
Saya sangat senang bila Ramadhan tiba. Sebab setiap sore ibu kost memasak berbagai makanan untuk berbuka. Kadang juga saya ikut membantu menyediakannya.
Suatu saat kami terlibat percakapan tentang tujuan utama puasa. Kami mendiskusikan dari pandangan kepercayaan masing-masing.
Pembicaraan ini membuat kami lebih bersungguh lagi beribadah kepada Allah. Agar pada akhirnya mendapatkan rahmat-Nya. Mari kita simak percakapan kami.
Awal Percakapan dengan Ibu Haji
Hari itu kami sedang mempersiapkan takjil untuk berbuka. Kami memasak kolak untuk anak kost dan juga untuk dibagikan pada warga sekitar.
Saat itu ibu haji bertanya: “bagi kalian orang Nasrani apakah juga melakukan puasa? Karena saya mendengar bahwa ada juga ajaran puasa dalam kepercayaan kalian.”
Kemudian ibu haji mengutip ayat Al-Quran. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Qs 2:183). Jadi ia menanyakan benarkah ada ajaran puasa bagi kaum Nasrani.
Saya menjawab bahwa memang benar kami juga ada puasa. Namun cara melakukannya berbeda.
Tidak ada bulan khusus untuk puasa Nasrani. Setiap gereja dan jemaat bisa melakukannya sesuai waktu yang ditentukan masing-masing.
Selain itu ada juga puasa perorangan. Hal ini dilakukan secara individu sehingga tidak ada orang lain yang tahu saat ia melakukannya.
Saya sendiri walau bukan seorang Muslim, di bulan Ramadhan kadang ikut berpuasa. Tentunya sesuai ajaran kepercayaan saya.
Tujuan Utama Puasa dalam Islam
Selanjutnya saya bertanya: “Bagaimana dengan keyakinan ibu? Mengapa ibu berpuasa dan apa tujuan utama puasa?”
Ibu haji menerangkan dengan ramah. Pertama ia mengatakan bahwa seperti yang dikutip dari ayat sebelumnya (Qs 2:183), puasa adalah wajib hukumnya. Sebagai umat Islam, perlu takwa dengan perintah Allah.

“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya . . . karena puasa itu adalah bagi-Ku dan Akulah yang akan memberinya pahala . . .” (Shahih Muslim 1945).
Dan yang terpenting, poin ketiga adalah tujuan utama puasa. Yaitu untuk mendapatkan ampunan dosa dari Allah.
“. . . tentang bulan Ramadhan: “Barangsiapa yang menegakkannya karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya” (Shahih Bukhari 1869).
Ibu haji menjelaskan kerinduan hatinya. Ia berkata bahwa kita manusia hidup hanya sementara. Kita perlu memikirkan akhirat.
Dalam hal ini ia sangat takut akan hukuman Allah. Karena itu ibu haji berusaha beribadah semampunya. Ia juga selalu mengingatkan anak-anaknya untuk berpuasa.
Kegelisahan Manusia Berdosa
Kemudian saya bertanya: “Memangnya apa saja ketakutan ibu? Mengapa khawatir akan akhirat?”
Ibu haji mengatakan bahwa jelas kita manusia pasti banyak dosa. Ada saja kesalahan kita.
Misalnya, ibu haji berusaha menjadi orang baik. Namun bisa saja ia emosi. Ia juga bisa salah berbicara. Atau kadang ia tidak luput dari khilaf gosip saat berbicara dengan para sahabatnya.
Semua itu barulah dosa yang ia sadari. Ibu haji menjelaskan bisa ada banyak dosa lainnya yang Allah lihat namun kita tidak memperhatikannya.
Selain itu kita juga tidak tahu bagaimana nantinya penilaian Allah. Kita tidak tahu hukuman yang menanti kita dalam perjalanan ke surga.
Karena itulah tujuan utama puasa menjadi penting. Yaitu sebagai upaya kita untuk mendapat ampunan dosa dan mendekat kepada-Nya.
Tujuan Utama Puasa Nasrani
Lalu ibu haji balik bertanya: “Bagaimana dengan kamu? Umat Nasrani juga berpuasa untuk keselamatan, bukan?”
Saya menjawab bahwa tujuan utama puasa Nasrani minimal ada dua.
- Untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Puasa adalah salah satu bentuk ibadah umat Nasrani. Tujuannya untuk memusatkan hati agar bisa berdoa dan mendekat kepada Allah.
“. . . kembalilah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, menangis . . . kembalilah kepada Allah, Tuhanmu, karena Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih-Nya . . .” (Taurat, Yo’el 2: 12-13). - Untuk mencari bimbingan dan pertolongan Allah.
Waktu puasa juga menjadi waktu kita membawa masalah kepada Allah. Agar kita dapat menenangkan diri dan mencari petunjuk-Nya.
“. . . ‘Tangan Tuhan kami penuh kemurahan bagi semua orang yang mencari hadirat-Nya’ . . . Jadi, kami berpuasa dan memohonkan hal itu kepada Tuhan kami, dan Ia mengabulkan permohonan kami” (Taurat, Ezra 8:22-23).
Dalam hal ini faktor penting puasa Nasrani adalah motivasi hati. Karena Allah melihat jauh ke dalam hati manusia. Ia melihat melampaui perbuatan jasmani.
Motivasi puasa umat Nasrani bukan sekadar menjalankan peraturan. Atau terlebih lagi, bukan untuk terlihat dan mendapat pujian manusia.
Motivasi puasa Nasrani perlu murni. Yaitu untuk mendekat kepada Allah dan mencari bimbingan-Nya.
Tujuan Utama Puasa Nasrani Berbeda?
Ibu haji terkesan dengan penjelasan saya. Ibu haji berkata bahwa ia juga percaya kedua tujuan itu benar. Dalam Islam, waktu berpuasa juga adalah waktu untuk berdoa dan meminta petunjuk-Nya.
Namun selanjutnya ibu haji sangat terkejut. Ia bertanya: “Apakah hanya itu tujuan berpuasa? Bagaimana dengan pahala dan ampunan dosa?”
Saat itulah saya menjelaskan bahwa pandangan umat Nasrani berbeda. Kami meyakini manusia berdosa dan Allah Maha Suci. Karena itu tidak mungkin ada manusia selamat dengan amal dan ibadahnya sendiri.
Sedangkan Allah juga adalah Maha Kasih. Ia menginginkan manusia untuk selamat. Karena itu Allah yang memberi jalan keselamatan-Nya.

Isa menjadi teladan kehidupan. Isa juga secara jasmani, mati di kayu salib untuk menanggung hukuman dosa manusia.
“Isa Al-Masih telah menyerahkan diri-Nya demi kita untuk menebus kita dari segala kejahatan dan untuk menyucikan bagi diri-Nya suatu umat milik-Nya sendiri yang rajin berbuat baik” (Injil, Surat Titus 2:11-14).
Umat Nasrani percaya dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa ada keselamatan. Sehingga kita mendapat jaminan pahala dan surga Allah.
Hal inilah dasar yang membedakan. Dengan demikian tujuan utama puasa Nasrani bukan untuk pahala dan selamat.
Pahala dan Keselamatan yang Terjamin
Ibu haji sangat tertarik dengan semua penjelasan ini. Walau kami berbeda kepercayaan, beberapa kali selanjutnya, kami masih mendiskusikan mengenai ajaran agama masing-masing.
Memang tujuan utama puasa Nasrani sangat berbeda. Karena umat Nasrani meyakini Allah yang memberi jaminan selamat melalui Isa Al-Masih. Inilah alasan kita bisa beribadah dengan berbahagia. Tidak takut hukuman Allah.
Hal ini juga menjadi landasan agar kita rajin berbuat baik. Karena kita mensyukuri semua rahmat-Nya yang melimpah.
“Allah mengasihi kalian, itu sebabnya Ia menyelamatkan kalian karena kalian percaya kepada Yesus [Isa Al-Masih]. Keselamatan kalian itu bukanlah hasil usahamu sendiri. Itu adalah anugerah [rahmat] Allah. Jadi, tidak ada seorang pun yang dapat menyombongkan dirinya mengenai hal itu” (Injil, Surat Efesus 2:8 BIS).
Maukah Anda menerima ampunan Allah dan kepastian surga? Sehingga kita bisa beribadah dengan gembira dan ucapan syukur yang melimpah. Mari mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.
Lihat artikel ini dalam bentuk video
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:
- Yang Melebihi bulan Ramadhan Bagi Para Mukmin
- Hal Yang Terutama Pada Bulan Ramadhan
- Apakah Pengertian Puasa Ramadan Yang Benar?
- Satu-Satunya Kelalaian Yang Pasti Membatalkan Puasa
Video:
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Apa perbedaan tujuan utama puasa Ramadhan dalam Islam dan pengikut Isa Al-Masih?
- Dari kedua tujuan berpuasa di atas, manakah yang terbaik? Berikan alasannya!
- Mengapa tujuan utama puasa pengikut Isa Al-Masih bukan untuk mendapatkan pahala?
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”

Tujuan Utama Puasa Nasrani
PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected].