• Skip to main content
  • Skip to header right navigation
  • Skip to site footer
Isa Dan Islam

Isa Dan Islam

Dialog Agama - Isa dan Islam

  • Maksud Situs Ini
    • Tentang Kami
    • Isa dan Al-Fatihah
    • Daftar Artikel
  • Jalan ke Surga
  • Artikel
  • Media
  • Kitab Suci
  • Hubungi Kami

Sejarah Dan Alasan Makan Babi Haram; Adakah Petunjuk Allah?

Isa Dan Islam > Artikel > Kepercayaan Orang Islam > Dosa > Sejarah Dan Alasan Makan Babi Haram; Adakah Petunjuk Allah?
28 Agustus 2024 | 12 Komentar

Kita semua tahu dengan tegas peraturan agama bahwa makan babi haram!

Karena hal inilah ada peristiwa heboh pernah terjadi. Ada restoran yang sudah bersertifikat halal memecahkan semua mangkuknya. Karena ada salah satu pengunjung mencelupkan kerupuk babi saat makan di sana.

Tahukah Anda apa sejarah dan alasan dari peraturan makan babi haram? Mari kita simak penjelasannya. Agar kita bisa beribadah dengan pengertian yang benar dan mendapat rahmat-Nya di akhirat.

Makan Babi Haram! Semua Mangkuk Dipecahkan

Peristiwa ini terjadi di Bali. Ada sebuah restoran bakso yang terkenal. Mereka telah lama mendapatkan sertifikat halal.

Suatu hari ada seorang influencer yang makan di restoran tersebut. Ia membawa sendiri kerupuk babi. Ia makan dan menayangkan di Sosial Media.

Kejadian ini kemudian viral dan menghebohkan Sosial Media. Masyarakat tahu makan babi haram. Sehingga banyak yang menganggap restoran itu sudah tidak baik lagi karena mangkuk menjadi haram dan kemudian tercampur dengan mangkuk lainnya.

Akibatnya pemilik restoran mengambil tindakan ekstrem. Ia mengeluarkan semua mangkuk yang ada di cabang itu kemudian menghancurkannya. Tujuannya adalah meyakinkan masyarakat bahwa ia menjaga tempatnya pasti memenuhi standar halal.

Memang akhirnya masalah ini selesai dengan baik. Secara kekeluargaan pemilik restoran telah menyelesaikan dengan influencer tersebut.

Namun peristiwa ini memicu banyak pertanyaan dalam masyarakat. Apa alasan dari peraturan makan babi haram?

Pentingnya Masalah Makanan dalam Agama

Agama Islam mengatur banyak sisi kehidupan. Ada dalil bahwa makanan adalah hal yang penting dalam agama karena akan mempengaruhi, apakah Allah menerima ibadah kita atau tidak.

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Qs 23:51).

Ayat ini mengatakan ada hubungan makanan dengan amal ibadah. Jika umat memakan yang baik maka amalannya Allah terima. Namun jika umat tidak taat, maka amalannya akan Allah tolak.

Dalam hal ini ada peraturan tegas makan babi haram. Tertulis dalam banyak ayat Al-Quran dan Hadist.

Contohnya: “Katakanlah: ‘Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan . . . kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor . . .’” (Qs 6:145).

Banyak orang tahu peraturan ini. Namun apakah alasan di baliknya?

Alasan Makan Babi Haram

Banyak ulama memberikan berbagai penjelasan. Berikut ini adalah ringkasannya.

  1. Karena hewan kotor.
    Babi adalah hewan yang tidak memiliki kelenjar keringat. Sehingga kotoran tersimpan dalam tubuhnya sendiri.
    Selain itu babi juga hidup di kubangan. Ia bisa memakan segala hal termasuk kotorannya sendiri. Karena inilah hewan babi menjadi simbol najis.
  1. Karena alasan kesehatan.
    Daging babi haram karena dipercaya bisa membawa berbagai penyakit. Misalnya kolesterol dan asam urat. Juga ada cacing pita berbahaya.
  1. Karena alasan penyembelihan.
    Salah satu alasan adalah karena babi tidak mempunyai leher. Hal tersebut membuat babi tidak bisa disembelih dengan cara syariah.
  1. Karena sifat makanan menular ke orang yang memakannya.
    Alasan lainnya adalah kepercayaan sifat makanan akan terbawa. Sehingga sifat babi yang rakus dan jorok akan mempengaruhi orang yang memakannya.

Berbagai pertimbangan sebaliknya

Semua alasan ini menjadi pertimbangan mengapa makan babi haram. Namun ada banyak pandangan lainnya.

Misalnya pada zaman modern ada peternakan babi yang canggih. Sehingga bersih dan terhindar dari berbagai penyakit. Masalah cacing pita juga teratasi dengan obat.

Mengenai leher babi sebenarnya bukan masalah besar. Karena bisa saja tersembelih di antara bahu dan kepalanya.

Juga dalam penelitian modern kita mengetahui ada banyak hewan halal yang membawa berbagai penyakit. Orang bisa mudah terkena kolesterol dan asam urat jika memakannya.

Selanjutnya tidak ada bukti ilmiah mengenai sifat binatang menular kepada orang yang memakannya. Sehingga alasan ini tidak relevan.

Selain itu ada banyak hewan lain yang kotor. Misalnya ikan lele yang makan kotoran. Ikan lele juga sangat rakus, saat lapar mereka bisa memangsa temannya sendiri. Namun ikan lele tetap halal dikonsumsi.

Semua hal ini menimbulkan banyak diskusi dan pertanyaan. Banyak yang berasal dari kalangan umat Islam sendiri. Untuk lebih jelasnya mari kita simak uraian selanjutnya.

Sejarah Makan Babi Haram

Penjelasan lebih dalam bisa kita lihat dari latar belakang sejarah. Ada dua alasan yang mungkin mengapa peraturan ini ada.

  1. Mengikuti budaya setempat.
    Alasan pertama adalah karena saat penyebaran agama, sudah ada orang Yahudi yang mengharamkan makan babi. Nabi Islam melihat hal ini dan menyesuaikannya.
    Tujuan makan babi haram adalah untuk menarik simpati orang Yahudi pada awalnya. Juga untuk menyatakan ada umat baru yang memiliki peraturan hidup yang baik.
  2. Kondisi alam Timur Tengah
    Alasan lainnya adalah memang karena kondisi Timur Tengah yang kekurangan air. Babi adalah hewan ternak yang menghabiskan banyak air. Mereka juga bisa mencemarkan sumber air jika tidak terjaga dengan baik.
    Hal inilah yang menyebabkan makan babi haram. Yaitu untuk mencegah tidak ada di kalangan umat yang memiliki ternak babi.

Apapun alasannya, pada akhirnya banyak ulama yang menyatakan bahwa hal ini adalah ketentuan Allah. Jadi terlepas dari berbagai pertimbangan yang ada, makan babi haram memang sudah menjadi peraturan agama.

Allah Menciptakan Binatang: Semua Baik!

Dalam hal ini ada beberapa teman bertanya. Mereka ingin tahu pandangan umat Nasrani dalam hal makanan. Mengapa tidak ada pembatasan secara agama.

Saya menjelaskan bahwa pandangan Nasrani menyatakan bahwa Allah yang menciptakan semua binatang. Dan tentu saja semuanya itu baik.

“Allah menjadikan segala jenis binatang . . . Allah melihat bahwa semuanya itu baik . . .  Baiklah Kita menjadikan manusia . . . supaya mereka berkuasa [memelihara] . . . atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi” (Taurat, Kejadian 1:25-26).

Memang benar segala sesuatu harus bijak dan seimbang. Jika tidak, maka kita bisa terkena berbagai penyakit dari makanan.

Namun masalah makanan tidak pernah membuat seseorang menjadi haram. Makanan yang kita makan, tidak menentukan keadaan hati manusia.

Halal-Haram dari Hati

Umat Nasrani percaya keberadaan manusia di hadapan Allah ditentukan dari hatinya. Hal ini bukan berasal dari makanan yang kita makan.

“Sabda Isa kepada mereka, ‘. . . segala sesuatu yang masuk ke dalam diri seseorang dari luar tidak dapat menajiskannya sebab bukan masuk ke dalam hati, melainkan ke dalam perut . . .’ Dengan demikian, Isa menyatakan bahwa semua makanan halal . . . ‘Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya. Karena dari dalamlah, yaitu dari hati orang, timbul pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinaan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu . . . Segala hal yang jahat itu timbul dari dalam hati dan menajiskan seseorang’” (Injil, Markus 7:18-23)

Karena hal inilah semua makanan halal bagi para pengikut Isa. Kita bisa bebas makan dengan bijak.

Namun dalam pengertian ini ada tanggung jawab yang lebih besar. Yaitu untuk menjaga hati kita bersih.

Teman saya sangat tertarik mendengar penjelasan ini. Ia kemudian jujur berkata bahwa menjaga hati jauh lebih sulit dari menjaga makan.

Saya sangat setuju dengan pernyataannya. Karena itu saya lanjut menjelaskan bahwa pengikut Isa memiliki pertolongan.

Allah Sanggup Membersihkan Hati Manusia

Allah mengerti manusia penuh dosa. Ia dalam kasih-Nya mau menyelamatkan manusia.

Karena itu Allah menjelma menjadi manusia. Ia datang dari perwujudan Kalimatullah, yaitu Isa Al-Masih.

Isa mengajarkan kebenaran Allah. Kematian-Nya di kayu salib adalah untuk menanggung hukuman atas dosa manusia.

“Ia [Allah] menyelamatkan kita. Bukan karena kita ini cukup baik untuk diselamatkan, melainkan semata-mata karena kemurahan dan pengasihan-Nya. Ia menyelamatkan kita dengan menghapuskan dosa kita . . . Semuanya ini karena apa yang dilakukan oleh Yesus Kristus [Isa Al-Masih], Juruselamat kita” (Injil, Surat Titus 3:5-6, FAYH).

Melalui Isa kita bisa mendapatkan hati yang baru. Yaitu hati yang bersih karena semua dosa telah Allah ampuni. Kita bisa menerimanya dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa.

Allah Sanggup Membawa Kita ke Surga

Dengan pertolongan Allah ini kita bisa hidup baik dan mendapatkan surga. Kita tidak perlu takut menjadi najis karena makanan.

Masalah seperti yang dialami restoran bakso di Bali bisa terhindari. Karena keadaan mangkuk tidak menentukan keadaan hati manusia.

Memang kita perlu menghargai pandangan masyarakat. Namun yang terutama yang kita harapkan adalah untuk bisa beribadah yang pasti Allah terima.

Inilah pertolongan yang Allah sediakan melalui Isa Al-Masih. Caranya bukan dari makanan halal atau haram.

Mari kita menerima pertolongan-Nya. Mari kita mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih. Kita akan mendapat hati yang bersih dan jaminan surga.


Artikel Terkait

Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:

  1. Solusi Jika Tidak Sengaja Memakan Makanan Haram
  2. Dapatkah Amal Baik Kita Memenuhi Syarat Masuk Surga?
  3. Pentingnya kata “bismillah” – Makan Yang Halal Atau Belas-Kasihan?

Video:

  1. Bagaimana Jika Saya Makan Makanan Haram?

Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca

Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:

  1. Menurut Saudara apa alasan terutama makan babi haram?
  2. Bagaimana pendapat Saudara dengan hewan “kotor” lainnya seperti ikan lele yang halal untuk dimakan?
  3. Bagaimana pendapat Saudara bahwa masalah halal-haram berasal dari hati dan bukan dari makanan?

Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, maaf bila terpaksa kami hapus.

Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”

 
Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini. atau SMS ke: 0812-9530-4930
Kategori: Dosa, Kepercayaan Orang Islam

Bagikan Artikel Ini:

Share on Facebook Share on X (Twitter) Share on WhatsApp Share on Email Share on SMS

PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR

Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!

Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected].

Subscribe
Beritahulah

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

12 Comments
Paling lama
Terbaru
Suhendi Asmar
10 September 2024 5:38 pm

~
Di samping kehidupan babi dan makanannya serta larangannya atas perintanh-Nya. Dalam Hadits Riwayat Bukhori Muslim diriwayatkan pada zaman Nabi Isa as pada hari sabat dimana seharusnys pengikut Nabi Isa harus beribadah pada hari itu.

Lalu Allah memberi cobaan atas umat-Nya pada hari itu untuk beribadah dengan adanya di pinggir laut. Banyak sekali dan berlimpah-limpah ikan-ikan di pinggir laut maka sebagian yang mengambil ikan diazab Allah Menjadi monyet dan babi.

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
13 September 2024 7:09 pm
Balasan ke  Suhendi Asmar

~
Saudara Suhendi Asmar,

Kami menghargai tulisan saudara di atas. Kitab suci Injil merupakan sumber terdekat mengenai riwayat Isa Al-Masih. Kitab suci Injil tidak pernah meriwayatkan sebagaimana tulisan saudara di atas.

Kami menyadari bahwa babi adalah haram. Tentu ini memiliki alasan tertentu. Artikel di atas telah menjelaskan hal itu.

Namun, haram atau tidak bukan ditentukan oleh makanan, melainkan hati. Hanya Isa Al-Masih yang dapat membersihkan hati manusia, bukan karena tidak makan makanan tertentu.

Bagaimana perasaan saudara mengetahui ini?
~
Salma

Balas
kholil
7 Oktober 2024 9:12 pm

~
Sangat jelas dicatat dalam Imamat pasal 11, bahwa babi haram karena ciri-cirinya yaitu tidak memamah biak. Sampai hari ini babi tidak memamah biak, jadi babi tetap haram.

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
12 Oktober 2024 10:03 pm
Balasan ke  kholil

~
Saudara kholil,

Memang kami dapat memahami pendapat demikian. Sebab Allah adalah Allah yang melintasi waktu dan bersifat progresif.

Itu sebabnya, Isa Al-Masih berfirman, “…bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” (Injil, Rasul Besar 15:11).

Ini menjelaskan bahwa bukan makanan yang membuat najis, melainkan perkataan yang bisa membuat seseorang najis. Bagaimana perasaan saudara mengetahui ini?
~
Salma

Balas
Cr13
9 Maret 2025 4:39 pm

~
Apakah saudara paham alasan babi haram? Muhammad bersabda “Isa akan turun ke dunia untuk membunuh babi”.

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
13 Maret 2025 11:23 am
Balasan ke  Cr13

~
Saudara Cr13,

Saudara terima kasih untuk paparan saudara. Perihal babi tercatat dalam Kitab Imamat 11:7-8. Hal ini terkait dengan hukum kekudusan yang diberikan kepada bangsa Israel dalam Perjanjian Lama.

Namun, dalam Perjanjian Baru, Isa Al-Masih mengajarkan bahwa makanan tidak menajiskan seseorang, melainkan hati yang jahat (Injil, Rasul Besar Markus 7:18-19). Bukankah kebersihan rohani lebih penting daripada ketatnya aturan makanan.

Bagaimana menurut saudara?
~
Salma

Balas
Yanti
23 Maret 2025 1:50 pm

~
Nabi Isa tidak memakan babi seumur hidupnya alasannya bukan karena budaya, tradisi tapi sudah menjadi perintah Allah bahwa babi haram dimakan. Banyak nabi sudah diturunkan di Timur Tengah dan mereka juga membawa syariat yang sama bahwa babi haram dimakan.

Itulah makanya di Timur Tengah syariat Tuhan itu menjadi budaya masyarakat. Jika Yesus tidak memakan babi mengapa kaum Kristen sekarang malah menyelewengkan ajaran syariat Yesus?

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
31 Maret 2025 11:20 pm
Balasan ke  Yanti

~
Saudara Yanti,

Kami menghargai pendapat saudara. Mencermati pernyataan saudara tersebut, maka perlu merujuk kembali kepada firman Isa Al-Masih. Isa Al-Masih berfirman, “‘Apakah kalian belum juga mengerti? Apakah kalian tidak bisa mengerti bahwa yang masuk ke dalam seseorang tidak bisa membuat orang itu najis? Sebab yang masuk itu tidak lewat hati, tetapi lewat perut, dan kemudian keluar lagi.’ Dengan kata-kata itu Yesus menyatakan bahwa semua makanan halal” (Injil, Markus 7:18-19).

Ini menjelaskan bahwa makanan tidak membuat seseorang najis, melainkan apa yang keluar dari hati. Isa Al-Masih membantu manusia mengarahkan pikiran kepada yang hakikat, bukan syariat semata. Selain itu, makanan tidak membuat manusia masuk sorga.

Hanya Isa Al-Masih yang dapat menolong manusia selamat di akhirat. Maukah saudara merenungkan hakikat yang diajarkan Isa Al-Masih?
~
Salma

Balas
Romulus Tbn
29 Mei 2025 4:51 am

~
Syukur daging babi tidak dimakan oleh umat Islam. Kalau tidak harganya akan selangit.

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
1 Juni 2025 10:49 pm
Balasan ke  Romulus Tbn

~
Saudara Romulus,

Terima kasih atas komentarnya. Dalam iman umat Nasrani, percaya bahwa bukan makanan yang menajiskan manusia, melainkan apa yang keluar dari hati (Injil, Rasul Besar Markus 7:18–23).

Karena itu, banyak umat Nasrani meyakini bahwa larangan makanan tertentu tidak lagi mengikat secara rohani, melainkan hati dan perbuatanlah yang menjadi fokus utama kekudusan di hadapan Allah.
~
Salma

Balas
Barry
27 Januari 2026 12:53 am

~
Saya Muslim dan mengimani Isa AS sebagai utusan Allah. Maka dari itu saya mengikuti petunjuk nabi Isa untuk tidak mengonsumsi babi.

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
1 Februari 2026 11:13 am
Balasan ke  Barry

~
Saudara Barry,

Kami menghargai pandangan dan keyakinan saudara bahwa Isa Al-Masih adalah nabi. Membaca Kitab Suci Injil akan menolong saudara mengetahui bahwa Isa Al-Masih tidak mengajarkan tentang tidak mengonsumsi daging babi. Sebab Isa Al-Masih nuzul ke dunia bukan untuk mengajarkan tentang hal itu.

Sebaliknya, Isa Al-Masih mengajarkan bahwa bukan makanan yang menajiskan orang, melainkan hatinya. Isa Al-Masih berfirman, “…segala sesuatu yang masuk ke dalam diri seseorang dari luar tidak dapat menajiskannya sebab bukan masuk ke dalam hati, melainkan ke dalam perut…” (Injil, Markus 7:18-23).

Menjaga diri dari makanan tidak membawa saudara menjadi lebih dekat dengan Allah. Hanya Isa Al-Masih yang dapat menolong saudara semakin dekat dengan Allah. Bagaimana pandangan saudara mengenai ini?
~
Solihin

Balas

Sidebar

Artikel Terbaru

  • Apakah Saya Akan Masuk Surga? Ini Jalan Allah
  • Hadis Tentang Nabi Isa: Satu-Satunya Yang Tidak Tersentuh Setan
  • Sejarah Mekah Dalam Terang Arkeologi Dan Ilmu Pengetahuan
  • Hikmah Qurban Nabi Ibrahim
  • Apakah Makna Qurban Idul Adha Yang Sebenarnya?

Artikel Terpopuler Bulan Ini

  • Antara Agama Dan Korupsi: Bagaimana Menjaga Hati Bersih?
  • Hadis Tentang Nabi Isa: Satu-Satunya Yang Tidak Tersentuh Setan
  • Apakah Saya Akan Masuk Surga? Ini Jalan Allah
  • Contoh Menghina Allah Paling Nyata: Menghina Kalimatullah
  • Potong Kuku Dalam Islam Menjaga Kebersihan Jasmani dan Hati?

Artikel Yang Terhubung

  • Mengapa, Walau Taat Hukum Halal dan Haram, Namun…
  • Apakah Musik Halal atau Haram Dalam Islam?
  • Dosa Nabi Islam dan Nabi Lain dalam Al-Quran, Adakah…
  • Adakah Cara Masuk Surga Tanpa Hisab? Ini Jawabannya!
  • Sejarah Mekah Dalam Terang Arkeologi Dan Ilmu Pengetahuan

Hubungi Kami

Apabila Anda memiliki pertanyaan / komentar, silakan menghubungi kami dengan menekan tombol di bawah ini.

Hubungi Kami

Renungan Berkala Isa dan Al-Fatihah

Apabila Anda ingin menerima renungan singkat setiap minggu, silakan menekan tombol di bawah ini

Renungan Berkala Isa Dan Al-Fatihah

Social Media

Facebook
TikTok
Instagram
YouTube

Hak Cipta © 2009–2026 | Dialog Agama Isa dan Islam. | Kebijakan Privasi | Kebijakan Dalam Membalas Email | Hubungi Kami

wpDiscuz