
Karena hal inilah ada peristiwa heboh pernah terjadi. Ada restoran yang sudah bersertifikat halal memecahkan semua mangkuknya. Karena ada salah satu pengunjung mencelupkan kerupuk babi saat makan di sana.
Tahukah Anda apa sejarah dan alasan dari peraturan makan babi haram? Mari kita simak penjelasannya. Agar kita bisa beribadah dengan pengertian yang benar dan mendapat rahmat-Nya di akhirat.
Makan Babi Haram! Semua Mangkuk Dipecahkan
Peristiwa ini terjadi di Bali. Ada sebuah restoran bakso yang terkenal. Mereka telah lama mendapatkan sertifikat halal.
Suatu hari ada seorang influencer yang makan di restoran tersebut. Ia membawa sendiri kerupuk babi. Ia makan dan menayangkan di Sosial Media.
Kejadian ini kemudian viral dan menghebohkan Sosial Media. Masyarakat tahu makan babi haram. Sehingga banyak yang menganggap restoran itu sudah tidak baik lagi karena mangkuk menjadi haram dan kemudian tercampur dengan mangkuk lainnya.
Akibatnya pemilik restoran mengambil tindakan ekstrem. Ia mengeluarkan semua mangkuk yang ada di cabang itu kemudian menghancurkannya. Tujuannya adalah meyakinkan masyarakat bahwa ia menjaga tempatnya pasti memenuhi standar halal.
Memang akhirnya masalah ini selesai dengan baik. Secara kekeluargaan pemilik restoran telah menyelesaikan dengan influencer tersebut.
Namun peristiwa ini memicu banyak pertanyaan dalam masyarakat. Apa alasan dari peraturan makan babi haram?
Pentingnya Masalah Makanan dalam Agama

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Qs 23:51).
Ayat ini mengatakan ada hubungan makanan dengan amal ibadah. Jika umat memakan yang baik maka amalannya Allah terima. Namun jika umat tidak taat, maka amalannya akan Allah tolak.
Dalam hal ini ada peraturan tegas makan babi haram. Tertulis dalam banyak ayat Al-Quran dan Hadist.
Contohnya: “Katakanlah: ‘Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan . . . kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor . . .’” (Qs 6:145).
Banyak orang tahu peraturan ini. Namun apakah alasan di baliknya?
Alasan Makan Babi Haram
Banyak ulama memberikan berbagai penjelasan. Berikut ini adalah ringkasannya.
- Karena hewan kotor.
Babi adalah hewan yang tidak memiliki kelenjar keringat. Sehingga kotoran tersimpan dalam tubuhnya sendiri.
Selain itu babi juga hidup di kubangan. Ia bisa memakan segala hal termasuk kotorannya sendiri. Karena inilah hewan babi menjadi simbol najis.
- Karena alasan kesehatan.
Daging babi haram karena dipercaya bisa membawa berbagai penyakit. Misalnya kolesterol dan asam urat. Juga ada cacing pita berbahaya.
- Karena alasan penyembelihan.
Salah satu alasan adalah karena babi tidak mempunyai leher. Hal tersebut membuat babi tidak bisa disembelih dengan cara syariah.
- Karena sifat makanan menular ke orang yang memakannya.
Alasan lainnya adalah kepercayaan sifat makanan akan terbawa. Sehingga sifat babi yang rakus dan jorok akan mempengaruhi orang yang memakannya.
Berbagai pertimbangan sebaliknya

Misalnya pada zaman modern ada peternakan babi yang canggih. Sehingga bersih dan terhindar dari berbagai penyakit. Masalah cacing pita juga teratasi dengan obat.
Mengenai leher babi sebenarnya bukan masalah besar. Karena bisa saja tersembelih di antara bahu dan kepalanya.
Juga dalam penelitian modern kita mengetahui ada banyak hewan halal yang membawa berbagai penyakit. Orang bisa mudah terkena kolesterol dan asam urat jika memakannya.
Selanjutnya tidak ada bukti ilmiah mengenai sifat binatang menular kepada orang yang memakannya. Sehingga alasan ini tidak relevan.
Selain itu ada banyak hewan lain yang kotor. Misalnya ikan lele yang makan kotoran. Ikan lele juga sangat rakus, saat lapar mereka bisa memangsa temannya sendiri. Namun ikan lele tetap halal dikonsumsi.
Semua hal ini menimbulkan banyak diskusi dan pertanyaan. Banyak yang berasal dari kalangan umat Islam sendiri. Untuk lebih jelasnya mari kita simak uraian selanjutnya.
Sejarah Makan Babi Haram
Penjelasan lebih dalam bisa kita lihat dari latar belakang sejarah. Ada dua alasan yang mungkin mengapa peraturan ini ada.
- Mengikuti budaya setempat.
Alasan pertama adalah karena saat penyebaran agama, sudah ada orang Yahudi yang mengharamkan makan babi. Nabi Islam melihat hal ini dan menyesuaikannya.
Tujuan makan babi haram adalah untuk menarik simpati orang Yahudi pada awalnya. Juga untuk menyatakan ada umat baru yang memiliki peraturan hidup yang baik. - Kondisi alam Timur Tengah
Alasan lainnya adalah memang karena kondisi Timur Tengah yang kekurangan air. Babi adalah hewan ternak yang menghabiskan banyak air. Mereka juga bisa mencemarkan sumber air jika tidak terjaga dengan baik.
Hal inilah yang menyebabkan makan babi haram. Yaitu untuk mencegah tidak ada di kalangan umat yang memiliki ternak babi.
Apapun alasannya, pada akhirnya banyak ulama yang menyatakan bahwa hal ini adalah ketentuan Allah. Jadi terlepas dari berbagai pertimbangan yang ada, makan babi haram memang sudah menjadi peraturan agama.
Allah Menciptakan Binatang: Semua Baik!
Dalam hal ini ada beberapa teman bertanya. Mereka ingin tahu pandangan umat Nasrani dalam hal makanan. Mengapa tidak ada pembatasan secara agama.
Saya menjelaskan bahwa pandangan Nasrani menyatakan bahwa Allah yang menciptakan semua binatang. Dan tentu saja semuanya itu baik.
“Allah menjadikan segala jenis binatang . . . Allah melihat bahwa semuanya itu baik . . . Baiklah Kita menjadikan manusia . . . supaya mereka berkuasa [memelihara] . . . atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi” (Taurat, Kejadian 1:25-26).
Memang benar segala sesuatu harus bijak dan seimbang. Jika tidak, maka kita bisa terkena berbagai penyakit dari makanan.
Namun masalah makanan tidak pernah membuat seseorang menjadi haram. Makanan yang kita makan, tidak menentukan keadaan hati manusia.
Halal-Haram dari Hati
Umat Nasrani percaya keberadaan manusia di hadapan Allah ditentukan dari hatinya. Hal ini bukan berasal dari makanan yang kita makan.
“Sabda Isa kepada mereka, ‘. . . segala sesuatu yang masuk ke dalam diri seseorang dari luar tidak dapat menajiskannya sebab bukan masuk ke dalam hati, melainkan ke dalam perut . . .’ Dengan demikian, Isa menyatakan bahwa semua makanan halal . . . ‘Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya. Karena dari dalamlah, yaitu dari hati orang, timbul pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinaan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu . . . Segala hal yang jahat itu timbul dari dalam hati dan menajiskan seseorang’” (Injil, Markus 7:18-23)
Karena hal inilah semua makanan halal bagi para pengikut Isa. Kita bisa bebas makan dengan bijak.
Namun dalam pengertian ini ada tanggung jawab yang lebih besar. Yaitu untuk menjaga hati kita bersih.

Saya sangat setuju dengan pernyataannya. Karena itu saya lanjut menjelaskan bahwa pengikut Isa memiliki pertolongan.
Allah Sanggup Membersihkan Hati Manusia
Allah mengerti manusia penuh dosa. Ia dalam kasih-Nya mau menyelamatkan manusia.
Karena itu Allah menjelma menjadi manusia. Ia datang dari perwujudan Kalimatullah, yaitu Isa Al-Masih.
Isa mengajarkan kebenaran Allah. Kematian-Nya di kayu salib adalah untuk menanggung hukuman atas dosa manusia.
“Ia [Allah] menyelamatkan kita. Bukan karena kita ini cukup baik untuk diselamatkan, melainkan semata-mata karena kemurahan dan pengasihan-Nya. Ia menyelamatkan kita dengan menghapuskan dosa kita . . . Semuanya ini karena apa yang dilakukan oleh Yesus Kristus [Isa Al-Masih], Juruselamat kita” (Injil, Surat Titus 3:5-6, FAYH).
Melalui Isa kita bisa mendapatkan hati yang baru. Yaitu hati yang bersih karena semua dosa telah Allah ampuni. Kita bisa menerimanya dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa.
Allah Sanggup Membawa Kita ke Surga
Dengan pertolongan Allah ini kita bisa hidup baik dan mendapatkan surga. Kita tidak perlu takut menjadi najis karena makanan.
Masalah seperti yang dialami restoran bakso di Bali bisa terhindari. Karena keadaan mangkuk tidak menentukan keadaan hati manusia.
Memang kita perlu menghargai pandangan masyarakat. Namun yang terutama yang kita harapkan adalah untuk bisa beribadah yang pasti Allah terima.
Inilah pertolongan yang Allah sediakan melalui Isa Al-Masih. Caranya bukan dari makanan halal atau haram.
Mari kita menerima pertolongan-Nya. Mari kita mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih. Kita akan mendapat hati yang bersih dan jaminan surga.
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:
- Solusi Jika Tidak Sengaja Memakan Makanan Haram
- Dapatkah Amal Baik Kita Memenuhi Syarat Masuk Surga?
- Pentingnya kata “bismillah” – Makan Yang Halal Atau Belas-Kasihan?
Video:
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Menurut Saudara apa alasan terutama makan babi haram?
- Bagaimana pendapat Saudara dengan hewan “kotor” lainnya seperti ikan lele yang halal untuk dimakan?
- Bagaimana pendapat Saudara bahwa masalah halal-haram berasal dari hati dan bukan dari makanan?
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, maaf bila terpaksa kami hapus.
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”

PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected].