
Idul Adha adalah salah satu ibadah penting bagi umat Islam. Satu tahun sekali umat mempersiapkan qurban hewan sebagai bagian dari ibadah.
Banyak artis hingga pejabat memberikan qurban. Mereka mempersembahkan sapi yang sangat besar. Kondisi hewan tersebut jauh lebih baik dari yang masyarakat lain berikan.
Mari kita simak pembahasan makna Idul Adha dan qurban. Agar kita bisa paham dan mengamalkan dengan benar.
Dasar Idul Adha dan Qurban
Kata Idul Adha berasal dari kata ‘id dan adha. ‘Id berati menengok, menjenguk, atau kembali. Sedangkan kata adha bermakna qurban. Kata Idul Adha artinya hari raya qurban yang kembali berulang setiap tahun.
Dasar dari perayaan Idul Adha adalah untuk memperingati sebuah peristiwa besar. Yaitu saat Allah menguji Nabi Ibrahim untuk mempersembahkan anaknya.
Saat itu Nabi Ibrahim taat dengan penuh keikhlasan. Namun pada akhirnya Allah mengganti qurban tersebut dengan hewan sembelihan besar.
Hadist menjelaskan dasar perayaan Idul Adha ini. “. . . ‘Wahai Rasulullah, apakah maksud dari hewan-hewan kurban seperti ini?’ beliau bersabda: ‘Ini merupakan sunnah (ajaran) bapak kalian, Ibrahim.’ . . . ‘Dari setiap rambut pada bulu-bulunya terdapat suatu kebaikan’” (Sunan Ibnu Majah 3118).
Jadi ketaatan Nabi Ibrahim menjadi inspirasi untuk umat mengambil hikmah dan teladan darinya. Bahwa kita juga perlu tunduk kepada Allah sedemikian rupa.
3 Makna Idul Adha dan Qurban
Dari penjelasan ini kita bisa mengambil makna Idul Adha dan qurban lebih dalam. Mari kita lihat uraiannya.
- Hidup sebagai hamba Allah yang takwa dan ikhlas.
Keteladanan Nabi Ibrahim menjadi syariat dalam Al-Quran. Sehingga umat wajib melakukannya (Qs 22:34). Dengan melaksanakan qurban menjadi bukti ketakwaan kepada Allah.
- Wujud kepedulian masyarakat.
Pemberian qurban menjadi tindakan untuk mengorbankan sifat egois dan mementingkan diri sendiri. Mengajar kita untuk rela berbagi kepada yang membutuhkan.
Ibadah ini diharapkan membangun ikatan solidaritas di masyarakat. Juga membantu mengurangi ketimpangan sosial.
- Mendapatkan pahala ibadah.
Sesuai Hadist Sunan Ibnu Majah 3118, ajaran agama menyatakan ada pahala besar. Yaitu mendapat berbagai kebaikan.
Yang terutama adalah untuk mendapat ampunan dosa. Mukmin yang melakukan qurban mengharapkan Allah menutup dosanya.
“Tidak ada amalan yang dilakukan oleh anak Adam pada hari Nahr (Idul Adlha) yang lebih dicintai oleh Allah selain dari pada mengucurkan darah (hewan kurban) . . . Dan sungguh, darah tersebut akan sampai kepada (ridha) Allah sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi, maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berkurban” (Sunan Tirmidzi 1413).
Sulit Mendapatkan Makna Idul Adha dan Qurban
Melihat semua pembahasan di atas, tentu kita rindu takwa pada perintah Allah. Karena kita pasti ingin mendapatkan pahala-Nya. Terlebih lagi kita pasti mau mendapat ampunan Allah.
Namun Al-Quran menyatakan bahwa Nabi Ibrahim sendiri tidak yakin. Ia masih tidak tahu apakah Allah akan mengampuni dosanya.
“Dan Yang amat kuinginkan (Allah) akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat . . . dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh” (Qs 26:82-83).
Hal inilah yang menjadi kekhawatiran banyak umat. Jika Nabi Ibrahim saja tidak tahu keadaannya di akhirat, apalagi kita manusia berdosa.
Qurban kita sangat jauh dari Nabi Ibrahim. Kerelaan dan takwa kita terbatas. Bagaimana mungkin kita yakin mendapatkan ampunan dosa dari-Nya?
Petunjuk Makna Idul Adha dan Qurban
Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat lagi apa yang terjadi dalam kisah Nabi Ibrahim. Bahwa Allah menggantikan qurban anaknya dengan hewan besar.
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar” (Qs 37:107).
Memang Al-Quran tidak menyebutkan hewan apakah ini. Sebagian percaya hewan tersebut adalah kambing. Namun banyak ahli kitab menyatakan domba.

Dalam hal ini sangat menarik karena bahasa Al-Quran menggunakan istilah “tebus” (Qs 37:107). Ada petunjuk penting bahwa kisah Nabi Ibrahim menyatakan, “Allah menebus dengan domba.”
Mengapa perlu ada penebusan? Bukankah bisa saja Allah melarang Nabi Ibrahim mengorbankan anaknya dan Ia tidak perlu menggantinya dengan domba?
Inilah petunjuk penting. Hal ini membawa kita pada makna Idul Adha dan qurban yang sesungguhnya.
Idul Adha dan Qurban: Domba Allah
Rupanya kisah pengorbanan Nabi Ibrahim mengingatkan perlu ada qurban domba untuk menebus manusia. Dalam Kitab Taurat dan Injil hal ini jelas mengacu pada Isa Al-Masih.
Isa Al-Masih digambarkan seperti domba. Pengorbanan Isa di atas kayu salib menjadi bukti ketaatan dan kerelaan terbesar.
“Ia [Isa Al-Masih] dianiaya dan ditindas . . . seperti anak domba yang dibawa ke tempat penyembelihan, seperti domba betina yang kelu di hadapan orang yang menggunting bulunya . . .” (Taurat, Yesaya 53:7).

Mungkin hal ini terdengar sangat aneh. Namun mari kita lihat penjelasannya di bagian berikutnya.
Mengapa Perlu Penebusan?
Karena kita semua adalah manusia berdosa. Amal dan perbuatan baik kita tidak akan pernah cukup untuk menutup dosa.
Gambaran dosa adalah seperti hutang. Dan amal baik kita seperti cicilan untuk melunasinya.
Bayangkan seorang janda tua dan miskin dengan tiga anak kecil. Ia berusaha bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk melunasi hutangnya yang sangat besar.
Namun masalahnya selama hidup, ia memiliki semakin banyak kebutuhan. Sehingga ia terus menambah hutang baru.
Akibatnya janda miskin ini terjerat hutang yang sangat banyak. Ia tidak mungkin mencicil lunas hutangnya.
Hal ini akan berlangsung terus, kecuali, jika ada “penebusan” atau pertolongan dari luar. Misalnya, jika tuan rumah tempatnya bekerja rela berkorban membayar hutangnya.
Hutang itu bukan hutang dari sang majikan. Namun ia rela menolong karena mengasihi sang janda tua ini.
Demikianlah Allah mengasihi manusia. Dialah yang menjadi domba pengganti untuk menebus manusia dari dosa. Maka Allah menjelma menjadi manusia dalam pribadi Isa Al-Masih.
“. . . lihatlah Anak domba Allah [Isa Al-Masih], yang menghapus dosa dunia” (Injil, Yohanes 1:29).
Makna Idul Adha dan Qurban: Keselamatan Allah
Jadi, kisah Nabi Ibrahim menunjukkan kepada kita jalan selamat. Bahwa qurban yang sesungguhnya adalah yang Allah sediakan.
Manusia bisa mendapat ampunan Allah bukan sekadar karena amalnya. Tapi perlu dengan rahmat Allah.
“. . . [Qurban Nabi Ibrahim adalah] bayangan dari hal-hal baik yang akan datang . . . karena memang mustahil darah lembu-lembu jantan dan kambing-kambing jantan dapat menghapuskan dosa manusia . . . Oleh kehendak-Nya itulah kita telah disucikan melalui persembahan tubuh Al-Masih, sekali untuk selama-lamanya . . . Jika pengampunan itu sudah sedemikian rupa, maka tidak perlu lagi persembahan karena dosa” (Injil, Surat Ibrani 10:1, 4, 10, 18).
Dengan demikian Allah menyediakan Qurban sejati. Kita mendapatkan penebusan Allah dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa.
Maukah Anda mendapatkan makna Idul Adha dan qurban sehingga beroleh selamat? Mari mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.
Lihat artikel ini dalam bentuk video
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel “Makna Hari Raya Idul Adha dan Qurban Menurut Kitab Suci” Jika Anda berminat, silahkan klik pada link-link berikut:
- Tujuan Idul Adha, Anak Ibrahim Ditebus Dan Keselamatan
- Rahasia Berkah Idul Adha
- Pembersihan Hati Yang Kotor Dengan Dosa
- Mendalami Makna Tersirat Dalam Kurban Idul Adha
- Hikmah Qurban Nabi Ibrahim: “Manusia Mendekat Pada Allah”
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Mengapa Allah memilih “domba jantan” sebagai binatang untuk menebus anak Nabi Ibrahim?
- Siapakah yang dimaksudkan dalam ramalan Nabi Yesaya dan penjelasan Nabi Yahya? Apakah orang sama?
- Mengapa sebagian pakar agama merasa ada hubungan antara “domba jantan” yang Ibrahim korbankan, domba pembantaian di Kitab Nabi Yesaya dan “anak domba Allah” yang disinggung Nabi Besar Yahya Pembaptis? Jelaskanlah jawaban Anda.
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”

Pemberian qurban menjadi tindakan untuk mengorbankan sifat egois dan mementingkan diri sendiri. Mengajar kita untuk rela berbagi kepada yang membutuhkan.
PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected].