
Sebagian disebabkan karena kondisi cuaca buruk. Kadang terjadi hujan lebat. Sehingga pendakian yang curam dan licin menjadi sangat berbahaya.
Beberapa pendaki itu ada yang telah merayakan momen kemenangan kecil. Yaitu saat mereka tiba di pos peristirahatan bawah. Namun sayangnya saat itu bukan hari kemenangan mereka.
Kita semua ingin mengalami hari kemenangan. Dalam kehidupan, yang terutama, hari kemenangan adalah saat kita diterima di surga-Nya. Namun mampukah kita mencapainya?
Kita berusaha beribadah dan menunaikan puasa. Setiap Idul Fitri kita rayakan sebagai hari kemenangan. Namun akankah kemenangan itu cukup membawa kita selamat di akhirat? Mari kita lihat jalan Allah untuk kemenangan manusia.
Gambaran Kehidupan: Pendakian Gunung Tinggi
Gunung itu berdiri tegak dan gagah. Puncaknya seakan sampai ke langit. Menjadi simbol tujuan hidup manusia. Yaitu mencapai surga Allah.
Semua manusia penuh harap memandang ke atas. Agar satu waktu mencapai hari kemenangan. Saat pintu surga terbuka dan kita berada di hadapan-Nya.
Harapan ini membangun tekat dan usaha yang kuat. Kita belajar agama, mencoba beramal dan menjalankan ibadah. Salah satunya yang wajib adalah berpuasa.
Pada awalnya perjalanan di kaki gunung terasa menyenangkan. Langkah-langkah awal diiringi semangat dan doa. Di tahap ini, kehidupan tampak sederhana. Saya mau taubat dan mengikuti jalan Allah. Saya berharap selamat.
Namun perjalanan makin lama makin sulit. Batu-batu tajam melukai telapak kaki, tanjakan panjang menguras napas, dan cuaca berubah tanpa peringatan. Membuat setiap langkah terasa seperti berjalan dalam ketidakpastian.
Demikianlah kehidupan! Kita adalah manusia lemah penuh dosa. Ada banyak cobaan dan nafsu. Kita seringkali gagal mentaati perintah-Nya.
Bisa saja kita sampai pada pos peristirahatan. Pada saat kita berhasil menunaikan puasa. Lalu merayakan Idul Fitri sebagai hari kemenangan.
Namun tujuan masih jauh. Momen ini bukanlah benar-benar hari kemenangan. Kita belum sampai puncak, yaitu surga.
Idul Fitri Hari Kemenangan

1. Kemenangan atas hawa nafsu.
Idul Firi hari kemenangan karena berhasil menahan nafsu jasmani. Yaitu mengendalikan diri dari lapar, haus, dan hawa nafsu selama bulan puasa.
2. Kemenangan karena kembali fitrah.
Kata Idul Fitri sendiri berarti kembali ke fitrah. Yaitu digambarkan seperti bayi yang baru lahir. Karena harapannya bagi yang sungguh-sungguh beribadah, akan mendapat ampunan dosa.
“Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (Shahih Bukhari 37).
3. Kemenangan sosial.
Sebelum Idul Fitri, umat diwajibkan membayar zakat fitrah. Hal ini bertujuan untuk membantu mereka yang kurang mampu.
Idul Fitri juga identik dengan tradisi saling memaafkan. Menjadi hari kemenangan untuk mempererat hubungan keluarga dan sosial.
Bukan Kemenangan Jangka Panjang
Semua hal ini memang baik. Namun bukanlah jaminan keberhasilan.
Seperti pendaki yang mencapai pos pemberhentian. Ia bisa senang. Namun jangan takabur! Perjalanan masih jauh.
Demikianlah kehidupan. Kita bisa merayakan hari kemenangan saat Idul Fitri. Namun kehidupan penuh tantangan dan cobaan.
Bahkan Imam Al-Ghazali memberi nasihat. “Setiap selesai berbuka puasa, sebaiknya kita berharap kepada Allah, namun juga khawatir. Berharap Allah menerima ibadah kita. Khawatir jangan-jangan ibadah kita tidak diterima-Nya.”
“Sebab kita tidak pernah tahu. Apakah kita termasuk hamba yang dekat di sisi Allah, atau ditolak dan mendapat murka-Nya. Sikap seperti ini harus diterapkan setiap selesai melakukan ibadah apapun.”
Memang pada kenyataanya hidup penuh tantangan. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat apa saja tantangannya.
Tantangan Hari Kemenangan
Berikut ini adalah berbagai hambatan jalan yang membuat kita perlu bersikap hati-hati.

Memang kita bisa berhasil menunaikan ibadah puasa satu bulan. Namun bagaimana dengan kehidupan satu tahun itu?
Manusia penuh dengan dosa dan kelemahan. Banyak pelanggaran yang kita buat. “Semua anak cucu Adam (manusia) banyak salah . . . “ (Jami’ At-Tirmidzi 2423).
Apakah kita bisa yakin bahwa semua amal baik cukup untuk menutup dosa? Bahkan satu “biji kesombongan” saja akan menjauhkan orang dari surga (Hadits Muslim No.133).
2. Tantangan ibadah.
Kita tidak tahu apakah Allah menerima ibadah kita atau tidak. Mungkin kita pikir kita telah berbuat baik. Namun pada sisi Allah, Ia tidak berkenan.
“. . . Allah tidak menerima amalan kecuali jika dilakukan dengan ikhlas (murni) dan mengharapkan wajahNya” (Hadits Nasa’i No.3089). Bisa saja dalam beberapa hal, Allah melihat amalan kita kurang murni.
3. Tantangan hubungan.
Ada teman berkata, “Salah satu hal tersulit dalam hidup ini adalah menjaga hubungan baik.” Dan perkataannya sangat dalam.
Memang menjaga hubungan itu sulit. Kadang ada konflik besar antara anak dan orangtua, suami dan istri. Juga perselisihan antar saudara, persaingan rekan kerja dan sebagainya.
Semua ini menjadi tantangan ibadah. “. . . tidak akan diterima amalan orang yang memutuskan hubungan selaturahim” (Hadits Ahmad No.9883).
Terasa Mustahil Mencapai Puncak
Kenyataan ini menyadarkan kita akan keterbatasan manusia. Kita berusaha beribadah namun mustahil mampu mencapai surga.
Gunung kehidupan ini terlalu tinggi. Banyak sekali cobaan di tengah jalan. Juga manusia lemah. Kita pasti akan melaluinya dengan melakukan banyak kesalahan.
Terlebih lagi, hidup itu hanya satu kali. Jika gagal, kita tidak bisa memutar waktu untuk kembali mencoba lagi.
Allah yang Memberi Hari Kemenangan
Dalam keadaan ini ada satu jalan. Kita bisa mencapai hari kemenangan di puncak gunung. Namun bukan karena kemampuan kita. Melainkan karena pertolongan Allah.
Ada satu cara kita pasti akan mencapai puncak. Yaitu jika ada pemandu yang menolong.
Pemandu ini bukan pemandu biasa. Namun Ia adalah pribadi yang tinggal di puncak gunung. Ia sangat tahu jalan terbaik. Ia pasti mampu menunjukkan jalan ke puncak.
Inilah Isa Al-Masih. Isa adalah perwujudan Firman Allah (Kalimatullah) yang menjadi manusia.
“Kalam (Kalimatullah) telah ada dari mulanya. Kalam (Kalimatullah) itu bersama Allah, dan Kalam itu adalah Allah . . . Kalam (Kalimatullah) itu telah menjadi manusia, lalu tinggal di antara kita, . . . penuh dengan anugerah dan kebenaran” (Injil, Yahya 1:1,14).
Isa datang membimbing kita mencapai puncak. Agar kita pasti mendapat hari kemenangan.
Hari Kemenangan yang Sesungguhnya

Isa Al-Masih menjadi solusi bagi keterbatasan kita. Ia datang mengajarkan kebenaran. Inilah panduan jalan lurus ke puncak.
Kemudian Isa mati di kayu salib. Hal ini untuk menanggung hukuman dosa manusia. Tapi kemudian Allah membangkitkan Isa.
Inilah hari kemenangan sesungguhnya. Menyatakan kemenangan atas dosa dan maut.
“Segala puji bagi Allah, karena kasih sayang-Nya yang amat besar. Ia telah membuat kita lahir kembali [fitrah] dengan membangkitkan Isa Al-Masih. Dengan demikian, kita hidup dengan pengharapan yang pasti akan keselamatan. Karena kamu beriman kepada Allah melalui Isa Al-Masih” (Injil, Surat 1 Petrus 1:3-5, parafrasa).
Melalui Isa kita akan mendapat jalan lurus selamat. Yaitu jalan lurus ke puncak gunung.
Allah akan mengampuni dosa kita. Ia juga akan membimbing kita sampai ke surga.
Memperoleh Hari Kemenangan-Nya

Allah menyediakan pertolongan-Nya. Melalui Isa Al-Masih bahkan kita lebih dari pemenang. Karena Allah yang menyelamatkan kita.
“Isa Al-Masih, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati menjadi Perantara bagi kita. Melalui-Nya kita lebih dari pemenang oleh Dia yang mengasihi kita. Kita pasti mendapatkan kasih keselamatan Allah dalam Isa Al-Masih, Junjungan kita Yang Ilahi” (Injil, Surat Rum 8:34, 37-39, parafrasa).
Mari mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih! Mari menerima kemenangan-Nya.
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:
- Apa Makna Berpuasa Yang Sesungguhnya?
- Rahmat Dan Nikmat Allah Terhalang Dosa? Ini Solusinya
- Mungkinkah Mukmin Mencapai Tujuan Utama Puasa Ramadhan?
Video:
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Menurut Saudara, mampukah manusia mendapat hari kemenangan terutama, yaitu surga Allah?
- Bagaimana pendapat Saudara, bahwa kita untuk selamat pasti membutuhkan pertolongan Allah?
- Isa Al-Masih adalah Kalimatullah yang memberikan hari kemenangan sejati. Bagaimana pendapat Saudara mengenai hal ini?
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, maaf bila terpaksa kami hapus.

PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected].