• Skip to main content
  • Skip to header right navigation
  • Skip to site footer
Isa Dan Islam

Isa Dan Islam

Dialog Agama - Isa dan Islam

  • Maksud Situs Ini
    • Tentang Kami
    • Isa dan Al-Fatihah
    • Daftar Artikel
  • Jalan ke Surga
  • Artikel
  • Media
  • Kitab Suci
  • Hubungi Kami

Bagaimana Saya Mengatasi Rasa Malu kepada Allah?

Isa Dan Islam > Artikel > Keselamatan > Pengampunan > Bagaimana Saya Mengatasi Rasa Malu kepada Allah?
8 Oktober 2025 | 7 Komentar

Pelaku kasus kriminal sering menutupi wajahnya saat diliput media. Anak kecil lari bersembunyi dari orang tuanya setelah melakukan kesalahan.

Kita sebagai manusia memiliki rasa malu. Terutama saat kedapatan berbuat kesalahan.

Di hadapan manusia, kita bisa mencoba menutupi aib. Harapannya agar orang lain tidak mengetahui. Sehingga kita tetap terlihat baik.

Namun bagaimana di hadapan Allah? Ia adalah Maha Tahu. Ia melihat semua dosa. Nantinya kita juga akan menghadap pengadilan-Nya di akhirat.

Keadaan inilah yang menimbulkan rasa malu kepada Allah. Karena semua keburukan kita pasti tampak di hadapan-Nya.

Bagaimana mengatasi rasa malu kepada Allah? Mari kita simak pembahasannya. Agar kita bisa mendapat keyakinan menghadap Allah di akhirat.

Pertama Kali Rasa Malu Kepada Allah Muncul

Kita mengetahui bahwa pada awalnya Allah menciptakan manusia dengan baik. Namun dosa yang menyebabkan manusia malu.

Hal ini terjadi kepada Nabi Adam dan Siti Hawa. Yaitu saat mereka memakan buah terlarang.

“. . . tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga . . .” (Qs 7:22).

Rupanya sebelum berdosa, mereka hidup tanpa rasa malu. Dosa yang merusak keberadaan manusia.

Dosa menjadi cela sehingga menimbulkan rasa malu. Nabi Adam dan Siti Hawa malu kepada Allah. Mereka juga malu terhadap satu sama lain.

Tidak Mampu Menutup Rasa Malu Kepada Allah

Manusia pertama berusaha mengatasi rasa malu. Mereka mencoba menutupnya dengan tumbuhan atau dedaunan yang ada.

Namun usaha manusia sangat terbatas. Apa yang Nabi Adam dan Siti Hawa buat, tidak mampu menutupi aurat mereka dengan baik.

Melihat keadaan ini, Allah yang menolong mereka. Karena manusia tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.

Allah menolong dengan memberikan pakaian. Pakaian dari Allah inilah yang mampu untuk menutupi aurat manusia dengan baik.

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu . . . dan pakaian takwa itulah yang paling baik . . .” (Qs 7:26).

Dosa Manusia Membuat Malu

Hal ini serupa dengan keadaan kita sekarang. Sebagai anak cucu Nabi Adam juga memiliki dosa.

Selama hidup ada banyak kesalahan yang kita perbuat. Semua manusia pasti melakukan banyak dosa.

“Sekali-kali manusia tidak akan binasa hingga mereka banyak melakukan kesalahan . . .” (Hadits Abu Daud 3783).

Semua dosa adalah noda hitam dalam hati. Merupakan aib yang memalukan di hadapan Allah.

Karena itu kita berusaha untuk menutupinya. Kita mencoba melakukannya dengan taubat agar bisa mendapatkan ampunan-Nya.

Namun kita lemah. Setelah bertaubat, kita tetap melakukan dosa lagi.

Kita juga berusaha dengan mentaati semua syariat agama. Namun, kita penuh dosa. Mustahil kita mampu takwa seluruh perintah-Nya dengan sempurna.

Dalam keadaan seperti ini pastilah dosa kita terlihat oleh-Nya. Bagaimana kita bisa terhindar dari rasa malu kepada Allah?

Kisah Pertolongan Mengatasi Rasa Malu

Ada kisah seorang anak kecil yang gemar main sepeda. Ia sering berkendara seputar daerah rumahnya.

Hanya ada satu larangan dari orang tua. Yaitu agar dia tidak main ke ladang di belakang rumah. Karena jalan di sana licin, dan memiliki beberapa kubangan lumpur.

Suatu saat ia penasaran. Dengan diam-diam, ia mengayuh sepedanya untuk main ke sana.

Alhasil ia terjatuh ke dalam kubangan lumpur. Kakinya penuh luka. Jalannya menjadi sedikit pincang. Pakaiannya juga sangat kotor.

Ia menjadi sangat malu saat bertemu teman-temannya. Terlebih lagi malu dan takut untuk bertemu orang tuanya.

Ia berusaha membersihkan lumpur dari pakaian dan sepedanya. Namun tentu saja usahanya terbatas. Semua kekotoran itu masih jelas terlihat padanya.

Anak kecil ini dengan kemampuannya sendiri tidak bisa membersihkan diri. Apapun yang dia lakukan tidak cukup untuk menutup kekotorannya.

Saat melihatnya, sang ayah tergerak menolong. Tentu hal ini adalah kesalahan sang anak. Namun sebagai orang tua pasti mau menyelamatkan anaknya yang dalam kesulitan.

Sang ayah lalu menghampirinya. Ia menggendong anak itu yang berjalan pincang karena luka.

Sang ayah kemudian membawanya ke rumah. Memberikan kesempatan untuk mandi. Kemudian berganti dengan pakaian bersih. Lalu ibu mengobati luka di kaki anak itu.

Dengan demikian sang anak bisa terlepas dari rasa malu. Sekarang pakaiannya bersih. Sepedanya juga sudah dicuci. Luka di kakinya telah diobati.

Hanya Allah yang Mampu Menolong

Demikianlah keadaan manusia di hadapan Allah. Dari awal, yaitu Nabi Adam dan Siti Hawa tidak mampu menutup rasa malu.

Hanya Allah yang menjadi penolong sejati. Hanya Allah yang menjadi penyelamat.

Rupanya, pertolongan Allah ini telah tertulis jelas dalam Kitab Allah. Yaitu, hal ini terdapat dalam Kitab Taurat, Zabur dan Injil.

“Aku, Akulah Allah. Tidak ada penyelamat, selain Aku . . . Jiwaku bergembira di dalam Tuhanku karena Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku . . .” (Taurat, Yesaya 43:11; 61:10).

Tertulis jelas bahwa hanya Allah yang mampu menyelamatkan. Hanya Dia yang bisa menolong manusia dari dosa.

Sama seperti Allah yang memberikan Nabi Adam dan Siti Hawa pakaian. Demikianlah hanya Allah yang mampu menutup sepenuhnya kekotoran hati manusia.

Pertolongan Allah Mengatasi Rasa Malu

Cara Allah menolong dengan Ia sendiri yang menjelma dalam wujud manusia. Ia datang untuk mendapati kita dalam kelemahan dan kekotoran kita. Inilah Isa Al-Masih.

Isa adalah Allah yang menjelma menjadi manusia. Ia lahir melalui perawan Maryam.

Lalu Isa mati di kayu salib untuk menggantikan kita. Isa menerima hukuman untuk dosa kita.

Sehingga melalui Isa, kita menerima ampunan dosa. Kita bisa sepenuhnya terbebas dari rasa malu kepada Allah.

“ . . . darah Isa, Sang Anak yang datang daripada-Nya [Kalimatullah], menyucikan kita dari semua dosa . . . Jikalau kita mengakui dosa-dosa kita, maka Allah . . . akan mengampuni dosa-dosa kita serta menyucikan kita dari semua kejahatan” (Injil, Surat 1 Yahya 1:7,9).

Kita menerima pertolongan Allah ini dengan mengimani Isa Al-Masih. Dia adalah jelmaan Allah dalam rupa manusia. Sehingga kita mencari bimbingan dan ampunan-Nya.

Selanjutnya kita hidup untuk mengikuti dan meneladani Isa.

Terbebas dari Rasa Malu pada Allah

Usaha manusia memang terbatas. Namun keselamatan Allah yang sempurna.

Maukah Anda mendapatkan pertolongan-Nya? Allah telah menyediakan jalan selamat. Melaluinya kita pasti terbebas dari rasa malu kepada Allah. Juga kita akan mendapatkan jaminan surga-Nya.

“Karena Isa Al-Masih pengampunan atas dosa-dosa diberitakan kepadamu. Semua orang yang percaya kepada-Nya dibebaskan dari segala dosa, yang tidak dapat dihapuskan melalui berusaha mentaati semua hukum-Nya” (Injil, Kisah Para Rasul 13:38-39, parafrasa).

Mari menerima pertolongan-Nya dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.


 

Lihat artikel ini dalam bentuk video

 

 

 

Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca

Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:

  1. Apakah Saudara setuju bahwa setiap kita pernah melakukan kesalahan yang mempermalukan kita? Jelaskan jawaban Saudara!
  2. Apa yang Saudara lakukan untuk menutupi rasa malu kepada Allah?
  3. Bagaimana Allah menyediakan “pakaian kebenaran” untuk menutupi rasa malu kita?

Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.

Artikel Terkait

Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:

  1. Menurut Al-Quran, Apakah Nabi Adam Berbuat Dosa Besar?
  2. Bagaimana Orang Beragama Dapat Mengatasi Rasa Malu?
  3. Keselamatan Kekal Karena Kebaikan Allah Ar-Rahman
  4. Petunjuk Allah Dalam Al-Quran, Taurat, dan Injil

Video:

  1. Isa, Orang Beragama dan Rasa Malu

Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”

 

Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini. atau SMS ke: 0812-9530-4930

 

Kategori: Keselamatan, PengampunanTag: dosa, menghapus kesalahan masa lalu, menutupi rasa malu, video

Bagikan Artikel Ini:

Share on Facebook Share on X (Twitter) Share on WhatsApp Share on Email Share on SMS

PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR

Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!

Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected].

Subscribe
Beritahulah

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

7 Comments
Paling lama
Terbaru
Rahel
10 Maret 2020 5:44 pm

~
Pendapat saya tentang pakaian kebenaran di sini mungkin maksudnya adalah keKudusan. Kekudusan untuk dapat menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah. Allah menghendaki kita Kudus di dalam-Nya.

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
11 Maret 2020 10:23 am
Balasan ke  Rahel

~
Saudara Rahel,

Penafsiran demikian bisa saja disampaikan. Memang benar bahwa Allah menghendaki kekudusan pada manusia. Sekalipun hal itu tidak mungkin. Itu sebabnya, Allah sendiri nuzul ke dunia untuk menjadikan manusia suci dan dapat diterima Allah. Bukankah kenajisan manusia yang menghalangi manusia dapat datang dan diterima Allah? Kami berharap saudara-saudara di forum ini memikirkan dan mencari kebenaran sesungguhnya. Terima kasih.
~
Solihin

Balas
Yoga
11 Maret 2020 10:52 am

~
1.Keburukan yang tak sengaja atau tak disadari disebut kesalahan. Sedangkan keburukan yang sengaja diperbuat disebut dzholim.
2.Para nabi mengajarkan malu akan dosa dengan bertaubat atau meminta ampun kepada Allah, agar umatnya lebih bisa menjaga diri terutama pada larangan-Nya.
3.Manusia dihadapkan pada hasanah /kebaikan serta sayyiah /keburukan dari hal sepele sampai perkara besar.Sungguh rasa malu hanya timbul jika seseorang mempelajari kedua hal tersebut sesuai yang digariskan Allah.

Balas
Amorata
3 April 2020 6:26 pm

~
Di sini mungkin komentar ini tidak berhubungan, tapi dari rasa ingin tahu saja. Mengenai Qs 7:26, “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami (Allah) telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untukmu.” Pertanyaanku: Kami dalam kurung adalah Allah. Lalu, Qs 72:11 al jin, “Dan sesungguhnya, diantara Kami (para jin) ada orang-orang yang saleh, dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” Ini minta tolong untuk dijelaskan mana yang membedakan kami para jin, dan kami (allah).

Allah adalah Esa, bukan Kami. Mohon dijelaskan juga mengenai ini, apakah tidak malu punya kitab simpang siur?

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
4 April 2020 4:07 pm
Balasan ke  Amorata

~
Saudara Amorata,

Saudara memberikan pertanyaan yang baik sekali. Kami berharap saudara-saudara Muslim dapat memberikan jawaban yang memadai dan konkret dengan menyertakan data dan fakta sesungguhnya. Terima kasih untuk tanggapan saudara.
~
Solihin

Balas
Rahel
6 April 2020 7:45 pm

*
3. Kejadian 3:7 apabila kita manusia berusaha sekeras apapun tetap saja tidak dapat menutupi rasa malu kita di hadapan Allah. Kejadian 3:21, maka memanglah harus dari Allah sendiri yang membuatkan pakaian tersebut dari kulit binatang, dalam artian ada korban darah untuk menutupi malu.

Amalan baik ibarat daun-daun, rasa malu ibarat dosa, mau sebanyak amalan baik apapun tetap berdosa/malulah kita di hadapan Allah, tidak dapat masuk hadirat Allah. Maka harus Allah sendirilah yang menyiapkan pakaian untuk menutupi dosa kita. Sebab upah dosa ialah maut; dan yang dapat mengalahkan maut, Allah sendiri. Inilah makna korban sembelihan Abraham, penolakan tulah di Mesir, dll maka puncaknya adalah makna salib itu sendiri.

Balas
Admin
Staff Isa dan Islam
7 April 2020 7:22 am
Balasan ke  Rahel

~
Saudara Rahel,

Orang yang tertangkap berbuat dosa, seperti mencuri, narkoba, dan lain sebagainya pasti akan merasa malu. Rasa malu itu merupakan bentuk terungkapnya kesalahan manusia. Karena itu, kita semua adalah manusia berdosa yang seharusnya malu kepada Allah karena kita terbuka di hadapan Allah. Tidak ada yang tersembunyi baginya. Itu sebabnya, tidak ada perbuatan manusia yang dapat menutupi rasa malu manusia, kecuali Isa Al-Masih. Terima kasih untuk tanggapan saudara.
~
Solihin

Balas

Sidebar

Artikel Terbaru

  • Apakah Saya Akan Masuk Surga? Ini Jalan Allah
  • Hadis Tentang Nabi Isa: Satu-Satunya Yang Tidak Tersentuh Setan
  • Sejarah Mekah Dalam Terang Arkeologi Dan Ilmu Pengetahuan
  • Hikmah Qurban Nabi Ibrahim
  • Apakah Makna Qurban Idul Adha Yang Sebenarnya?

Artikel Terpopuler Bulan Ini

  • Antara Agama Dan Korupsi: Bagaimana Menjaga Hati Bersih?
  • Hadis Tentang Nabi Isa: Satu-Satunya Yang Tidak Tersentuh Setan
  • Apakah Saya Akan Masuk Surga? Ini Jalan Allah
  • Contoh Menghina Allah Paling Nyata: Menghina Kalimatullah
  • Potong Kuku Dalam Islam Menjaga Kebersihan Jasmani dan Hati?

Artikel Yang Terhubung

  • Apakah Saya Akan Masuk Surga? Ini Jalan Allah
  • Banyak Agama, Namun Manakah Jalan Menuju Surga Allah? 
  • Adakah Dosa yang Tidak Bisa Diampuni Allah? 

Hubungi Kami

Apabila Anda memiliki pertanyaan / komentar, silakan menghubungi kami dengan menekan tombol di bawah ini.

Hubungi Kami

Renungan Berkala Isa dan Al-Fatihah

Apabila Anda ingin menerima renungan singkat setiap minggu, silakan menekan tombol di bawah ini

Renungan Berkala Isa Dan Al-Fatihah

Social Media

Facebook
TikTok
Instagram
YouTube

Hak Cipta © 2009–2026 | Dialog Agama Isa dan Islam. | Kebijakan Privasi | Kebijakan Dalam Membalas Email | Hubungi Kami

wpDiscuz