• Skip to main content
  • Skip to header right navigation
  • Skip to site footer
Isa Dan Islam

Isa Dan Islam

Dialog Agama - Isa dan Islam

  • Maksud Situs Ini
    • Tentang Kami
    • Isa dan Al-Fatihah
    • Daftar Artikel
  • Jalan ke Surga
  • Artikel
  • Media
  • Kitab Suci
  • Hubungi Kami

5 Perbedaan Penting Arti Hamba Allah dan Anak Allah

Isa Dan Islam > Artikel > Pertanyaan Umum > 5 Perbedaan Penting Arti Hamba Allah dan Anak Allah
22 November 2023 | Tidak Ada Komentar

Saya (Palawa) bangga menjadi hamba Allah!

Saya mempertanyakan pola pikir teman Nasrani (Lubis). Karena dia dengan sangat yakin menyatakan sebagai anak Allah.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya . . . (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) . . .” (Qs 5:18).

Saya merasa Lubis tidak paham arti hamba Allah yang sebenarnya. Karena itu kami mengadakan diskusi membahas hal ini.

Penting kita memahami arti hamba Allah dan anak Allah. Agar kita mendapatkan rahmat-Nya. Baik untuk kehidupan di dunia maupun akhirat.

Seberapakah sebenarnya kita manusia bisa mendekat kepada Allah? Mari kita lihat pembahasannya.

Dalil Manusia Sebagai Hamba Allah

Lubis bertanya: “Mengapa kamu begitu senang menjadi hamba Allah?”

Saya menjelaskan bahwa Allah adalah Maha Tinggi dan Besar (Qs 2:255). Sehingga kita ada jarak yang jauh daripada-Nya.

Dalam kondisi seperti ini, kita tercipta menjadi hamba-Nya. Kita perlu menyembah dan mentaati-Nya (Qs 51:56).

Terdapat banyak ayat Al-Quran yang menjadi dalil. Contoh: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu” (Qs 39:10).

Sehingga untuk bisa menjadi hamba saja sudah sangat membanggakan. Ini adalah posisi manusia saat mendekat dengan Sang Penciptanya.

Setelah mendengar pandangan saya, Lubis merespon. Ia menyatakan memiliki pandangan berbeda.

Lubis menjelaskan bahwa dalam konteks zaman dahulu, hamba menyatakan status orang yang sudah dibeli. Sehingga menjadi budak milik orang lain. Ia bukan lagi orang merdeka.

Dapatkah Manusia Dekat dengan Penciptanya?

Saat mendengar penjelasan ini, saya menjadi sedikit tersinggung. Saya lalu menegaskan sikap.

Saya menyatakan: “Memang benar perkataan kamu. Namun hal itu dalam hubungan antar manusia. Sedangkan dengan Sang Pencipta, kita sudah sesuai menjadi hamba-Nya. Karena mustahil Allah yang Maha Besar bisa mendekat dengan manusia biasa (Qs 5:18).”

Namun, selanjutnya Lubis menyatakan hal menarik. Ia berkata: “Saya percaya kita bisa mendekat pada Allah lebih dari status hamba. Karena Allah mengasihi manusia!”

Memang benar seorang budak atau hamba, walaupun dari kecil dibesarkan di rumah tuanya ia tetap berbeda. Bisa saja ia bermain dengan anak-anak tuanya. Namun tetap tidak akan bisa memanggil “bapa.”

Namun Allah tidak mau membiarkan manusia terus berada dalam kondisi jauh. Yaitu seperti hamba kepada tuannya. Ia ingin mendekatkan kita kepada-Nya. Bahkan mengangkat kita menjadi anak-Nya.

5 Perbedaan Hamba dan Anak

Arti “hamba Allah” sangat berbeda dari “anak Allah.” Karena itu akhirnya saya dan Lubis berdiskusi. Kami menemukan ada berbagai perbedaan pandangan.

1. Kasih dan Hubungan.

Saya menyatakan, saya juga percaya manusia bisa mendekat kepada Allah. Namun hal ini dengan terbatas. Karena Ia Maha Tinggi dan Besar.

Yang kita bisa hanya berusaha takwa. Yaitu melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Inilah hubungan yang “wajar” dengan Allah.

Memang ada ayat yang menyatakan kita bisa berdoa. Namun seringkali beserta pra-syarat dan peringatan bagi hamba yang tidak taat.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya . . . (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat . . . maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku . . .” (QS: 2:186)

Kemudian Lubis berkata: “Bukankah kamu juga percaya Kitab Zabur? Ada ayat menarik di dalamnya.”

“Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia” (Zabur 103:13).

Kitab Zabur menyatakan Allah menyayangi umat-Nya. Allah tergambar sebagai “Bapa yang baik.” Ia sangat peduli dan mengasihi anak-anak-Nya. Karena itu kita, manusia bisa mendekat kepadanya.

Saya tidak terima dengan penjelasan ini. Saya masih berpendapat kita hanya manusia biasa yang terbatas.

2. Barokah dan Pemeliharaan.

Selanjutnya saya bertanya: “Bagaimana dengan barokah Allah? Bukankah kepercayaan kita sama? Mengajarkan ada barokah bagi yang taat dan hukuman bagi yang tidak taat?”

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) . . . jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Qs 14:7).

Dalam hal ini keyakinan Lubis ada perbedaan. Ia sangat yakin pemeliharaan Allah. Karena sebagai Bapa, Ia pasti mau menolong anak-Nya.

“Lihatlah burung-burung di udara . . . mereka dipelihara oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kamu lebih bernilai daripada burung-burung itu?” (Injil, Matius 6:26).

“Bahkan ada barokah saat kita tidak taat?” protes saya. Hal ini memicu poin selanjutnya.

3. Hukuman atas Dosa.

Saya menyatakan adalah tidak adil jika Allah tidak menghukum dosa manusia. Hal inilah yang membuat kita takut, dan akhirnya mau berusaha hidup baik.

Saya sebagai Muslim takut azab Allah. Karena setiap pelanggaran pasti ada hukumannya.

“. . . rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan. Sesungguhnya orang-orang yang beriman . . . mereka menyungkur sujud dan bertasbih . . . Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap . . .” (Qs 32:14-16).

Lubis menjelaskan bahwa bukan Allah tidak menghukum. Namun dalam penghukuman-Nya pun, Allah tergambarkan sebagai bapa yang mendidik anaknya.

“. . . Anak-Ku, janganlah engkau marah apabila Tuhan menghukummu. Janganlah putus asa . . . Biarlah Allah mendidik Saudara, sebab Ia melakukan apa yang dilakukan setiap bapa yang mengasihi anak-anaknya. Pernahkah Saudara mendengar tentang seorang anak yang tidak pernah dihajar oleh ayahnya?” (Injil, Surat Ibrani 12:5-7 FAYH).

Sehingga akhirnya kita bisa hidup benar, bukan karena takut hukuman. Melainkan karena ingin menyenangkan hati “Bapa” kita yang baik.

4. Dalam Hal Warisan Rohani dari Allah.

Selanjutnya Lubis menyatakan, dalam kepercayaannya ada warisan rohani. Sebagai anak Allah, kita mendapatkannya. 

“Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak. Jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah” (Injil, Surat Galatia 4:7).

Hal ini bermakna ada barokah dan rahmat Allah untuk kehidupan. Bisa berupa hikmah, kesembuhan, kekuatan menghadapi masalah dan sebagainya.

Saya tidak mengerti konsep warisan rohani. Yang saya ketahui hanyalah berusaha hidup sebaik mungkin dengan menjalankan ibadah dan beramal. Allah yang akan melapangkan dan menyempitkan rezeki sesuai kehendak-Nya.

5. Jaminan Masa Depan (Surga).

Namun ada pertanyaan Lubis yang membuka pikiran saya. Ia bertanya: “Bagaimana hamba bisa mendapat kepastian surga?”

Saya tidak bisa menjawab dengan pasti. Saya berkata: “Sebagai hamba kita hanya bisa berharap. Tidak tahu bagaimana nantinya keputusan Allah di akhirat.”

Kemudian saya yang kembali bertanya. “Bagaimana dengan kamu sendiri, apakah yakin mendapat surga?”

Lubis menjawab ia yakin masuk surga. Karena bapa yang baik mau memberikan anaknya masa depan yang cerah. Seorang bapa tidak mungkin menolak anaknya untuk masuk rumah. Demikianlah Allah “Bapa” pasti memberi keselamatan kekal kepada anak-anak-Nya. Maka Allah pasti menyediakan jalan keluar untuk menolong kita selamat dari dosa.

Hal ini juga merupakan warisan rohani yang kita terima. Bisa masuk ke “rumah bapa” yaitu surga yang mulia, karena kita adalah anak-anak-Nya.

“Terpujilah Allah . . . yang karena rahmat-Nya yang besar [melalui Isa] . . . [memberikan] suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa . . . yang tersimpan di sorga bagi kamu” (Injil, Surat 1 Petrus 1:3-4).

Mengapa Nasrani Yakin Bisa Dekat dengan Allah?

Semua penjelasan Lubis sangat menarik perhatian saya. Namun saya bingung dan bertanya: “Bagaimana kamu bisa yakin akan semua hal ini?”

Lubis menyatakan dalam kasih, Allah membuat jalan. Agar manusia berdosa bisa mendekat kepada-Nya.

Jalan Allah adalah Isa Al-Masih. Ia adalah perwujudan kasih Allah dalam bentuk manusia.

Jika kita mengimani dan menjadi pengikut Isa, maka kita menerima kasih Allah. Seketika itu juga kita langsung diangkat sebagai anak-Nya. Sehingga bisa mendekat kepada-Nya.

“Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus [Isa Al-Masih] kamu, yang dahulu ‘jauh,’ sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus” (Injil, Surat Efesus 2:13).

Menerima Kasih Allah Menjadi “Anak-Nya”

Selanjutnya Lubis menekankan bahwa dalam kasih, Allah pasti menerima kita menjadi anak-Nya. Ia akan mengampuni dosa dan menuntun kita sampai ke surga.

“Sebab Roh, yang diberikan oleh Allah kepada kalian, tidaklah membuat kalian menjadi hamba sehingga kalian hidup di dalam ketakutan. Sebaliknya Roh Allah itu menjadikan kalian anak-anak Allah . . . Nah, kalau kita adalah anak-anak-Nya, maka kita pun adalah ahli waris-Nya . . . Kita akan menerima bersama-sama dengan Kristus [mengimani Isa Al-Masih] . . .” (Injil, Surat Roma 8:15,17 BIS).

Inilah rupanya keyakinan Lubis. Karena ia percaya akan kasih Allah, sehingga melihat gambaran agung akan kedekatan-Nya dengan manusia.

Lubis lalu melanjutkan bahwa jika sebagai hamba pasti sangat terbatas. Sulit untuk kita benar-benar bisa mendekat kepada-Nya.

Namun sebagai anak pasti sangat berbeda. Kita bisa mendekat kepada-Nya, sehingga kita bisa mendapatkan pertolongan dan bimbingan-Nya.

Percakapan ini membuka mata saya. Saya bertanya pada diri sendiri: “Mengapa saya puas dengan menjadi hamba atau budak Allah?”  Diskusi ini adalah awal saya ingin mengerti lebih jauh mengenai menjadi “anak Allah.”

Bagaimana dengan Anda pembaca? Maukah Anda menerima kasih Allah yang mengangkat kita menjadi anak-Nya? Bahkan memberikan kita warisan indah, yaitu jaminan surga.

Mari mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.


Artikel Terkait

Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:

  1. Menjadi Hamba Allah atau Anak Allah, Mana yang Terbaik?
  2. Ke Surga, Mengapa Tidak Cukup Menjadi Kekasih Allah?
  3. Akankah Allah r-raḥmāni r-raḥīm Menghukum Manusia Yang Berdosa?

Video:

  1. Lebih Baik Menjadi Budak Allah atau Anak Allah?

Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca

Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:

  1. Menurut Saudara mengapa banyak ayat yang menyatakan Allah dekat, juga disertai dengan ancaman peringatan dan hukuman?
  2. Manusia penuh dosa. Bagaimana Saudara menyikapi ayat yang menyatakan pasti ada hukuman untuk setiap dosa hamba Allah?
  3. Bagaimana pendapat Saudara mengenai Allah penuh kasih sehingga mau mendekatkan kita menjadi anak-Nya?

Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, maaf bila terpaksa kami hapus.

Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”

Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini. Atau WA/SMS ke: 0812-9530-4930

Kategori: Pertanyaan Umum

Bagikan Artikel Ini:

Share on Facebook Share on X (Twitter) Share on WhatsApp Share on Email Share on SMS

PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR

Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!

Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected].

Subscribe
Beritahulah

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

0 Comments
Paling lama
Terbaru

Sidebar

Artikel Terbaru

  • Apakah Saya Akan Masuk Surga? Ini Jalan Allah
  • Hadis Tentang Nabi Isa: Satu-Satunya Yang Tidak Tersentuh Setan
  • Sejarah Mekah Dalam Terang Arkeologi Dan Ilmu Pengetahuan
  • Hikmah Qurban Nabi Ibrahim
  • Apakah Makna Qurban Idul Adha Yang Sebenarnya?

Artikel Terpopuler Bulan Ini

  • Antara Agama Dan Korupsi: Bagaimana Menjaga Hati Bersih?
  • Hadis Tentang Nabi Isa: Satu-Satunya Yang Tidak Tersentuh Setan
  • Apakah Saya Akan Masuk Surga? Ini Jalan Allah
  • Contoh Menghina Allah Paling Nyata: Menghina Kalimatullah
  • Potong Kuku Dalam Islam Menjaga Kebersihan Jasmani dan Hati?

Artikel Yang Terhubung

  • Apakah Isa Al-Masih Anak Allah?
  • Tauhid, Trinitas, Dan Keesaan Allah
  • Apa Saja Isi Pokok Kitab Suci Taurat, Zabur dan Injil?
  • Pengertian Akhir Zaman dan Hari Kiamat

Hubungi Kami

Apabila Anda memiliki pertanyaan / komentar, silakan menghubungi kami dengan menekan tombol di bawah ini.

Hubungi Kami

Renungan Berkala Isa dan Al-Fatihah

Apabila Anda ingin menerima renungan singkat setiap minggu, silakan menekan tombol di bawah ini

Renungan Berkala Isa Dan Al-Fatihah

Social Media

Facebook
TikTok
Instagram
YouTube

Hak Cipta © 2009–2026 | Dialog Agama Isa dan Islam. | Kebijakan Privasi | Kebijakan Dalam Membalas Email | Hubungi Kami

wpDiscuz