Semua pemeluk agama ingin masuk surga. Namun, jalannya berliku dan sangat sulit. Bahkan banyak umat tidak mendapat kepastian surga.
Dalam hal ini ada jembatan menuju surga. Ajaran Islam memberi tahu ada jembatan Shiratal Mustaqim. Setiap umat perlu melewatinya untuk bisa mendapatkan surga.
Namun bisakah kita melewatinya? Banyak umat yang takut tidak mampu, dan akan terjatuh ke neraka.
Mari kita lihat penjelasan dan gambaran jembatan menuju surga. Agar kita bisa yakin untuk mencapai surga Allah.
Latar Belakang Manusia Memerlukan Jembatan

Saat itu manusia hidup bersama Allah. Mereka menikmati kebaikan dan kesempurnaan-Nya.
Allah mengizinkan Nabi Adam untuk bebas melakukan apa saja di taman Eden. Hanya ada satu batasannya, yaitu tidak boleh memakan buah dari pohon terlarang (Qs 7:19).
Namun setan datang dan mencobai manusia (Qs 7:22). Akhirnya Nabi Adam dan Siti Hawa tergoda untuk memakan buah itu.
Dosa menjadi pemisah antara manusia dengan Allah (Qs 7:24)! Karena dosa, manusia tidak bisa lagi hidup dengan Allah. Manusia hidup di bumi yang penuh penderitaan dan kesukaran.
Manusia Mencari Jalan Selamat
Sekarang kita manusia hidup terpisah dari Allah. Akibat dosa juga memberikan kita ancaman azab Allah di akhirat.
Hal ini menyebabkan banyak manusia takut masuk neraka. Kita takut hukuman-Nya yang mengerikan.
Dalam keadaan seperti ini kita rindu untuk mendekat pada Allah. Kita rindu menemukan “jembatan menuju surga” yang baik.
Agama mengajarkan bahwa manusia perlu berusaha. Amal dan ibadah kita diharapkan cukup untuk membawa kita kepada Allah.
Allah akan menimbang semua perbuatan manusia. Ia akan menilai apakah kita lebih berat amal baik dan masuk surga, atau kita lebih berat dosa dan masuk neraka.
“Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat” (Qs 23:102-104).
Masalahnya, kita penuh dengan dosa (Jami’ At-Tirmidzi 2423). Mampukah semua amal dan perbuatan baik kita membawa kita kepada-Nya?
Jembatan Shiratal Mustaqim
Selanjutnya agama mengajarkan ada jembatan menuju surga. Yaitu jembatan Shiratal Mustaqim.
Hadist menggambarkan keadaan jembatan Shiratal Mustaqim. Sebagai jembatan yang sangat tipis dan tajam bagaikan pedang, bahkan tergambar seperti sehelai rambut terbelah tujuh.
Jembatan ini terbentang panjang di atas neraka jahanam. Sehingga sangat berbahaya bagi orang yang melewatinya.
Terlebih lagi Hadist menyatakan ada berbagai siksaan di bawah jembatan. Semuanya menanti orang yang terjatuh ke dalamnya.
“. . . tempat yang licin yang dapat menggelincirkan. Di sana terdapat besi-besi pencakar, besi-besi pengait dan duri besi . . . Ada yang tercabik-cabik tertunda dan ada yang terlempar ke dalam neraka Jahannam . . .” (Hadits Muslim No.269).
Kesulitan Melewati Jembatan Shiratal Mustaqim
Dalam keadaan seperti ini mustahil manusia bisa selamat. Karena kita semua penuh dosa dan salah. Banyak sekali pelanggaran yang kita perbuat selama hidup. Amal dan ibadah kita tidak mungkin menutupi semuanya.
Kita akan membawa semua dosa ini di akhirat. Kita harus melewati jembatan Shiratal Mustaqim dengan semua dosa kita.
Al-Quran menyatakan kejahatan sekecil apapun pasti mendapat hukumannya (Qs 99:8). Dan Allah tidak bisa menerima kesalahan apapun.
“. . . Wahai para manusia, sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik . . .” (Hadits Ahmad No.7998).
Terlebih lagi Hadist menjelaskan bahwa manusia selamat pasti bukan karena amalannya (Shahih Muslim 5038). Sehingga semua perbuatan baik kita tidak mampu menolong kita melewati jembatan Shiratal Mustaqim.
Inilah dasarnya mengapa banyak orang takut. Karena pasti akan terjatuh saat berjalan di jembatan ini.
“Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan” (Qs 19:71).
Jembatan Pasti Menuju Surga
Allah mengerti keadaan kita. Allah adalah Maha Kasih. Dalam kasih-Nya Ia rindu semua manusia bisa selamat masuk surga.
Karena itu Allah menyediakan jembatan lain. Yaitu jembatan menuju surga yang pasti berhasil.
Caranya adalah dengan Allah menjelma menjadi manusia. Inilah pribadi Isa Al-Masih. Isa adalah penjelmaan Ruh Allah dan Kalimatullah.
“Karena upah dosa adalah maut, tetapi karunia Allah adalah hidup yang kekal dalam Isa Al-Masih, Junjungan kita Yang Ilahi” (Injil, Rum 6:23).
Isa datang untuk mengajarkan kebenaran. Yaitu hukum kasih Allah.
Pengorbanan Isa di kayu salib menjadi penebus untuk hukuman dosa manusia. Melalui-Nya kita bisa mendapatkan ampunan dosa. Juga rahmat-Nya untuk pasti masuk surga.
“. . . Kristus [Isa Al-Masih] mempersembahkan hanya satu kurban untuk pengampunan dosa, dan kurban itu berlaku untuk selama-lamanya . . . Allah juga berkata, ‘Aku akan melupakan dosa-dosa dan kejahatan-kejahatan mereka.’ Jadi, dosa-dosa dan kejahatan-kejahatan itu sudah diampuni . . .” (Injil, Ibrani 10:12,17-18, BIS).
Cara kita menerimanya sangat mudah. Kita hanya perlu mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.
Inilah jembatan menuju surga yang pasti. Allah menyediakannya agar kita bisa selamat.
Satu-Satunya Jembatan Menuju Surga
Kita tidak perlu takut lagi kepada azab Allah dan neraka. Allah telah memberikan jalan agar kita bisa mendapatkan surga-Nya.
Selanjutnya kita justru akan termotivasi hidup benar. Karena kita mengucap syukur atas kebaikan yang Allah berikan dalam hidup ini.
“. . . Allah menunjukkan kepada kita suatu jalan lain ke surga — bukan dengan ‘menjadi cukup baik’ dan dengan berusaha menaati hukum-hukum-Nya. Melainkan . . . Allah mengatakan Ia akan menerima kita dan membebaskan kita, menyatakan kita “tidak bersalah” bila kita percaya bahwa Yesus Kristus [Isa Al-Masih] menghapuskan dosa kita.” (Injil, Roma 3:21-22 FAYH).
Mari milih jembatan menuju surga yang Allah sediakan. Mari mengimani dan menjadi pengikut Isa.
Doa Keselamatan:
Jika Anda bersedia melakukannya, mari mendoakan doa berikut ini:
Allah yang ada di surga, saya menyadari bahwa saya seorang berdosa. Saya tidak bisa mampu menyelamatkan diri sendiri.
Saat ini saya mohon pengampunan-Mu untuk semua dosa saya. Saya mau mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.
Terimakasih atas rahmat dan ampunan-Mu. Saya berdoa hanya di dalam nama Isa Al-Masih. Amin.
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:
- Perjalanan Ke Surga: 5 Tantangan Ini Harus Mukmin Lewati
- Dapatkah Amal Baik Kita Memenuhi Syarat Masuk Surga?
- Mustahil Sedekah Memadamkan Murka Allah! Bagaimana Solusinya?
Video:
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Menurut Saudara bagaimana cara manusia bisa yakin melewati jembatan Shiratal Mustaqim?
- Bagaimana pandangan Saudara mengenai pernyataan: manusia tidak mungkin selamat karena amalnya?
- Bagaimana pendapat Saudara mengenai jembatan menuju surga yang Allah sediakan melalui Isa Al-Masih?
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, maaf bila terpaksa kami hapus.








PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected].