
Karena tujuan utama puasa bulan Ramadhan adalah untuk menghapus dosa. Agar kita bisa masuk surga.
Namun benarkah semudah itu? Apakah dengan berpuasa ada jaminan kepastian surga? Bagaimana jika kita tidak mampu memenuhi kewajiban puasa?
Mari kita lihat uraiannya. Agar kita bisa yakin mendapatkan rahmat-Nya untuk masuk surga.
Tujuan Utama Puasa: “Mendapat Pahala Besar”

Banyak tujuan atau manfaatnya. Misalnya:
- Untuk meningkatkan keimanan.
- Untuk melatih penguasaan diri dan kesabaran.
- Untuk menumbuhkan kepedulian bagi orang lain.
Namun yang terutama tujuan utama puasa bulan Ramadhan adalah untuk menghapus dosa. Agar kita bisa masuk surga.
“. . . tentang bulan Ramadhan: “Barangsiapa yang menegakkannya karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dari-Nya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya” (Shahih Bukhari 1869).
Inilah kerinduan utama bagi Mukmin. Sehingga puasa Ramadhan sangat penting.
Dalam hal ini banyak pembahasan mengenai tujuan utama puasa bulan Ramadhan. Contohnya, ada artikel yang memberi judul, “11 Bulan Banyak Dosa, Peluang Diampuni di 1 Bulan.”
Atau ada dakwah yang menyatakan setiap amal di bulan puasa mendapat 30,000 pahala. Dan akan berlipat pada malam Laylat Al-Qadr. Tentu hal ini berfungsi juga untuk menutup dosa.
Sehingga kita umum mendengar bulan Ramadhan adalah “bulan pembersih dosa.” Atau ada istilah “bulan pengampunan Allah.”
Kesulitan untuk Memenuhi Kewajiban Puasa
Namun kita sadar sebagai manusia pasti penuh dosa dan khilaf. Bagaimana jika tidak mampu memenuhi kewajiban puasa?
Ajaran Al-Quran dan Hadits tegas mewajibkan Mukmin memenuhi ibadah puasa. Hanya ada sedikit pengecualian yang diperbolehkan.
Misalnya karena sakit, dalam perjalanan, atau saat wanita hamil. Dalam kondisi inipun Mukmin wajib menggantinya (Qs 2:184-185).
Selain itu ada kewajiban untuk memenuhi semua hutang puasa. Bahkan hutang jatah puasa dari orang tua kita.
“Siapa yang meninggal, sedangkan ia masih memiliki hutang puasa, maka yang membayarnya adalah walinya” (Shahih Muslim 1935).
Masalahnya, puasa kita sendiri saja belum tentu Allah terima. Bisa saja ibadah kita kurang berkenan. Betapa berat beban jika ada tanggungan jatah puasa lainnya.
“Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan bagian dari puasanya melainkan lapar dan haus . . .” (Hadits Ahmad 8501).
Terlebih lagi jika kita khilaf dan batal puasa. Maka tersedia sanksi yang berat.
“Barangsiapa berbuka satu hari pada bulan Ramadan bukan karena rukhshah atau sakit, maka tidak akan dapat diganti oleh puasa satu tahun penuh . . .” (Sunan Darimi 1652).
Pernahkah Anda lalai dan akhirnya batal puasa? Misalnya karena merokok, tertelan ludah atau berhubungan dengan istri. Jika demikian bukankah sangat sulit menggantinya kemudian?
Hukuman Jika Tidak Mampu Menunaikan Puasa

Malahan banyak ancaman hukuman mengerikan menanti. Ada riwayat Hadits yang menggambarkan hal ini.
“. . . saya melihat suatu kaum, yang mana mereka tergantung dengan daging urat kakinya, mulut mereka robek dan dari mulut mereka bercucuran darah. Maka aku berkata: Siapakah mereka ini? Ia berkata: Mereka adalah orang-orang yang berbuka (puasa) sebelum tiba waktunya” (As-Silsilah Ash-Shahihah 3951, Dishahihkan oleh al-Albani dalam shahih at-Targhib no. 1005).
Jika demikian, terasa tidak mungkin mencapai tujuan utama puasa bulan Ramadhan. Namun justru kita menjadi takut akan hukuman berat.
Kabar Baik Bagi Mukmin yang Tidak Mampu Hidup Sempurna
Rupanya memang manusia tidak akan mampu selamat dari dirinya sendiri. Kita sangat membutuhkan rahmat Allah.
“Tidaklah seorang pun dari kalian yang diselamatkan oleh amalnya . . . Tidak juga aku, kecuali bila Allah melimpahkan ampunan dan rahmat padaku“ (Shahih Muslim 5038).
Allah memberikan jalan keselamatan-Nya. Yaitu melalui Isa Al-Masih. Jika kita mengimani dan menjadi pengikut Isa, tersedia ampunan Allah.
“. . . Allah menyatakan kita “tidak bersalah,” bila kita mempercayai Yesus Kristus [mengimani Isa Al-Masih]. Karena kebaikan-Nya, menghapuskan dosa kita dengan cuma-cuma” (Injil, Surat Roma 3:24 FAYH).
Allah memberikan jaminan bahwa Ia tidak akan memperhitungkan dosa kita. Dan akan menuntun kita sampai mendapatkan surga.
“Allah mengasihi kalian, itu sebabnya Ia menyelamatkan kalian karena kalian percaya kepada Yesus [Isa Al-Masih]. Keselamatan kalian itu bukanlah hasil usahamu sendiri. Itu adalah anugerah [rahmat] Allah. Jadi, tidak ada seorang pun yang dapat menyombongkan dirinya mengenai hal itu” (Injil, Surat Efesus 2:8 BIS).
Sehingga jelas kita bisa yakin selamat. Namun bukan karena mampu memenuhi semua tuntutan agama. Melainkan karena rahmat Allah.
Inilah jawaban dari tujuan utama puasa bulan Ramadhan. Yaitu mendapatkan kepastian keselamatan-Nya.
Beribadah dengan Hati Bersyukur

Kita tidak perlu berpuasa untuk menutupi dosa. Atau beribadah karena takut hukuman Allah.
Melainkan kita berpuasa karena ingin mendekat pada Allah. Kita mensyukuri rahmat-Nya yang besar atas hidup ini.
“Terpujilah Allah sebab Ia menyelamatkan umat-Nya. Melalui Isa Al-Masih. Agar kita dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut. Dalam kekudusan dan kebenaran seumur hidup kita” (Injil, Lukas 1:68-75 parafrasa).
Pengertian ini akan mengarahkan pengikut Isa yang baik untuk rajin beribadah dan berpuasa. Juga melakukan banyak amal kebaikan.
Mendapatkan Rahmat Allah Bagi Kita
Maukah Anda menerima rahmat Allah? Yang pasti akan menghapus semua dosa dan menjamin surga.
Mari kita membuka hati menerimanya. Dengan jalan mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.
Lihat artikel ini dalam bentuk video
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel “Bagaimana Cara Menggapai Tujuan Utama Puasa Bulan Ramadhan?” Jika Anda berminat, silahkan klik pada link-link berikut:
- Apakah Saya Bisa Punya Jaminan Masuk Sorga?
- Relasi Masuk Sorga Karena Rahmat Allah Dan Isa Al-Masih
- Dapatkah Amal Ibadah Menyelamatkan Orang Islam?
- Berapa Banyak Pahala Penghapus Dosa Yang Diperlukan Orang Islam?
- Sungguhkah Al-Quran Mengajarkan Allah Adalah ar-Rahmani ar-Rahim?
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Bagaimana para Mukmin berusaha membenarkan tindakan Allah yang Ar-Rahman yang membagikan hukuman begitu drastis dan brutal pada orang yang salah berbuka puasa?
- Bagaimana kalau kebetulan berpuasa dengan sukses? Masihkah ragu-ragu mendapatkan tujuan utama puasa “Ampunan Allah”? Mengapa?
- Bukankah umat Islam terhibur kalau tahu semua dosa dapat diampuni selama-lamanya tanpa berpuasa pada Bulan Ramadan? Bagaimana perasaan Anda kalau Anda yakin semua dosa Anda diampuni selama-lamanya?
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”

PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected].