Setiap manusia pasti memiliki beban dosa. Kita penuh khilaf dan salah. Sehingga sulit mendapat rahmat Allah.
Bayangkan seperti orang memikul beban berat yang sangat besar. Demikianlah manusia memikul semua dosanya.
“Sesungguhnya orang Mu`min menilai dosa-dosanya seperti ia berada di bawah gunung. Ia khawatir gunung itu meruntuhinya . . .” (Jami’ At-Tirmidzi No. 2421).
Jika kita memikul beban berat tentu senang jika ada yang bisa membantu, bukan? Namun, menurut ajaran Islam, manusia tidak menanggung dosa orang lain.
Adakah jalan keluar untuk menolong manusia dari beban dosa yang sangat berat? Berikut ini uraiannya.
Perjalanan Panjang dengan Beban Berat
Saya dan beberapa teman pernah pergi ke hutan. Kami melewati beberapa sungai dengan perahu. Kemudian ada bagian harus berjalan kaki.
Saat itu kami membawa barang yang banyak. Ada ransel berisi pakaian, beberapa peralatan dan kardus bantuan sosial untuk masyarakat pedalaman.
Secara fisik kami masih muda dan kuat. Namun rupanya medan perjalanan sangat berat.
Ada jarak tempuh yang jauh untuk mencapai desa. Kemudian kami berjalan di tanah merah yang lengket. Kadang jalan setapak mendaki, dan pada bagian lain menurun. Kami juga perlu menyeberangi sungai-sungai kecil.
Beban barang yang kami bawa makin lama terasa makin berat. Akhirnya kami sangat kelelahan. Kami tidak sanggup lagi membawa beban yang terasa semakin berat. Kami pun hampir putus asa.
Untungnya pada saat itu kami bertemu dengan beberapa orang desa. Mereka dengan sigap membantu. Mereka yang akhirnya membawa barang-barang kami sampai ke desa.
Beban berat kami bisa mendapat bantuan penduduk desa. Namun bagaimana dengan beban berat utama kita? Yaitu dosa manusia.
Kita tidak akan mampu menanggungnya untuk sampai ke surga. Terlebih lagi sesama manusia tidak mungkin menanggung dosa orang lain.
Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat ajaran agama mengenai hal ini.
Pandangan Agama Mengenai Dosa Manusia

A. Setiap manusia pasti berdosa!
Al-Quran menyatakan tidak ada manusia yang bisa luput dari dosa. Bahkan para nabi juga memiliki dosa.
- Semua manusia berdosa.
“Semua anak cucu Adam (manusia) banyak salah . . .” (Jami’ At-Tirmidzi 2423). - Nabi Adam berdosa.
“. . . Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu . . .” (Qs 7:22).
- Nabi Nuh berdosa.
“. . . Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi” (Qs 11:47). - Nabi Ibrahim berdosa.
“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku . . . pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (Qs 14:41). - Nabi Musa berdosa.
“. . . lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu . . . Musa mendoa: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku’” (Qs 28:15-16). - Nabi Daud berdosa.
“Sesungguhnya dia telah berbuat lalim kepadamu . . . Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya . . .” (Qs 38:24). - Nabi Islam berdosa.
“. . . mohonlah ampunan bagi dosamu [Muhammad] dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan . . .” (Qs 47: 19).
B. Sesama manusia berdosa tidak menanggung dosa orang lain
Manusia berdosa memiliki bebannya sendiri. Manusia tidak dapat menanggung dosa orang lain.
Al-Quran tegas menyatakan hal ini. “. . . dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain . . .” (Qs 6:164). Dalil ini juga tertulis dalam berbagai surah lainnya (Qs 17:15, 35:18, 39:7).
Jadi artinya dalam hal ini setiap manusia memiliki tanggung jawab masing-masing. Kita tidak bisa mendapat pertolongan dari orang lain. Namun masalahnya kita tidak akan sanggup menanggung beban ini seorang diri.
Terlebih lagi jalan menuju Allah harus melewati jembatan sirotol mustaqim. Yaitu jembatan yang sangat tipis, licin, dan tajam seperti pedang.
Karena itu kita pasti akan gagal. Kita tidak akan mampu mencapai tujuan akhir, yaitu surga.
“Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan” (Qs 19:71).
C. Ada hukuman berat menanti dosa manusia
Dengan demikian kita semua dapat dipastikan akan menderita. Karena akan mendapat azab Allah di neraka. Manusia berdosa pasti akan mendapat hukuman Allah.
“Agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang ia usahakan. Sesungguhnya Allah maha cepat hisab-Nya” (Qs 14:51).
Keadaan ini sangat mengkhawatirkan. Sama seperti yang saya dan beberapa teman alami. Saat kami merasa tidak sanggup lagi berjalan di hutan lebat dengan barang berat. Saat itu kami mendapat pertolongan dari penduduk desa. Dalam hal ini apa jalan pertolongan Allah untuk manusia?
Satu Pengecualian: Ada Pribadi Tidak Berdosa!
Ada satu Pribadi yang berbeda. Ia dinyatakan suci dalam Al-Quran.
Pribadi ini adalah Isa Al-Masih. “. . . seorang anak laki-laki (Isa Al-Masih) yang suci” (Qs 19:19).
Kelahiran Isa memang sangat istimewa. Ia lahir dari seorang perawan. Isa juga tidak dapat tersentuh setan (Sahih Bukhari No. 3177).
Jadi Isa sangat berbeda dari semua manusia lainnya. Termasuk berbeda dari para nabi. Karena tidak ada nabi manapun yang tertulis bahwa ia suci.
Satu-Satunya yang Mampu Menanggung Dosa Manusia
Hanya Isa yang suci tanpa dosa. Karena itu Isa Al-Masih mampu menjadi jalan selamat Allah bagi manusia.
Karena memang benar semua manusia lain tidak menanggung dosa orang lain. Kita semua memiliki beban dosa pribadi.
Kitab Allah menyatakan bahwa semua manusia berdosa. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Injil, Surat Roma 3:23).
Namun, Allah penuh kasih. Ia menyediakan jalan untuk keselamatan manusia. Allah mengutus Isa sebagai perwujudan kalimat-Nya (Kalimatullah).
Isa membawa kebenaran untuk menjadi panduan hidup manusia. Isa juga sanggup menanggung dosa manusia karena Ia sempurna. Pengorbanan-Nya di kayu salib untuk menanggung dosa.

Melalui Isa, Allah menyediakan pertolongan bagi manusia. Allah akan mengampuni dosa saat kita mengimani Isa Al-Masih.
“Ya, semua orang telah berdosa; semuanya tidak memenuhi harapan Allah yang mulia. Namun sekarang Allah menyatakan kita “tidak bersalah”, bila kita mempercayai Yesus Kristus [Isa Al-Masih] yang, karena kebaikan-Nya, menghapuskan dosa kita dengan cuma-cuma” (Injil, Surat Roma 3:23-24 FAYH).
Sudahkah Isa Menanggung Dosa Anda?
Manusia tidak menanggung dosa orang lain. Namun Isa Al-Masih yang suci, dapat melakukannya.
Kita sebagai manusia berdosa pasti akan menerima hukuman Allah. Namun, Isa sanggup menolong Anda. Jika Anda mengimani-Nya maka tersedia pengampunan Allah bagi dosa Anda.
Mari mengimani dan menjadi pengikut Isa! Anda akan mendapatkan rahmat Allah. Anda bisa yakin masuk surga karena Allah akan mengampuni dosa Anda.
Lihat artikel ini dalam bentuk video
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel “Benarkah Seseorang Tidak Dapat Menanggung Dosa Orang Lain?” Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:
- Apakah Semua Manusia Termasuk Nabi Islam Berdosa?
- Bagaimana Nasib Islam dan Kristen yang Berdosa Sama?
- Pandangan Islam dan Kristen Bagaimana Dosa Diampuni
- Inikah Kafarat/Penebus Bagi Dosa Umat Islam dan Semua Orang?
Video:
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Adakah kemungkinan bahwa seseorang dapat menanggung dosa orang lain? Jelaskan pendapat Saudara!
- Dapatkah saudara menemukan satu ayat Al-Quran atau Hadist, yang mengatakan bahwa seseorang tak berdosa tidak dapat menanggung dosa orang lain? Bila ada, tuliskanlah ayat dan isinya!
- Bagaimana pandangan Saudara tentang ajaran Islam dimana orang Kristen dan Yahudi disubstitusi orang Muslim di neraka? Kalau Hadits ini benar, dapatkah seseorang menanggung dosa orang lain?
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”


PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected].