• Skip to main content
  • Skip to header right navigation
  • Skip to site footer
Isa Dan Islam

Isa Dan Islam

Dialog Agama - Isa dan Islam

  • Maksud Situs Ini
    • Tentang Kami
    • Isa dan Al-Fatihah
    • Daftar Artikel
  • Jalan ke Surga
  • Artikel
  • Media
  • Kitab Suci
  • Hubungi Kami

Abdi Allah atau Sahabat Allah, Kedudukan Mana yang Terbaik?

Isa Dan Islam > Artikel > Kepercayaan Orang Islam > Sifat Allah > Abdi Allah atau Sahabat Allah, Kedudukan Mana yang Terbaik?
10 Juni 2019 | 56 Komentar

seorang-wanita-asisten-rumahtangga-sedang-mengepel-lantai-sebagai Simbol abdi Allah yang tidak memiliki hubungan dekat dengan AllahDisamping menerima nama “Muhammad” penganut agama Islam mencintai nama dari kata Arab “Abd al.” Contohnya: Abdul, Abdullah, Abdussalam, Abdurrahman, Abdulkarim, Abdul Mahmud, dll.  Umat Islam menyayangi nama ini karena menjelaskan hubungan Mukmin dengan Allah, yaitu sebagai panggilan abdi Allah atau budak-Nya.

Tetapi apakah “abdul” Allah, panggilan abdi Allah, menggambarkan relasi termulia antara Allah dan umat-Nya. Apakah ada panggilan-panggilan lain yang mengemukakan hubungan yang lebih intim dan mulia daripada “abdul” Allah?

Panggilan Allah untuk Nabi Ibrahim

Dalam Kitab Para Nabi, Ibrahim dipanggil “Sahabat Allah.” Bukankah lebih hebat menjadi “Sahabat Allah” daripada “Abdi Allah”?

Anda menginginkan sahabat yang dekat, yang setia, yang mengerti hati Anda, bukan? Betapa indahnya kalau kita mempunyai “Sahabat sejati yang lebih akrab dan erat dari saudara sekandung” (Taurat, Amsal Salomo 18:24). Lebih hebat lagi bersahabat dengan Allah.

Isa Al-Masih bersabda, “Aku tidak memanggil kamu hamba [abdi] . . . Aku memanggil kamu Sahabat” (Injil, Rasul Besar Yohanes 15:15). Jadi pengikut-Nya menerima panggilan “Sahabat.” Kalau Anda menginginkan hubungan lebih intim dengan Allah, email kami

dua-orang-anak-kecil-sedang-duduk-sambil-saling-merangkulMau Jadi “Abdi” Kakak atau “Adik Kesayangan” Kakak?

Kita senang mempunyai kakak yang baik dan mencintai kita, bukan?  Apakah lebih baik disebut “adik” kakak atau “abdi” kakak? Siapa ingin kedudukan sebagai “abdi” kakak?

Menurut Injil Allah, Isa Al-Masih memakai metafora “kakak” untuk menjelaskan hubungan-Nya dengan pengikut-Nya. Ialah “kakak” yang penuh kasih, maha-kuasa dan sedia menolong mereka.  Karena Dia “kakak,” maka para pengikut menjadi adik-Nya (Injil, Surat Ibrani 2:11).

“Abdi” Allah atau “Anak” Allah?

“Abba” adalah kata Armaik kuno. Artinya dalam hampir semua bahasa Semitik ialah Bapa. Malahan istilah “Abba” mungkin salah satu kata yang terkenal di dunia. Derivatif-derivatif ialah papa, pa, abuna, abu, abbas, baba.  Di bahasa Indonesia: bapak, pak, ayah.

Yang aneh, Isa Al-Masih menyuruh pengikut-Nya, pada waktu berdoa (salat), memulai dengan kata, “Bapak [Abba] kami . . .” Kalau membaca Injil, tidak mengherankan bahwa berulang kali pengikut Isa Al-Masih menerima panggilan “anak Allah.” Kalau Anda kurang senang dengan panggilan Bapa untuk Allah, mengemail kami.

ayah-menggendong-anak-di-pantaiKedudukan yang Anda Inginkan: Abdi Allah atau Sahabat-Nya?

Mungkin Anda puas dengan panggilan Abdi/budak, ataupun pembantu Allah. Tetapi tidak salah mempertimbangkan keindahan menerima panggilan tambahan seperti “Sahabat” Isa Al-Masih, “Adik” Isa Al-Masih apalagi “anak” Allah Bapa. Sebetulnya semua panggilan ini menyatakan kedudukan dan hubungan kita dengan Allah, bukan?

Kebanyakan pengikut Isa Al-Masih menyukai panggilan “Anak Allah.” Setiap hari mereka boleh mendekati Allah, mendengarkan suara-Nya, menikmati kasih-sayang-Nya. Bapak mereka maha-kuasa dan penuh kasih-sayang. Sebagai Bapak, Ia melindungi mereka serta menjamin mereka rumah di surga.

Kalau Anda rindu menjadi “Anak Allah” tidak sulit. Hanya berdoa, “Allah, karena saya percaya kepada Isa Al-Masih sebagai Juruselamat saya, jadikanlah saya anak Dikau!”

[Staf Isa dan Islam – Untuk masukan atau pertanyaan mengenai artikel ini, silakan mengirim email kepada Staff Isa dan Islam.]

 


Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca

Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:

  1. Kalau Saudara anggap “abdi” Allah panggilan terbaik untuk penganut agama, coba jelaskan keunggulannya atas panggilan “anak Allah,” “adik Isa Al-Masih” atau “Sahabat Allah” dan “Sahabat Isa Al-Masih.:”
  2. Apakah salah, tidak masuk akal untuk Allah memanggil pengikut-Nya sebagai anak-anak-Nya? Jelaskan jawaban Saudara.
  3. Antara panggilan “Sahabat Isa,” “Adik Isa” dan “Anak Allah”, mana yang paling disukai Saudara?

Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.

Artikel Terkait

Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel “Abdi Allah atau Sahabat Allah, Kedudukan Mana yang Terbaik?“ Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:

  1. Budak Allah atau Anak Allah, Mana yang Lebih Baik?  
  2. Lebih Baik Hidup Sebagai “Anak” Ataukah “Hamba” Allah?
  3. Pewaris Surga: Untuk “Hamba Allah” [Islam] atau “Anak Allah” [Kristen]
  4. Mengapa Sebaiknya Muslim mengenal Allah Sebagai “Bapa’

Video:

  1. Mengapa Isa Disebut Anak Manusia?

Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”

 

Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini. atau SMS/WA ke: 0812-9530-4930

 

Kategori: Kepercayaan Orang Islam, Sifat Allah

Bagikan Artikel Ini:

Share on Facebook Share on X (Twitter) Share on WhatsApp Share on Email Share on SMS

PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR

Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!

Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected].

Subscribe
Beritahulah

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

56 Comments
Paling lama
Terbaru
hakkullah
11 Juni 2019 7:07 am

~
“Dalam Kitab Para Nabi, Ibrahim dipanggil “Sahabat Allah.” Bukankah lebih hebat menjadi “Sahabat Allah” daripada “Abdi Allah”?”

Respon:
Begitu saja anda tidak mengerti, shahabat Allah, sudah pasti Abdullah. Abdullah belum tentu shahabat. Kita ini semua budak Allah. Ada yang taat dan ada yang durhaka (Injil, Rasul Besar Yohanes 15:15). Maksudnya, orang itu shaleh. Jadi bukan hanya sekedar budak saja, tapi diangkat derajatnya menjadi orang shaleh, maka panggilannya menjadi shahabat. Kalau bukan shahabat, namanya apa? Musuh. Jadi, shahabat lawannya musuh. Dalam Al-Quran “‘aduwwullah” musuh Allah, shahabat dalam Al-Quran “waliyullah”. Jadi budak itu ada nama-namanya. Begitu cara memahaminya.

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
13 Juni 2019 6:41 am
Balasan ke  hakkullah

~
Saudara Hakkulah,

Artikel di atas menjelaskan tentang hirarki hubungan. Ada perbedaan mendasar antara sahabat dengan budak. Kedudukan sahabat tidak sama dengan budak. Sahabat memiliki relasi yang lebih dekat, bahkan sahabat merupakan tempat untuk mencurahkan isi hati. Amat berbeda dengan budak. Budak memiliki kedudukan tuan-hamba. Artinya hamba tidak memiliki relasi yang dekat karena budak merupakan pekerja.

Pertanyaannya adalah apakah budak dapat memiliki relasi yang dekat dengan tuannya dan memiliki hak untuk mendengarkan isi hati sang tuan? Bagaimana dengan sahabat menurut saudara? Kami ingin mengetahui konsep saudara mengenai hal ini.
~
Solihin

Balas
hakkullah
15 Juni 2019 7:15 am

~
Antum ngerti tidak arti budak itu? Kalau gak ngerti kagak usah ngomong tentang Islam, nanti jadi fitnah. Saya kasih ilmu sedikit buat antum. Abdun itu artinya hamba. Kalau budak, bahasa arabnya aiman.

Hamba bahasanya lebih lembut daripada perkataan “budak”, makanya Allah sebutkan dalam Al-Quran “aimanukum” budak-budakmu, bukan ‘a’badun. Kalau dilihat dari segi pencipta, kita tetap budak. Kagak usah malu dibilang budak, emang kita budak. Kalau hubungan manusia dengan manusia, kagak bisa. Namanya kita direndahkan harga diri kita. Kalau dengan Allah masa kita malu, kita emang rendah, Allah itu Maha Tinggi. Yang mengangkat derajat kita adalah Allah. Antum jangan terlalu gengsi dengan Tuhanmu.

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
17 Juni 2019 7:56 am
Balasan ke  hakkullah

~
Saudara Hakkulah,

Jika Al-Quran menyebut umat Islam sebagai budak Allah. Kitab Injil menuliskan bahwa Allah tidak menyebut umat-Nya sebagai budak. Allah tidak memandang rendah manusia. Allah menyebut umat-Nya sebagai anak Allah. Anak berarti memiliki posisi dan hak sebagai anak. Anak berarti memiliki hubungan yang akrab dengan Bapanya.

Bahkan Isa Al-Masih menyebut para pengikut-Nya sebagai sahabat, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat…” (Injil, Rasul Besar Yohanes 15:15).
~
Noni

Balas
hakkullah
15 Juni 2019 7:37 am

~
Anda lupa, shahabat lawannya musuh. Baik lawannya jahat. Hidup ini berpasang-pasangan. Mana pasangannya sahahabat? Anda tidak paham isi Alkitab. Anda cuma ikut-iktan saja. Apakah musuh bisa dikatakan shahabat? Tidak bisa bedakan mana baik dan buruk, kalau semua dianggap baik. Tidak melihat kenyataan. Jangan di rumah saja, Pak. Bacalah situasi yang ada, jangan jadi buta, tidak mengenal masyakat dan lingkungan. Semoga anda mau belajar itu. Jadilah orang pintar dan jangan jadi orang bodoh.

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
18 Juni 2019 7:08 am
Balasan ke  hakkullah

~
Saudara Hakkulah,

Saudara menyampaikan tentang dikotomi. Tentu itu dapat dipahami. Namun, pernyataan saudara tidak menjawab pertanyaan kami. Kami mengajukan pertanyaan sederhana kepada saudara dan mudah. Pertanyaannya adalah apakah budak dapat memiliki relasi yang dekat dengan tuannya dan memiliki hak untuk mendengarkan isi hati sang tuan? Bagaimana dengan sahabat menurut saudara? Bagaimana saudara menjelaskan hal ini?
~
Solihin

Balas
Avis islam sampai mati
16 Juni 2019 2:37 pm

~
Memang salah budak kita anggap sahabat. Di agama Islam dan pandangan Allah SWT semua sama, tidak ada perbedaan apa pun itu, termasuk budak.

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
18 Juni 2019 7:10 am
Balasan ke  Avis islam sampai mati

~
Saudara Avis,

Ada perbedaan mendasar antara kata ‘menganggap’ dengan realita sesungguhnya. Tidak pernah tuan menganggap budak sebagai sahabat bila memandang dari aspek sejarah. Hanya Isa Al-Masih yang menyatakan bahwa kita adalah sahabat-Nya. Bukankah ini indah? Bila saudara menyatakan bahwa Allah SWT memandang semua sama, maka kami ingin mengetahuinya. Tertulis dimanakah dalam Al-Quran bahwa Allah SWT memandang semua manusia sama? Berharap saudara mampu membuktikan, dan bukan berasumsi.
~
Solihin

Balas
silau
17 Juni 2019 10:03 am

~
To: Admin Noni,

Saya ingin bertanya kenapa dalam PL manusia disebut hamba Tuhan (Mzm 132:10, Mzm 113:1) tetapi dalam PB disebut “anak” atau “sahabat” Tuhan? Apakah natur Tuhan terhadap manusia bisa berubah-ubah?

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
18 Juni 2019 7:44 am
Balasan ke  silau

~
Saudara Silau,

Saudara memberikan pertanyaan yang baik sekali. Sesungguhnya Allah memandang manusia sebagai sahabat. Misal, Abraham. Allah menyampaikan rencananya kepada Abraham tatkala ingin menghukum Sodom dan Gomora (Taurat, Kejadian 18:16-33). Dengan demikian, kita memerhatikan bahwa Allah memandang manusia berharga dalam setiap zaman. Hal ini tidak ada hubungan dengan natur Allah.

Kami bertanya kepada saudara. Bagaimana dengan Allah SWT? Apakah Allah SWT memandang manusia sebagai sahabat atau budak? Mengapa?
~
Solihin

Balas
silau
18 Juni 2019 9:11 am

~
Solihin: “Sesungguhnya Allah memandang manusia sebagai sahabat. Misal, Abraham. Allah menyampaikan rencananya kepada Abraham tatkala ingin menghukum Sodom dan Gomora (Kejadian 18:16-33)… Kami bertanya kepada saudara. Bagaimana dengan Allah? Apakah Allah memandang manusia sebagai sahabat atau budak?”

Res: Abraham bukan sahabat Allah. Tiada sekutu bagi Allah. Tuhan melebihkan Abraham kerana dia adalah seorang hamba yang baik dari sisi Tuhan. Di Al-Quran, semua manusia adalah hamba Tuhan yang diuji dan mempunyai tanggung-jawab tertentu. Yang baik disukai Tuhan yang jahat dikutuk Tuhan. Tiada istilah anak atau sahabat Tuhan. Semua manusia tetap berstatus hamba tidak akan berubah selamanya.

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
19 Juni 2019 2:12 pm
Balasan ke  silau

~
Saudara Silau,

Adalah hak saudara untuk menyatakan bahwa Abraham bukan sahabat Allah. Sebab Taurat menyatakan bahwa Allah menyampaikan apa yang menjadi rencananya kepada Abraham. Dengan demikian, kita mengetahui bahwa Abraham bukan budak, melainkan sahabat. Karena itu, agar diskusi ini bersifat mendalam, maka kami berharap saudara menjawab pertanyaan kami. Bagaimana dengan Allah SWT? Apakah Allah SWT memandang manusia sebagai sahabat atau budak? Mengapa?
~
Solihin

Balas
hakkullah
18 Juni 2019 9:38 am

~
Saya tidak menjelaskan itu, tapi saya menjelasan hukungan kita dengan Maha Pencipta. Sahabat itu pengertian ada tiga: sahabat rasul, sahabat sesama kita dan sahabat kepada Allah. Anda tidak bisa mendefinisikan semua sama. Pertanyaan anda harus mengerti itu. Apakah budak punya relasi dekat dengan tuannya? anda tahu fungsi budak? Apakah Allah mengeluh pada kita?

Kita tidak malu dibilang budak Allah, kenapa kita harus malu? Sesama manusia kita diberikan kebebasan dan merdeka, tapi kebebasan ada aturannya. Apakah kita sudah merdeka? Mengapa masih ada aturan? Anda harus paham, fungsi budak itu apa. Anda tidak mengerti fungsi budak itu. Yang anda tahu, budak seperti itu.

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
19 Juni 2019 2:16 pm
Balasan ke  hakkullah

~
Saudara Hakkulah,

Kami menghargai pendapat saudara di atas. Namun, pendapat tersebut tidak menjawab pertanyaan kami. Pertanyaannya adalah apakah budak dapat memiliki relasi yang dekat dengan tuannya dan memiliki hak untuk mendengarkan isi hati sang tuan? Bagaimana dengan sahabat menurut saudara? Bagaimana saudara menjelaskan hal ini?
~
Solihin

Balas
Abdullah
18 Juni 2019 2:43 pm

~
Menarik sekali. Dari sini kita mengetahui dengan jelas, bahwa Islam sangat detil dan konsisten dalam menjelaskan hubungan vertikal dan horizontal antara pencipta & ciptaan, atau antara ciptaan dengan ciptaan lainnya. Inilah konsep penyembahan yang sempurna yang dibawa Islam ke seluruh umat manusia.

Dan bukankah akan lebih indah jika kata-kata “Bapa” digantikan dengan “Rabb” yang secara struktural lebih jelas perbedaannya antara pencipta dengan makhluk (ciptaan)? “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS. az-Zukhruf :87).

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
19 Juni 2019 2:19 pm
Balasan ke  Abdullah

~
Saudara Abdullah,

Kami menghargai pendapat saudara di atas bahwa Islam konsisten dengan hubungan vertikal dan horizontal. Namun, konsistensi tersebut tidak memiliki dampak bila tidak ada relasi yang dekat dengan Allah. Memanggil Allah dengan sebutan ‘Bapa’ memiliki kedekatan personal yang amat dekat. Amat berbeda memanggil Allah SWT dengan ‘rabb’. Panggilan demikian menegaskan tentang adanya jarak antara Allah SWT dengan manusia.

Kami bertanya kepada saudara. Menakah yang lebih dipilih oleh saudara, dipanggil budak Allah atau anak Allah? Mengapa?
~
Solihin

Balas
hakkullah
19 Juni 2019 7:01 pm

~
“Apakah budak dapat memiliki relasi yang dekat dengan tuannya dan memiliki hak…”

Respon: Dalam Islam, masing-masing ada hak. Sedang dalam agama Kristen, budak tidak memiliki hak apapun, karena mereka mengikuti pendapat internasional. Kita bisa bicara dengan budak, bisa mengeluarkan isi hatinya. Kedudukan budak dengan kita di hadapan Allah sama. Makanya datang Islam, mengangkat derajat budak, bahkan diperintahkan membebaskan budak. Jadi pertanyaan anda ngawur. Pengajuan pertanyaan anda itu, masing-masing memiliki pendapat. Yang kita bahas itu adalah kita dengan Maha Pencipta. Itu lebih penting daripada pertanyaan anda yang penuh dengan berbeda-beda pendapat. Jadi harus tahu, apa fungsi budak?

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
21 Juni 2019 9:49 am
Balasan ke  hakkullah

~
Saudara Hakkulah,

Kami menghargai pendapat saudara. Walaupun tulisan saudara di atas masih bersifat asumsi sebab belum ada bukti bahwa Islam memandang budak sama dengan tuan. Faktanya, budak diperlakukan tidak semestianya di Arab. Bagaimana mungkin saudara menyatakan bahwa budak dan tuan sama? Jika demikian, mengapa nabi saudara memperlakukan budak sebagai wanita yang tidak baik (Qs 33:50)? Mohon pencerahan.
~
Solihin

Balas
Abdullah
20 Juni 2019 4:57 pm

~
Saudara Solihin,

Saya setuju sekali jika kita harus menjaga & menjalin relasi hingga sangat dekat dengan Allah. Namun dalam hal ini kita juga perlu mempertimbangkan etika dan porsi dalam hubungan, apalagi porsi ini untuk pencipta kita. Menjawab pertanyaan Anda, saya memilih menjaga porsi yang tepat dengan sebutan “Rabb” & “Hamba-Nya”.

Saya berikan permisalan sederhana seperti ini:
• Bagaimana menurut Anda, panggilan yang baik kepada mertua/orang tua/guru/bos dengan kata “cuy” atau “bro” atau apapun yang menunjukkan kedekatan kita dengan mertua/orang tua/guru/bos kita? Tepatkah porsinya?
• Mana yang lebih indah, jika kita memanggil mereka dengan “Pak” atau “Bu” atau yang semisal (porsi) nya?

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
21 Juni 2019 9:52 am
Balasan ke  Abdullah

~
Saudara Abdullah,

Menarik sekali pendapat saudara di atas. Analogi yang digunakan saudara untuk membandingkan panggilan kepada Allah dan kepada manusia tidak tepat. Kami tidak memanggil Allah dengan sebutan coy, bro, atau yang lainnya. Sebaliknya, kami memanggil Allah dengan sebutan ‘Bapa’. Suatu sebutan yang menunjukkan kedekatan. Bagaimana dengan Allah SWT? Mengapa saudara lebih memilih dipanggil budak Allah?
~
Solihin

Balas
Gandhi Waluyan
22 Juni 2019 5:58 am

~
Saya heran dengan Kristen, dengan PD mengoreksi agama orang tanpa introspeksi agama sendiri. Abdu/hamba Allah itu menunjukkan kedudukan manusia yang rendah dan lemah di hadapan sang maha kuasa namun lebih tinggi dibandingkan derajat hewan. Nabi Ibrahim disebut sahabat, bandingkan dengan Muhammad Kekasih Allah (Habiballah).

Yang sangat hina itu umat Kristen disebut binatang oleh Tuhan, yaitu domba. Yang lebih miris Yesus menyebut pengikutnya di luar Israel sebagai anjing. Ini fakta tertulis di Alkitab. Hamba memberikan pengertian bahwa kita hanya boleh mengabdi kepada Allah dengan kesadaran sebagai manusia berakal. Tidak boleh kepada selain Dia. Kalau binatang adalah makhluk hina yang tidak punya akal. Sekarang lebih baik hamba atau anjing?

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
29 Juni 2019 12:16 pm
Balasan ke  Gandhi Waluyan

~
Saudara Gandhi,

Tanpa menyebutkan istilah hamba, maka manusia telah menyadari bahwa derajatnya lebih rendah dibandingkan Allah. Namun, Islam meyakini bahwa Muslim hanya sebatas hamba yang tidak memiliki relasi dan hak apapun, sehingga Muslim tidak memiliki relasi yang dekat dengan Allah SWT.

Amat berbeda dengan pengikut Isa Al-Masih. Isa Al-Masih menggunakan metafora domba karena mendapatkan perhatian dari tuan, yaitu sang pemilik domba. Ini hanya sebuah metafora. Demikian juga kata ‘anjing’ tidak disematkan pada umat di luar bangsa Israel. Sebaliknya, istilah itu hanya merupakan metafora. Tentu Isa Al-Masih pun tidak memandang wanita tersebut sebagai anjing. Faktanya, Isa Al-Masih menolong wanita tersebut. Bagaimana dengan Allah SWT? Mengapa Allah SWT menganggap Muslim sebagai hamba, bukan sebagai makhluk yang disayangi layaknya seperti anak?
~
Solihin

Balas
hakkullah
22 Juni 2019 9:54 am

~
Contohnya? Seharusnya anda memberikan contohnya bukan dugaan. Saya sudah terangkan tentang sunnah. Contohnya, Shofiah dari tawanan perang yang dimiliki beliau saw, bagaimana beliau saw memperlakukan Shafiah. Tidak ada dalam Al-Quran, adanya di dalam sirah, namanya disebut sunnah. Al-Quran hanya menjelaskan hukum saja. Ini hukumnya begini dan begitu. Contohnya ada dalam sirah.

Kita bisa memahami Al-Quran itu karena ada contohnya, bukan dugaan. Kadang-kadang Allah tidak memberikan contohnya, tapi memberikan gambaran saja. Contohnya ada dalam diri Rasulullah saw dan sahabatnya yaitu dengan membaca sirahnya. Al-Quran tidak lepas dari hadits, Al-Quran dan hadits tidak lepas dari sirah. Ini bukan asumsi.

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
29 Juni 2019 12:19 pm
Balasan ke  hakkullah

~
Saudara Hakkulah,

Kami telah mengutip ayat Al-Quran untuk menunjukkan perlakuan dan sikap nabi saudara terhadap budak. Bila saudara meminta contoh konkret, maka kami tidak menemukan hal itu dalam Al-Quran. Sebab Al-Quran dianggap sebagai perkataan Allah SWT, maka seharusnya Al-Quran menjelaskan secara kronologis. Apa yang disampaikan oleh saudara merupakan peristiwa yang dicatat dalam hadits. Sekalipun saudara mengaburkan peristiwa sesungguhnya dari kisah tersebut.

Dengan demikian, kami berharap saudara dapat menjawab pertanyaan kami secara lugas dan jelas. Bagaimana mungkin saudara menyatakan bahwa budak dan tuan sama? Jika demikian, mengapa nabi saudara memperlakukan budak sebagai wanita yang tidak baik (Qs 33:50)? Mohon pencerahan.
~
Solihin

Balas
Jesus Park
25 Juni 2019 10:39 am

~
Hakkulah,
Jadi saudara setuju jika saudara dan Muslim adalah budak allah Islam, tapi kami tidak setuju menjadi budak allah Islam. Karena jika kami menerima Isa maka kami sudah ditetapkan menjadi anak Allah (secara roh, bukan allah Islam beranak). Wajar jika budak tidak diberi kebebasan sehingga allah Islam sesukanya menyesatkan siapa saja yang dikehendaki. Bagaimana?

Avis,
Apakah benar allah Islam menganggap budak setara? Saudara perlu buktikan, bukan klaim.

Silau,
Dalam PL, itu adalah nyanyian bukan menjadikan manusia sebagai hamba. Jadi sebaiknya sebelum menuduh, mengapa saudara tidak membaca PL? Apakah saudara takut membaca Alkitab, atau ada larangan dari ulama saudara?

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
29 Juni 2019 12:26 pm
Balasan ke  Jesus Park

~
Saudara Park,

Sesungguhnya Allah tidak pernah memandang bahwa manusia adalah budak. Sebaliknya, konsep budak hanya dipahami karena situasi pada masa itu. Sehingga nampaknya nabi Islam memahami bahwa Allah SWT akan memandang manusia sama seperti budak. Amat berbeda dengan Isa Al-Masih yang memandang manusia sebagai ciptaan yang patut disayangi seperti anak. Terima kasih.
~
Solihin

Balas
Jesus Park
27 Juni 2019 9:08 am

~
Abdullah,
Logika saudara terbalik, tentu saja memanggil Bapa menjadi kita lebih dekat dengan Tuhan, jadi walaupun kita dekat dengan Bapa bukan berarti kita tidak menghormati dan mengasihi, dan jika kita berbuat salah Bapa tetap membimbing. Berbeda dengan rabb, kita seperti tunduk dan patuh seperti budak mengikuti kehendak tuannya, dan jika budak menolak perintah maka langsung dihukum (cambuk, dibinasakan, dll).

Gandhi,
Domba itu istilah untuk orang tersesat, bukan berarti kami adalah domba (hewan), tapi kami diterima sebagai anak Allah. Budak tetaplah budak, jika hewan disayang oleh tuannya, bukankah hewan itu lebih diperhatikan dibanding budak? Itu perbedaan anak dan budak. Kami selalu bertanya pada muslim, tapi banyak muslim menjawab tanpa data dan mengimani agamanya sesuai dengan keinginannya. Tentu saja tujuannya bukan mengoreksi, hanya minta jawaban yang sesuai fakta. Misal, nabi islam kekasih allah islam, tapi allah islam tidak pernah mau bertemu dengan nabi islam.

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
29 Juni 2019 12:28 pm
Balasan ke  Jesus Park

~
Saudara Park,

Tepat sekali yang disampaikan oleh saudara bahwa Allah tidak pernah memandang manusia sebagai hewan atau binatang. Istilah domba atau anjing merupakan metafora, bukan dalam arti sebenarnya. Kami berharap saudara Gandhi dapat bersikap jujur dalam membaca ayat-ayat Alkitab. Terima kasih.
~
Solihin

Balas
hakkullah
28 Juni 2019 10:13 am

~
Memangnya Allah punya anak? Lebih baik dipanggil budak daripada anak? Allah tidak punya anak, atau keturunan. Istilah apapun tidak dibenarkan walaupun anda menjelaskan seperti apapun. Tetap saje tidak boleh panggil kata anak. Maka Allah ganti bahasa itu yang lebih baik dan lebih sopan yaitu hamba. Istilah “anak” kurang hajar terhadap Allah. Anak itu dinisbatkan kepada istilah Hamba Allah. Maka istilah “anak” tidak sopan dan tidak tidak menghormati ALlah. Kalau budak, masih tidak kategori tercela. tapi kalau sudah panggil “Anak Allah” istilah ini sangat tercela sekali. Dapat dipahami?

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
29 Juni 2019 12:30 pm
Balasan ke  hakkullah

~
Saudara Hakkulah,

Bila Allah berkenan memanggil saudara dengan sebutan ‘anak’, mengapa saudara menolaknya? Bukankah ini menandakan saudara menolak panggilan dan tidak taat pada Allah? Bukankah ini pun menandakan bahwa saudara adalah budak yang sombong atau arogan? Bagaimana dengan pertanyaan kami? Bagaimana mungkin saudara menyatakan bahwa budak dan tuan sama? Jika demikian, mengapa nabi saudara memperlakukan budak sebagai wanita yang tidak baik (Qs 33:50)? Mohon pencerahan.
~
Solihin

Balas
hakkullah
29 Juni 2019 1:01 pm

~
“Anak diartikan Allah Hamba Allah. Istilah anak adalah keburakan, tidak pantas istilah itu dipakai walaupun maksudnya baik. Itu bahasa kasar, tidak bagus (Qs 33:50)?”

Respon: Contohnya ada? Kasih contoh, pak. Ternyata tidak ada contohnya rasulullah memperlakukan budak tidak wajar. Anda mencari-cari contoh dengan pernyataan, itu namanya bukan contoh. “Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang fasiq” contohnya: seperti Abdullah bin Ubay, bagaimana ceritanya. Ceritakan kisahnya. Itu namanya contoh, bukan memberikan contoh dengan pernyataan. Tunjukkan contoh pada ayat itu? Lewatkan saja anda tidak bakal bisa menemukan jawabannya. Saya tegaskan budak itu tidak selalu negatif.

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
4 Juli 2019 6:07 am
Balasan ke  hakkullah

~
Saudara Hakkulah,

Kami tidak tahu saudara menanggapi pernyataan siapa dengan pernyataan “Anak diartikan Allah Hamba Allah. Istilah anak adalah keburakan, tidak pantas istilah itu dipakai walaupun maksudnya baik. Itu bahasa kasar, tidak bagus.” Sebab kami memeriksa pernyataan tersebut tidak ada. Bagaimana dengan pertanyaan kami? Bagaimana mungkin saudara menyatakan bahwa budak dan tuan sama? Jika demikian, mengapa nabi saudara memperlakukan budak sebagai wanita yang tidak baik (Qs 33:50)? Mohon pencerahan.
~
Solihin

Balas
hakkullah
4 Juli 2019 10:09 am

Bagaimana mungkin saudara menyatakan bahwa budak dan tuan sama?
respon: pertanyaan anda tidak jelas, sama apaannya?. sama haknya, sama kedudukan atau sama kewajiban, sama apaannya? Yang jelas dong pertanyaannya..kalau kedudukan dunia, jelas beda. ada orang kaya ada orang miskin, ada bos ada karyawan. kan, saya sudah bilang hubungan kita dng Allah adalah sama. Tuan dan budak sama-sama melaksanakan kewajiban yaitu shalat, tidak ada perbedaan antara tuan dengan budak. Kita dihadapan Allah rendah, tidak usah gengsi dibilang budak. Dari segi hak, tidak boleh merendahkan orang lain meskipun pekerjaannya tukang sampah. Hak itu sudah diatur ALlah, budak saja dibelain Allah. Begitu saja tidak paham.

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
6 Juli 2019 6:55 am
Balasan ke  hakkullah

~

Sdr. Hakullah,

Saudara mengakui bahwa hak budak dan tuan tidak sama di dunia ini, demikian juga hak budak dan hak anak berbeda di dunia. Sama halnya hak budak dan anak berbeda juga dihadapan Allah. Sekiranya Allah mau mengangkat saudara dari budak menjadi anak, apakah saudara bersedia?

~

Juni

Balas
Desmond
6 Juli 2019 12:06 pm

~
Saya sangat setuju dengan thread ini. Selama saya menjadi Nasrani, saya belajar bahwa Bapa menganggap kita sebagai anak-Nya, bukanlah budak-Nya. Kenapa Ia menanggalkan kemuliaanNya, dan turun ke dunia menjadi sama seperti manusia (Isa Al-Masih), dan rela menjadi ‘korban bakaran’ di atas kayu salib? Karena Ia sangat mencintai kita, kita ini adalah anak-Nya.

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
9 Juli 2019 9:41 am
Balasan ke  Desmond

~
Saudara Desmond,

Banyak orang menyebut Allah adalah mahakasih. Tetapi banyak orang pula yang tidak memahami bagaimana kasih Allah diwujudkan secara nyata dan konkret kepada manusia untuk kehidupan kekal di akhirat. Itu sebabnya, hanya Isa Al-Masih yang membuktikan sifat mahakasih Allah tersebut karena Dia adalah Allah. Terima kasih.
~
Solihin

Balas
hakkullah
6 Juli 2019 3:34 pm

~
“Hak budak dan tuan tidak sama di dunia ini.”

Respon: Anda salah tanggap: Jabatan atau kedudukan beda. Apakah orang bodoh sama dengan orang berilmu? Apakah sama orang miskin dengan orang kaya? Orang kaya dan orang miskin beda. Apa yang beda? Orang miskin punya hak terhadap orang kaya, dan orang kaya memiliki kewajiban yaitu menyantunin atau membantu orang miskin. Budak juga sama. Budak punya hak untuk diperlakukan dengan baik, tapi punya kewajiban, yaitu mentaati tuannya kecuali dalam hal maksiat. Tuan akan dipertanggungjawabkan di hadapan ALlah, kalau budaknya tidak diperlakukan dengan baik. Binatang peliharaan saja tidak boleh dikasari apalagi manusia. Lebih tidak boleh lagi.

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
9 Juli 2019 9:45 am
Balasan ke  hakkullah

~
Saudara Hakkulah,

Kami setuju dengan saudara bahwa jabatan atau kedudukan berbeda. Tetapi budak dan tuan tidak sama. Bila mencermati sejarah, maka budak tidak memiliki hak apapun atas tuannya. Sebaliknya, hanya tuan yang memiliki hak atas budaknya, entah diperlakukan baik ataupun tidak. Contoh sederhana seperti yang terjadi di Arab. Banyak TKW tidak memiliki hak atas tuannya sehingga banyak TKW yang pulang dengan “berbadan dua” setelah digagahi oleh tuannya.

Pertanyaannya, dimanakah hak budak atau hambanya? Mengapa tuannya memperlakukan sedemikian tidak baik? Bukankah itu pertanyaan kami sebelumnya kepada saudara yang tidak mampu dijawab hingga sekarang? Mengapa nabi saudara memperlakukan budak sebagai wanita yang tidak baik (Qs 33:50)? Mohon pencerahan.
~
Solihin

Balas
hakkullah
15 Juli 2019 6:10 am

~
“Budak tidak memiliki hak apapun atas tuannya.”
Respon: Sebelum Islam datang, budak tidak memiliki hak. Tapi setelah Islam datang, budak punya hak juga, yaitu diperlakukan dengan baik. Contoh sederhana seperti yang terjadi di Arab. Banyak TKW tidak memiliki hak atas tuannya sehingga banyak TKW yang pulang dengan “berbadan dua” setelah digagahi oleh tuannya.

Respon: Itu melanggar aturan Allah dan Rasul-Nya. Islam untuk semuanya bukan untuk hanya orang Arab saja. Yang salah jangan diikuti walaupun ulama sekalipun. Islam adalah agama fitrah. Abu Jahal orang Arab, dia juga memperlakukan budaknya dengan kasar. Kita fanatik hanya kepada Allah dan Rasul-Nya dan para shahabat. Belajar lagi tentang budak.

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
21 Juli 2019 9:14 pm
Balasan ke  hakkullah

~
Saudara Hakkulah,

Kami memiliki pendapat bahwa perlakuan demikian terhadap TKW Indonesia bukan tanpa alasan. Dari manakah mereka memiliki legitimasi untuk melakukan hal itu kepada hamba/pembantunya/budaknya? Bukankah Al-Quran memberikan ruang bagi perlakukan demikian? Itu sebabnya, kami mengajukan pertanyaan kepada saudara, tetapi saudara tidak pernah mampu menjawabnya.

Pertanyaannya, dimanakah hak budak atau hambanya? Mengapa tuannya memperlakukan sedemikian tidak baik? Bukankah itu pertanyaan kami sebelumnya kepada saudara yang tidak mampu dijawab hingga sekarang? Mengapa nabi saudara memperlakukan budak sebagai wanita yang tidak baik (Qs 33:50)? Mohon pencerahan.
~
Solihin

Balas

Sidebar

Artikel Terbaru

  • Apakah Saya Akan Masuk Surga? Ini Jalan Allah
  • Hadis Tentang Nabi Isa: Satu-Satunya Yang Tidak Tersentuh Setan
  • Sejarah Mekah Dalam Terang Arkeologi Dan Ilmu Pengetahuan
  • Hikmah Qurban Nabi Ibrahim
  • Apakah Makna Qurban Idul Adha Yang Sebenarnya?

Artikel Terpopuler Bulan Ini

  • Antara Agama Dan Korupsi: Bagaimana Menjaga Hati Bersih?
  • Hadis Tentang Nabi Isa: Satu-Satunya Yang Tidak Tersentuh Setan
  • Apakah Saya Akan Masuk Surga? Ini Jalan Allah
  • Contoh Menghina Allah Paling Nyata: Menghina Kalimatullah
  • Potong Kuku Dalam Islam Menjaga Kebersihan Jasmani dan Hati?

Artikel Yang Terhubung

  • Bagaimana Memilih Sahabat Sejati Menurut Islam dan Nasrani? 
  • Mandi Taubat dari Zina: Cara Terbaik Mendapat Ampunan Allah?
  • Apakah Qurban Terbaik bagi Muslim Saat Idul Adha?
  • Mencari Teladan Hidup Terbaik Agar Lebih Sholeh
  • Persiapan Diri Terbaik Bagi Mukmin Menjelang Bulan Ramadhan

Hubungi Kami

Apabila Anda memiliki pertanyaan / komentar, silakan menghubungi kami dengan menekan tombol di bawah ini.

Hubungi Kami

Renungan Berkala Isa dan Al-Fatihah

Apabila Anda ingin menerima renungan singkat setiap minggu, silakan menekan tombol di bawah ini

Renungan Berkala Isa Dan Al-Fatihah

Social Media

Facebook
TikTok
Instagram
YouTube

Hak Cipta © 2009–2026 | Dialog Agama Isa dan Islam. | Kebijakan Privasi | Kebijakan Dalam Membalas Email | Hubungi Kami

wpDiscuz