
Wijaya sadar perilakunya salah secara agama. Ia sangat takut akan berbagai hukuman dosa. Namun selama ini ia tidak dapat terlepas dari keadaannya tersebut.
Memang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) makin marak terjadi. Hal ini menyebar luas baik di dunia maupun di Indonesia.
Beberapa saat lalu polisi mendapat laporan ada kontes kecantikan LGBT. Mereka mengadakannya di salah satu hotel mewah di Jakarta.
Mari kita lihat bagaimana solusi mengatasi LGBT. Agar kita bisa terhindar darinya dan mendapat kasih Allah.
Pandangan Agama Mengenai LGBT
Wijaya mengetahui ajaran agama Islam sangat tegas menyatakan LGBT adalah hal terlarang. Dan tentu saja ada hukuman bagi yang melakukannya.
Dalilnya dapat kita lihat dari hukuman Allah terhadap kaum Nabi Lut. “Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu” (Qs 7:84).
Contoh lainnya ada Hadist menyatakan pelaku LGBT perlu diusir keluar dari rumah Mukmin. Mereka tidak bisa mendapat izin untuk tinggal di dalamnya (Musnad Ahmad 2016).
Bahkan Nabi Islam memberikan hukuman sangat keras. “. . . barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth (homosex), maka bunuhlah pelaku dan yang diperlakukannya” (Musnad Ahmad 2596).
Hal ini karena kaum LGBT dianggap telah sesat. Yaitu mereka menyalahi kodrat alami yang telah Allah tetapkan. Mereka berusaha memaksakan hasrat menyimpang sesuai nafsunya.
Semua hal ini menjadi dilema dalam diri Wijaya. Ia masih belum bisa terlepas dari kebiasaannya. Ia belum mendapatkan solusi mengatasi LGBT.
Praktik Ketegasan Terhadap Pelaku LGBT

Contohnya pada khalifah Abu Bakar, ada seorang homoseks yang dibakar di tiang. Pada Khalifah Ali, para pelaku LGBT sebagian dilempar dari menara masjid dan lainnya dilempari batu.
Sepanjang sejarah, banyak perlakuan keras terhadap kaum LGBT di negara yang menerapkan syariat. Misalnya di negara-negara Timur Tengah banyak yang mendapat hukuman mati. Mereka entah dipenggal, digantung dan dirajam. Bahkan ada sebagian yang dibakar.
Pandangan ini masih berlaku sampai sekarang. Kita bisa melihat misalnya saat piala dunia Qatar 2022. Mereka melarang kaum LGBT masuk ke negaranya.
Pada zaman modern sekarang ini para ulama banyak yang tetap sepakat bahwa perlu ada hukuman tegas bagi para pelaku. Masalahnya bukan apa perlu mendapat hukuman, namun hanya bagaimana cara terbaik untuk melakukannya.
Solusi Mengatasi LGBT dalam Islam
Melihat betapa keras pandangan agama ini, menggelisahkan banyak pelaku LGBT. Hal ini juga terjadi pada Wijaya.
Ia pernah berkata: “Pada satu pihak saya menyadari secara agama sangat terlarang. Namun saya tidak tahu apa solusi mengatasi LGBT.”
Memang ada beberapa saran dari ulama. Contohnya untuk pelaku segera menyadari dan melakukan taubat. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bertaubat.
Selanjutnya pelaku LGBT perlu belajar agama. Ia perlu mendengarkan dakwah dan rajin dzikir. Ia juga perlu melakukan shalat dan belajar puasa. Pada dasarnya orang yang kuat imannya bisa terhindar dari hal-hal keji.
Namun jika orang tersebut tidak mau taubat maka wajib dihindari. Seumpama penyakit menular, maka perlu mendapat karantina. Demikianlah umat Islam tidak boleh bergaul dengan kaum LGBT.
Masalahnya bagi Wijaya, ia sudah mencoba berbagai cara. Ia mengatakan semua saran itu terlihat baik namun tidak mampu mengubahnya. Ia kerap kali jatuh lagi ke dalam gaya hidupnya.
Pertanyaan dari Kaum LGBT
Terlebih lagi saat belajar agama justru Wijaya menemukan banyak pertanyaan. Ada banyak dalil agama yang membuatnya gelisah. Mari kita lihat beberapa diantaranya.
- Ada larangan untuk menuduh kaum LGBT?
Ada dalil dalam agama bahwa sesama Mukmin tidak boleh saling menuduh. Jadi tidak bisa mengidentifikasikan seseorang dari pakaiannya atau perilaku yang dianggap menyimpang.
“Apabila seorang lelaki berkata kepada lelaki lain: ‘Wahai bencong, maka derahlah dia sebanyak dua puluh kali . . .” (Sunan Ibnu Majah 2558). - Bagaimana dengan prilaku Nabi Islam dengan para sahabatnya?
Hal terutama adalah ada berbagai Hadist menuliskan prilaku Nabi Islam. Hal ini menjadi pertanyaan besar di kalangan kaum LGBT.- “Ayahku meminta izin kepada Nabi, kemudian ia memasuki jubah beliau dan mencium beliau dan terus menyertai beliau . . .” (Sunan Abu Daud 1421).
- “Saat ia bercakap-cakap . . . ada sesuatu yang membuat mereka tertawa, tiba-tiba Nabi menusuk lambungnya dengan kayu. Laki-laki itu berkata: ‘Berikanlah aku hak untuk mengqishas (membalas)!’ beliau bersabda: ‘Lakukanlah.’ Laki-laki itu berkata lagi: ‘Tuan masih mengenakan baju . . .’ Nabi lantas melepas bajunya, namun laki-laki itu memeluk dan mencium badan beliau seraya berkata: ‘Wahai Rasulullah, sebenarnya inilah yang aku harapkan.’” (Sunan Abu Daud 4547).
- Mengapa ada beda hukuman pria dan wanita?
Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa ada dalil hukuman yang sangat berbeda. Bahwa kaum pria yang gay mendapat kesempatan bertaubat dan bebas (Qs 4:16).
Sedangkan kaum wanita yang lesbi harus mendapat hukuman lebih berat. Mereka harus dikurungan sampai akhir hidupnya (Qs 4:15).
- Pernah ada imam banci?
Hal menarik lainnya rupanya pernah ada pemimpin umat dan imam shalat yang banci. Memang saat itu dalam keadaan darurat. Namun mengapa ibadahnya tetap sah?
“. . . (Az Zuhri) masuk menemui Utsman saat ia terkepung. Lalu berkata: ‘Engkau adalah pemimpin Kaum Muslimin namun engkau tengah mengalami kejadian seperti yang kita saksikan . . . Az Zuhri berkata: ‘Kami tidak membenarkan shalat bermakmum di belakang seorang banci kecuali dalam keadaan sangat terpaksa’” (Shahih Bukhari 654).
Semua hal ini yang menambah kegelisahan Wijaya. Ia mencari solusi mengatasi LGBT dalam agama. Namun tidak berhasil dan malah menimbulkan lebih banyak pertanyaan.
Solusi Mengatasi LGBT

Dosa berasal dari hati. Sehingga perlu pertolongan Allah untuk membersihkan hati kita.
Khususnya dalam hal LGBT banyak orang yang terlibat di dalamnya karena berlatar belakang kurang kasih. Misalnya orang tua tidak perhatian, atau ada banyak trauma masa kecil. Juga bisa karena terlibat pergaulan buruk saat remaja.
Semua hal ini menimbulkan luka hati yang mendalam. Salah satu akibatnya adalah terlibat dengan gaya hidup LGBT.
Hanya Allah yang penuh kasih yang mampu mengubah hati. Hanya Ia yang bisa memulihkan dan membuatnya menjadi baru.
“. . . kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita melalui Ruh Allah yang telah dianugerahkan kepada kita . . . Allah menyatakan kasih-Nya kepada kita karena Al-Masih telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa. Maka, lebih-lebih lagi sekarang, setelah kita dibenarkan . . . Ia akan menyelamatkan kita dari murka Allah” (Injil, Surat Rum 5:5,8-9).
Solusi mengatasi LGBT dari Allah adalah dengan Isa Al-Masih. Karena Isa adalah penjelmaan kasih Allah dalam wujud manusia.
Isa membawa ajaran kasih. Ia juga menyatakan kasih dengan mengorbankan diri pada kayu salib. Tujuan hal ini adalah untuk menanggung hukuman dosa manusia.
Melalui Isa, kita bisa mendapatkan hati yang baru. Juga ampunan Allah dari semua dosa kita.
Kasih Allah Memulihkan Pelaku LGBT
Kasih Allah inilah yang akhirnya dialami oleh Wijaya. Rupanya, ia memiliki sakit hati terhadap ayahnya. Waktu kecil ayahnya sering memukulnya dengan kejam.
Selanjutnya Wijaya mau membuka hati. Ia memberikan kesempatan untuk mengenal kasih Allah melalui Isa Al-Masih.
Akibatnya Wijaya merasakan pemulihan. Setelah melewati proses panjang, ia bahkan mampu mengampuni ayahnya.
Inilah yang menjadi awal mula perubahan hidupnya. Hatinya tidak lagi merasa kosong. Wijaya juga mendapat kekuatan menghindari gaya hidup lamanya. Akhirnya ia menikah dan memiliki seorang anak.
Kasih Allah Menyelamatkan Pelaku LGBT
Maukah Anda mengalami pemulihan hati? Inilah solusi mengatasi LGBT yang sebenarnya. Bahkan kita juga akan mendapatkan ampunan dosa dan jaminan surga.

Caranya adalah dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih. Maka kasih Allah akan datang dan memulihkan kehidupan Anda.
“Melalui Isa Al-Masih, Allah memberikan pengampunan dosa. Setiap orang yang mengimani-Nya dibebaskan dari segala dosa. Hal ini tidak mungkin tercapai dari berusaha memenuhi seluruh perintah Allah” (Injil, Kisah Para Rasul 13:38-39, BIS parafrasa).
Mari mendapatkan solusi mengatasi LGBT dengan kasih Allah. Mari mengimani dan menjadi pengikut Isa!
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Menurut saudara, apakah homoseks dosa yang lebih besar dari dosa-dosa lainnya?
- Apakah Allah mengasihi kaum LGBT? Mengapa?
- Setujukah saudara jika kita menerima kaum LGBT dalam masyarakat? Jelaskan alasan saudara
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel “Bagaimana Jalan Keluar dan Cara Mengatasi Dosa LGBT?” Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:
- Ajaran Agama Tentang LGBT Dan Perilakunya
- Kenajisan Hati, Perhatikan Atau Abaikan?
- Bagaimana Orang Beragama Dapat Mengatasi Rasa Malu?
- Pelajari Al-Quran dan Alkitab, Pria Muslim, Muhammad Bertemu Isa Al-Masih
Video:
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”

Ada dalil dalam agama bahwa sesama Mukmin tidak boleh saling menuduh. Jadi tidak bisa mengidentifikasikan seseorang dari pakaiannya atau perilaku yang dianggap menyimpang.
PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected].