Isa Al-Masih. Agar hal ini jelas, maka dapatkah saudara menjelaskan lebih lanjut apa maksud dari tidak dibangun pada ajaran Isa Al-Masih? Bagaimana saudara?

Pengikut Isa Al-Masih berusaha untuk mengikuti ajaran Isa Al-Masih untuk mengasihi sesama, termasuk mengasihi orang yang menganiaya (Injil, Rasul Besar Matius 5:44). Sebab Isa Al-Masih telah memberikan contoh dan teladan mengenai kasih yang besar. Bagaimana mungkin pengikut Isa Al-Masih mengasihi tidak dibangun atas ajaran Isa Al-Masih?
~
Solihin

Balas
shukri 2
28 Februari 2017 1:14 am

~
Jangan hanya cakap pada sifat kasih semata. Bagaimana pula pada sifat murka Allah? Sesungguhnya Ar-Rahman juga tidak menyukai orang-orang yang syirik dan ingkar. Qs 4:48, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”

Qs 30:45, “agar Allah memberi pahala kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar.”

Balas
staff
28 Februari 2017 11:12 pm
Balasan ke  shukri 2

~
Saudara Shukri,

Kami senang saudara menyinggung mengenai sifat murka Allah. Ini berarti berbicara tentang keadilan Allah. Allah sangat murka terhadap orang yang berbuat dosa. Dosa apapun itu. termasuk dosa yang dianggap kecil. Karena itu, setiap orang yang berdosa dihukum di neraka (Injil, Surat Roma 6:23). Uniknya, Al-Quran menyatakan hal yang sama (Qs 43:74).

Namun, Allah memiliki kasih yang besar kepada manusia dan menghendaki manusia tidak binasa di neraka. Sebab itu Dia datang ke dunia dan menjadi manusia. Namun, orang menganggap wujud kasih-Nya datang ke dunia dianggap kasih yang lemah. Bila kasih dianggap lemah, mengapa Al-Quran menyatakan alloh Islam maha pengasih dan maha penyayang?
~
Solihin

Balas
Ahli Fikir
28 Februari 2017 4:29 am

~
Bukti Allah Maha Adil:
– perbuatan baik manusia dapat ganjaran yang baik
– perbuatan jahat dibalas dengan kejahatan

Anehnya ajaran Kristen semuanya di klaim kasih:
– yang baik dikasih
– yang jahat dikasih
– perogol anaknya dikasih
– penzina dengan adik perempuannya dikasih
– perempuan sundal dikasih
– yang Iblis?
Apa yang adilnya ajaran penyembah manusia ini?

Balas
staff
28 Februari 2017 11:19 pm
Balasan ke  Ahli Fikir

~
Saudara Ahli Fikir,

Membuat pernyataan berdasarkan asumsi hanya akan menghasilkan tuduhan tidak berdasar. Namun, ijinkan kami menanggapi mengenai maha adil versi saudara. Tidak ada yang baik pada manusia. Sebab di dalam kebaikan pun bisa terdapat kejahatan. Misal, berbuat baik agar dilihat orang. Ini pun kejahatan. Berbuat baik agar masuk sorga. Ini pun kejahatan. Seolah-olah Allah disuap dengan perbuatan baik sehingga diijinkan masuk sorga.

Berbeda dengan kasih dari Allah sejati. Allah mengetahui ketidakmampuan manusia menyelamatkan diri sehingga Dia datang ke dunia dan mengambil rupa manusia (Injil, Rasul Besar Yohanes 1:1,1 4). Kasih demikian merupakan kebesaran Allah. Pertanyaannya adalah apakah bukti konkret kasih alloh Islam untuk menyelamatkan umat Islam dari dosa?
~
Solihin

Balas
Agur bin Yake
28 Februari 2017 6:01 am

~
Silakan tunjukkan bukti nyata keadailan alloh lembah Mekkah bagi seluruh umat manusia di muka bumi ini. Kalau adil saja tidak tahu, lalu bagaimana bisa Maha Pengasih dan Penyayang?

Balas
staff
28 Februari 2017 11:21 pm
Balasan ke  Agur bin Yake

~
Saudara Agur,

Membaca Al-Quran secara menyeluruh akan membantu setiap orang mengetahui apakah alloh Islam memiliki sifat kasih dan adil. Kami telah memeriksa dan menyelidiki Al-Quran dan belum menemukan itu. Kami berharap pengunjung situs ini dapat membantu memberikan pencerahan mengenai kasih dan keadilan alloh Islam yang konkret.
~
Solihin

Balas
lawas
28 Februari 2017 7:00 am

~
Staff IDI,

Kalau membuat artikel jangan bohong. Nama penceramahnya siapa dan lokasi dimana. Fitnah saja.

Balas
staff
28 Februari 2017 11:26 pm
Balasan ke  lawas

~
Saudara Lawas,

Isa Al-Masih mengajarkan untuk berkata ya, bila ya. Dan berkata tidak, bila tidak. Artinya di sana terkandung kejujuran. Pertanyaannya adalah untuk apa membuat artikel dengan maksud berbohong. Bukankah itu tidak sesuai dengan ajaran Isa Al-Masih? Kami tidak menyebutkan nama dan lokasi penceramah untuk menjaga nama baik orang itu. Namun, apa yang disampaikan penceramah sesuai dengan isi artikel di atas.

Persoalannya bukan pada nama atau lokasi, mengapa penceramah itu menganggap kasih Kristen itu lemah? Saudara Anakkunafiisah pun menyatakan hal yang sama. Bila kasih Kristen itu lemah, mengapa alloh Islam menyebut dirinya pengasih dan penyayang?
~
Solihin

Balas
shukri 2
28 Februari 2017 7:26 am

~
To: Staff IDI,

Mengapa anda hapus postingan saya? Jelaskan alasan anda. Apakah memberi makna kasih Allah mengikut perspektif Al-Quran salah dan perspektif anda saja yang betul? Lihat kembali postingan-postingan saya.

Balas
staff
28 Februari 2017 11:34 pm
Balasan ke  shukri 2

~
Saudara Shukri,

Membicarakan kasih berarti bukan membicarakan benar atau salah, tetapi apa bukti konkret kasih itu? Kasih dalam perspektif Al-Quran tidak memiliki bukti konkret. Kami telah mengajukan pertanyaan mengenai bukti konkret kasih alloh Islam untuk menyelamatkan umat Islam dari dosa. Hingga saat ini pun belum ada yang dapat menjawabnya.

Berbeda dengan kasih Isa Al-Masih. Isa Al-Masih membuktikan kasih-Nya dengan “memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Injil, Rasul Besar Matius 20:28). Namun, tampaknya kasih demikian dianggap lemah.

Oh ya, kami memohon maaf untuk ketidaknyamanan yang saudara rasakan karena komentar saudara dihapus. Kami memiliki ketentuan untuk memasukkan komentar hanya di satu kolom. Namun, saudara telah memasukkan komentar lebih dari satu kolom. Kiranya saudara memahami ini.
~
Solihin

Balas
Hendy Gunawan
28 Februari 2017 7:34 am

~
To: All Muslim,

Memang ajaran Muslim itu level ajarannya untuk manusia-manusia yang tinggal di dunia, bukan level ajaran surga. Ajaran Kristus adalah ajaran yang mempunyai level surga dan kemahasucian. Bagi Muslim kasih itu bisa diterima cuma dengan cara bicara saja seperti alloh swt yang mengampuni manusia. Lalu kataya alloh swt ingin manusia masuk surga tinggal menyuruh tidak boleh ini dan itu, harus begini dan begitu sampai tebalnya satu buku.

Balas
staff
28 Februari 2017 11:38 pm
Balasan ke  Hendy Gunawan

~
Saudara Hendy,

Kasih membutuhkan bukti, bukan sekedar janji. Isa Al-Masih telah membuktikan kasih-Nya kepada manusia dengan “memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Injil, Rasul Besar Matius 20:28). Tidak ada ilah manapun yang dapat membuktikan kasih yang demikian besar selain kasih yang ditunjukkan Isa Al-Masih. Kiranya ini menjadi perenungan bersama.
~
Solihin

Balas
Aan
28 Februari 2017 8:51 am

*****
1. Saya tidak tahu.

2. Semua manusia ke neraka.

3. Jelas tidak ada. Karena Isa adalah Allah itu sendiri.

Balas
staff
28 Februari 2017 11:40 pm
Balasan ke  Aan

*****
Saudara Aan,

Kami berterimakasih untuk tiga jawaban yang diberikan. Jawaban tersebut mencerminkan keyakinan dan keteguhan saudara bahwa kasih Isa Al-Masih adalah kasih yang terbesar. Tidak ada ilah manapun yang dapat menandingi kasih Isa Al-Masih.
~
Solihin

Balas
pedro eza
28 Februari 2017 9:07 am

~
Hukum kasih adalah hukum yang terbesar di bumi ini. Kenapa? “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; kasih itu lemah lembut, ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1 Korintus 13:4-7).

Dan Manusia pun menerima keselamatan hanya oleh karena kasih Allah akan dunia ini di dalam Isa Al-Masih.

Balas
staff
28 Februari 2017 11:44 pm
Balasan ke  pedro eza

~
Saudara Pedro,

Kasih Allah bukan retorika belaka. Menjelaskan unsur kasih dan membuktikannya menunjukkan bahwa Isa Al-Masih adalah Allah sejati. Ilah manapun tidak dapat menyatakan kasih seperti yang dilakukan Isa Al-Masih. Terimakasih saudara Pedro untuk tanggapan saudara.
~
Solihin

Balas
Agur bin Yake
28 Februari 2017 9:13 am

~
Isa Al-Masih telah memberikan bukti langsung bagaimana keadilan Allah, Maha pengasihnya Allah dan betapa Maha Penyayangnya Allah. Tetapi suaminya Khadijah sibuk menebar kebencian dan melakukan politiknya dengan password ‘la ilaha illallah’, padahal dia sendiri tidak tahu apakah si alloh mono itu pernah membuktikan keadilan dan kasih sayang yang tiada batas.

Balas
staff
28 Februari 2017 11:48 pm
Balasan ke  Agur bin Yake

~
Saudara Agur,

Kami senang saudara menyatakan bahwa Isa Al-Masih membuktikan kasihnya. Kami mengajak saudara untuk tetap menghargai rekan diskusi dalam memberikan pendapat. Kami berharap dalam berdiskusi tetap dilandaskan kasih. Terimakasih untuk pengertian saudara.
~
Solihin

Balas
Usil
28 Februari 2017 9:55 am

~
Staff Isa dan Islam,

Menarik sekali jawaban saudara. Langsung contoh konkret saja. Bagaimana ajaran kasih Yesus tanpa perang (“pedang”), bisa membuat Indonesia merdeka dari penjajahan? Indonesia merdeka karena perang (“pedang”) berdasarkan kasih. Itulah yang disebut jihad. Bagaimana saudara Solihin?

Balas
staff
28 Februari 2017 11:50 pm
Balasan ke  Usil

~
Saudara Usil,

Kami memberikan pertanyaan sederhana kepada saudara. Kami hanya meminta contoh konkret dari konsep saudara bahwa kasih tanpa pedang adalah kelemahan. Alih-alih menjawab, saudara memberikan pertanyaan untuk mengalihkan pertanyaan kami. Mengapa saudara tidak menjawab pertanyaan kami? Bagaimana saudara?
~
Solihin

Balas

Sidebar

Artikel Terbaru

  • Apakah Saya Akan Masuk Surga? Ini Jalan Allah
  • Hadis Tentang Nabi Isa: Satu-Satunya Yang Tidak Tersentuh Setan
  • Sejarah Mekah Dalam Terang Arkeologi Dan Ilmu Pengetahuan
  • Hikmah Qurban Nabi Ibrahim
  • Apakah Makna Qurban Idul Adha Yang Sebenarnya?

Artikel Terpopuler Bulan Ini

  • Antara Agama Dan Korupsi: Bagaimana Menjaga Hati Bersih?
  • Hadis Tentang Nabi Isa: Satu-Satunya Yang Tidak Tersentuh Setan
  • Apakah Saya Akan Masuk Surga? Ini Jalan Allah
  • Contoh Menghina Allah Paling Nyata: Menghina Kalimatullah
  • Potong Kuku Dalam Islam Menjaga Kebersihan Jasmani dan Hati?

Artikel Yang Terhubung

  • Apakah Islam Mengajarkan Toleransi dan Menghargai…
  • Apakah Islam Mengajarkan Bahwa Dusta Termasuk Dosa Besar? 
  • Bagaimana Ajaran Kasih Dalam Islam Dan Injil?
  • 3 Alasan Mengapa Orang Islam Menjadi Kristen!
  • 5 Alasan Mengapa Allah Mewajibkan Puasa

Hubungi Kami

Apabila Anda memiliki pertanyaan / komentar, silakan menghubungi kami dengan menekan tombol di bawah ini.

Hubungi Kami

Renungan Berkala Isa dan Al-Fatihah

Apabila Anda ingin menerima renungan singkat setiap minggu, silakan menekan tombol di bawah ini

Renungan Berkala Isa Dan Al-Fatihah

Social Media

Facebook
TikTok
Instagram
YouTube

Hak Cipta © 2009–2026 | Dialog Agama Isa dan Islam. | Kebijakan Privasi | Kebijakan Dalam Membalas Email | Hubungi Kami

wpDiscuz