Ada seorang Muslim mempunyai teman baik sejak mereka sama-sama bersekolah. Mereka sering belajar dan beribadah bersama.
Satu saat ia berkata kepada temannya: “Saya merasa agama kita sangat baik. Karena mengajarkan kebersihan. Terlihat dari kewajiban kita berwudhu sebelum shalat.”
Temannya menjawab: “Saya setuju bahwa kebersihan itu memang baik. Namun tahukah kamu apa sebenarnya tujuan berwudhu? Mengapa hal ini menjadi kewajiban penting dalam ibadah agama?”
Saat itulah mereka berdua merenungkannya. Karena selama ini rupanya mereka belum benar-benar paham tujuan berwudhu.
Hal ini juga bisa terjadi kepada banyak umat. Banyak yang berusaha melakukan perintah agama tanpa mengetahui tujuannya.
Apakah Anda paham tujuan berwudhu dan manfaatnya bagi kehidupan? Mari kita simak pembahasannya agar kita bisa mendapatkan berkah-Nya.
Wajib Berwudhu dari Ajaran Agama
Wudhu berasal dari kata wadha’ah yang berarti kebersihan dan baik. Pengertiannya adalah menyucikan anggota tubuh sebelum beribadah menghadap Allah.
Dalil berwudhu terdapat dalam Al-Quran dan Hadist. Sehingga tidak ada keraguan bahwa hal ini adalah kewajiban umat Islam.
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, . . . lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu . . .” (Qs 5:6).
Dari ayat di atas kita dapat melihat bahwa berwudhu adalah tindakan yang dilakukan sebelum shalat. Sehingga umat Islam akan terbiasa melakukannya berulangkali.
Selanjutnya berwudhu menggunakan air bersih. Namun jika tidak ada air, bisa menggunakan tanah atau debu yang bersih.
Cara melakukan wudhu juga dijelaskan. Yaitu tindakan membersihkan anggota tubuh, dengan urutan:
- Membasuh wajah.
- Membasuh kedua tangan hingga siku.
- Mengusap sebagian kepala.
- Membasuh kedua kaki hingga mata kaki.
3 Tujuan Berwudhu
Jadi memang benar bahwa melakukan wudhu terdapat dalam ajaran agama. Namun tidak banyak umat yang mengetahui tujuan berwudhu. Apakah alasannya sehingga hal ini begitu penting?
Agama mengajarkan ada setidaknya tiga tujuan berwudhu.
- Untuk menghadap Allah dengan tubuh yang bersih.
Allah Maha Suci. Sehingga kita perlu menghadap-Nya dengan cara yang paling bersih yang kita mampu lakukan. Salah satunya dengan membersihkan diri dari kotoran jasmani.
Hal ini melambangkan niat tulus agar hati kita juga bisa bersih. Harapannya agar Allah menerima ibadah kita. - Untuk mentaati perintah wajib sebagai prasyarat shalat.
Karena banyak dalil mengatakan bahwa berwudhu wajib sebelum shalat. Sehingga umat tidak bisa shalat jika tidak membersihkan diri.
“Tidak akan diterima shalat yang dilakukan tanpa bersuci . . .” (Sunan Tirmidzi 1).
- Yang terutama: untuk mendapat ampunan dosa.
“. . . barangsiapa berwudhu seperti wudhu’ku ini kemudian dia shalat dua raka’at dan tidak berbicara apapun antara keduanya, maka Allah mengampuni dosanya yang lalu” (Shahih Bukhari 1798).
Tujuan utama untuk melakukan wudhu dan shalat yang benar adalah untuk keselamatan akhirat. Yaitu agar Allah mengampuni dosa, sehingga kita dapat masuk surga.
Dapat Tercapaikah Tujuan Berwudhu?

Karena kebersihan jasmani tidak menjamin kebersihan hati. Banyak orang yang memiliki kebersihan fisik, namun di dalam hatinya ada banyak dosa.
Di dalam hati manusia bisa terdapat banyak kotoran. Ada nafsu, kesombongan, kemarahan, keserakahan, tipu muslihat dan sebagainya. Kita bisa saja mandi berkali-kali, namun tidak menjamin kekotoran hati hilang.
Ada sebuah novel yang menceritakan mengenai seorang pembunuh berantai. Ia secara jasmani tampil sangat rapih dan ramah. Ia begitu bersih dan modis. Sehingga banyak orang tidak menduga bahwa dialah pembunuh yang dicari polisi.
Novel ini menggambarkan betapa kebersihan jasmani tidak berbanding lurus dengan kebersihan hati. Penampilan luar bisa saja menipu.
Demikianlah sulit mendapatkan tujuan berwudhu. Karena Allah yang Maha Suci, sehingga kita tidak bisa menghadap-Nya dengan hati yang kotor, walau badan kita bersih.
Kebersihan Sejati Berasal dari Hati
Kita juga bisa melihat masalah ini dari kisah seorang anak yang diminta ibunya membersihkan botol minum. Anak ini dengan malas melakukannya. Ia sebenamya lebih suka bermain daripada mencuci botolnya.
Akhirnya ia membersihkan sisi luar botol saja. Ia tidak membersihkan sisi dalamnya agar cepat selesai.
Saat ibunya melihat, ia kaget dengan hasilnya. Karena botol tersebut bersih di sisi luar. Namun sisi dalamnya tetap kotor.
Akhirnya sang ibu memarahi anak tersebut. Kemudian ia menasehati bahwa yang terpenting adalah kebersihan dari dalam. Tujuannya agar sehat dan tidak sakit perut saat minum.
Serupa dengan hal ini, Isa Al-Masih pernah menegur para pemuka agama yang munafik. Ia mengatakan mereka tampak baik di luar, namun hatinya penuh kekotoran.
“Celakalah kamu, hai para ahli Kitab Suci . . . hai orang-orang yang munafik! Kamu hanya membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, sedangkan bagian dalamnya penuh dengan rampasan dan ketamakan . . . Bersihkanlah lebih dahulu bagian dalam dari cawan itu maka luarnya pun akan menjadi bersih . . . Bagaimana kamu dapat melepaskan diri dari hukuman neraka?” (Injil, Matius 23: 25-26, 33).
Mendengar penjelasan ini, ada teman saya menanggapi. Ia berkata: “tujuan berwudhu untuk kebersihan jasmani. Hal ini adalah upaya minimal yang bisa kita lakukan sebagai manusia. Namun membersihkan hati sangat sulit! Bagaimana cara melakukannya?”
Cara “Wudhu” Hati

Tapi Allah mampu menolong manusia berdosa. Tanpa pertolongan-Nya kita tidak bisa beribadah kepada Allah yang Maha Suci.
Cara Allah adalah dengan menjelma menjadi manusia. Inilah Pribadi Isa Al-Masih.
Isa yang menunjukkan jalan selamat. Ia juga yang mati di kayu salib untuk menanggung hukuman dari dosa manusia.
Melalui Isa kita mendapatkan pengampunan Allah bagi dosa kita. Sehingga kita bisa mendekat kepada-Nya.
Melalui Isa kita juga mendapatkan ajaran kebenaran kasih Allah. Inilah yang menjadi panduan kehidupan. Sehingga pada akhirnya kita akan bisa masuk ke surga-Nya.
“Sebab semua orang telah berdosa dan tidak dapat mencapai kemuliaan Allah. Tetapi, karena anugerah-Nya, mereka dibenarkan [mendapat hati bersih] dengan cuma-cuma melalui penebusan di dalam Isa Al-Masih” (injil, Surat Rum 3:23-24).
Mendapatkan Tujuan Berwudhu yang Sejati
Kebersihan manusia yang terutama adalah dari hati. Allah menyediakan jalan-Nya. Kita mendapatkan kebersihan hati dengan cara mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.
“Isa Al-Masih telah menyerahkan diri-Nya demi kita untuk menebus kita dari segala kejahatan dan untuk menyucikan bagi diri-Nya suatu umat milik-Nya sendiri yang rajin berbuat baik” (Injil, Surat Titus 2:14).
Tujuan berwudhu untuk kebersihan fisik adalah sangat baik. Namun kebersihan hati hanya dicapai melalui pertolongan Allah dalam Isa Al-Masih.
Maukah Anda mendapatkan kebersihan hati? Mari mengimani Isa Al-Masih!
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel “Apa Sebenarnya Tujuan Kita Saat Berwudhu Sebelum Sholat?” Jika Anda berminat, silahkan klik pada link-link berikut:
- Hati yang Kotor Menghambat Allah Berkenan pada Kita
- Apa Tujuan dan Manfaat Sholat Tahajud Bagi Mukmin?
- Pembersihan Hati yang Kotor dengan Dosa
- Wanita Haid Dilarang Sholat Oleh Nabi Islam
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Menurut Saudara, apa tujuan kita berwudhu yang sebenarnya?
- Manakah yang lebih penting, kebersihan hati ataukah fisik yang Allah kehendaki? Jelaskan!
- Ibadah dan doa kita diterima Allah jika kita mengaku dosa dan percaya kepada Isa Al-Masih. Apa yang Saudara akan lakukan, jika ini satu-satunya cara agar berkenan kepada Allah?
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”
Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, Silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini. Atau WA/SMS ke: 0812-9530-4930



PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected].