
Namun menarik karena ada diskusi di kalangan umat Islam. Yaitu mengenai apakah Al-Quran telah ada dari mulanya atau tercipta kemudian?
Hal ini sangat penting karena mempengaruhi pandangan ketauhidan dalam Islam. Jika Al-Quran ada dari awal bersama Allah, berarti ada dua yang kekal.
Bagaimana sebaiknya kita melihat perbedaan pandangan ini? Mari kita simak pembahasannya. Agar kita mendapat pemahaman mengenai Tauhid yang sesungguhnya
Dalil Ketauhidan dalam Islam dan Kekekalan Al-Quran
Tauhid artinya meyakini keesaan Allah. Sebagai Allah, Ia satu-satunya yang kekal. Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu yang ada di alam ini.
Seluruh umat Islam meyakini Tauhid. Namun dalam hal ini banyak juga yang meyakini bahwa Al-Quran itu kekal. Sehingga terjadi perbedaan pandangan. Mari kita lihat dalil dari kedua pandangan ini.
- Hanya Allah yang kekal.
Pandangan pertama menyatakan hanya Allah yang ada dari mulanya. Sehingga dengan demikian meyakini Al-Quran tercipta kemudian.
Dasar keyakinan ini berasal dari ayat Al-Quran. “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir . . .” (Qs 57:3).
Selain itu prinsip yang sama juga terdapat dalam Hadist. “. . . Allah telah ada dan tidak ada sesuatu pun terjadi sebelum-Nya . . . Allah menetapkan segala sesuatu dalam Alquran . . .” (Shahih Bukhari 6868). - Allah dan Al-Quran sama-sama kekal.
Pandangan lainnya meyakini bahwa Al-Quran sudah ada dari mulanya. Karena telah terdapat pada induk kitab (Lohmahfuz).
“Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lohmahfuz) . . . diturunkan dari Tuhan semesta alam” (Qs 56:77-80).
Umat Islam percaya induk kitab (Lohmahfuz) memang ada dari mulanya. Sehingga Al-Quran menjadi bagian dari sesuatu yang kekal.
Terlebih lagi ada ayat mengatakan Allah menjaga firman-Nya (Qs 15:9). Hal ini menunjukkan kekekalan dari isi firman Allah (Kalimatullah).
Masalah Ketauhidan dalam Islam dan Kekekalan Al-Quran
Masing-masing dari kedua pandangan ini memiliki kelemahan. Ada masalah dasar di dalam kedua pendapat ini.
Contohnya pandangan hanya Allah yang kekal dan Al-Quran tercipta kemudian. Pandangan ini menimbulkan beberapa pertanyaan.
- Jika demikian, kapankah tepatnya Al-Quran diciptakan?
- Apakah pandangan ini mengurangi wibawa Al-Quran menjadi salah satu kitab yang diturunkan dan bukan kitab utama?
Sedangkan pandangan Allah dan Al-Quran kekal juga menimbulkan pertanyaan.
- Mengapa kitab kekal untuk seluruh umat manusia diturunkan dalam konteks Bangsa Arab saja?
- Bukankah hal ini mengusik konsep ketauhidan dalam Islam? Karena dengan demikian ada dua yang mulia dan kekal, yaitu Allah dan Al-Quran.
Perbedaan Pandangan yang Belum Terselesaikan
Memang diskusi mengenai ketauhidan dalam Islam dan kekekalan Al-Quran masih berlangsung sampai sekarang. Berbagai mazhab Islam berbeda pendapat tentang hal ini.
Umumnya Muslim Sunni berpandangan bahwa Al-Quran kekal. Tidak diciptakan dan tidak mempunyai permulaan.
Namun mazhab Mu’tazilah mengatakan Allah ada terlebih dahulu. Menurut mereka masuk akal untuk Allah ada sebelum firman-Nya.

Karena perbedaan pandangan ini, sepanjang sejarah sempat terjadi berbagai konflik tajam. Contohnya pengikut mazhab Mu’tazilah (abad 8-10), banyak yang tewas. Hal ini hanya karena kepercayaan mereka tentang penciptaan Al-Quran.
Bagaimana kita bisa mendapatkan petunjuk untuk hal ini? Mari kita lihat solusinya.
Solusi: Memahami Tauhid yang Sebenarnya
Seorang teman mengatakan masalah Tauhid dan Al-Quran sangat menarik. Dapat dijelaskan dengan konsep Tritunggal umat Nasrani.
Pada awalnya pendapat teman ini terasa aneh dan mengejutkan. Namun kemudian ia menjelaskan maksudnya.
Ia mengatakan masalah ketauhidan dalam Islam dan kekekalan Al-Quran itu seperti pandangan dwitunggal. Yaitu melihat posisi ada dua hal yang kekal dan mulia. Dalam keadaan ini konsep Tritunggal bisa membantu memberikan pemahaman.
Tritunggal bukan berarti bahwa umat Nasrani menyembah tiga Allah. Umat Nasrani tegas percaya Allah itu Esa! Dalam hal ini umat Nasrani setuju konsep Tauhid.
Terdapat dalam Kitab Taurat. “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” (Taurat, Ulangan 6:4). Dan tertulis juga dalam Injil, “Karena Allah itu esa . . .” (Injil, Surat 1 Timotius 2:5).
Tritunggal menjelaskan bahwa Allah yang Esa menyatakan diri dalam tiga pribadi. Yaitu “. . . Bapa [Allah], Firman [Kalimatullah, Isa] dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu” (Injil, Surat 1 Yohanes 5:7). Semuanya satu dzat/ sehakekat dalam keilahian.
Salah satu pernyatan Allah adalah melalui Kalimatullah atau Firman-Nya. Ada kesatuan antara Allah dan Firman-Nya. Sehingga Allah dan Kalimatullah adalah kekal.
Sama seperti perkataan seseorang tidak bisa terpisah dari orangnya. Demikian juga perkataan Allah dan Allah adalah satu. Inilah Tauhid yang sebenarnya.
Memahami Kalimatullah
Karena itu, kita bisa melihat puncak pernyatan Allah adalah melalui Isa Al-Masih. Karena Isa adalah penjelmaan Kalimatullah dan Ruh Allah menjadi manusia.

Inilah dasar pemahaman mengapa umat Nasrani yakin Isa Al-Masih lebih dari sekadar nabi biasa. Isa adalah kebenaran Allah untuk manusia.
“Kalimatullah, Isa Al-Masih telah menjadi manusia. Ia diam di antara kita . . . penuh kasih karunia dan kebenaran” (Injil, Surat Yohanes 1:14, parafrasa).
Melalui Isa, Allah memberikan kebenaran sebagai panduan kehidupan. Allah juga menyatakan kasih-Nya dengan mengampuni dosa manusia.
Tauhid yang Sebenarnya Membawa Keselamatan
Memang ada perdebatan mengenai ketauhidan dalam Islam dan kekekalan Al-Quran. Hal ini masih terus berlangsung sampai sekarang.
Namun yang terutama kita bisa memahami bahwa Allah dan Firman-Nya adalah satu. Dan penjelmaan Firman inilah (Kalimatullah) yang membimbing dan menyelamatkan manusia.
Kita bisa mendapat kebenaran dan keselamatan Allah. Caranya adalah dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.
“Pada zaman dahulu kala, Allah bersabda kepada nenek moyang kita dalam berbagai bentuk dan cara dengan perantaraan para nabi. Tetapi, pada zaman akhir ini Ia bersabda kepada kita dengan perantaraan [Kalimatullah, Isa Al-Masih] . . . Dialah cahaya kemuliaan Allah, perwujudan yang sempurna dari zat Allah. Dialah yang menopang segala sesuatunya dengan kuasa sabda-Nya . . . Ia menghapus dosa-dosa manusia” (Injil, Surat Ibrani 1:1-3).
Maukah Anda mendapatkan kebenaran Allah? Mari mengimani isa Al-Masih.
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Bagaimana persamaan antara masalah Tri-Tunggal Kristen dan Dwi-tunggal Islam?
- Mengapa tak mungkin Allah menciptakan Kalimat-Nya dan Roh-Nya?
- Bagaimana orang dapat menghindari dosa syirik, “Meyakini konsep Tahuid dalam Islam, tetapi satu sisi percaya akan kekekalan Al-Quran”?
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silahkan klik pada link-link berikut:
- Benarkah Bagian Tauhid Dalam Islam Ini Mendukung Tritunggal Nasrani?
- Meluruskan Kesalahpahaman Tentang Pengertian Tritunggal Kristen
- Orang Kristen Menyembah Satu Allah, Bukan Tiga
Video:
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”

Pandangan lainnya meyakini bahwa Al-Quran sudah ada dari mulanya. Karena telah terdapat pada induk kitab (Lohmahfuz).
PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected].