
Kita sebagai manusia memiliki rasa malu. Terutama saat kedapatan berbuat kesalahan.
Di hadapan manusia, kita bisa mencoba menutupi aib. Harapannya agar orang lain tidak mengetahui. Sehingga kita tetap terlihat baik.
Namun bagaimana di hadapan Allah? Ia adalah Maha Tahu. Ia melihat semua dosa. Nantinya kita juga akan menghadap pengadilan-Nya di akhirat.
Keadaan inilah yang menimbulkan rasa malu kepada Allah. Karena semua keburukan kita pasti tampak di hadapan-Nya.
Bagaimana mengatasi rasa malu kepada Allah? Mari kita simak pembahasannya. Agar kita bisa mendapat keyakinan menghadap Allah di akhirat.
Pertama Kali Rasa Malu Kepada Allah Muncul

Hal ini terjadi kepada Nabi Adam dan Siti Hawa. Yaitu saat mereka memakan buah terlarang.
“. . . tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga . . .” (Qs 7:22).
Rupanya sebelum berdosa, mereka hidup tanpa rasa malu. Dosa yang merusak keberadaan manusia.
Dosa menjadi cela sehingga menimbulkan rasa malu. Nabi Adam dan Siti Hawa malu kepada Allah. Mereka juga malu terhadap satu sama lain.
Tidak Mampu Menutup Rasa Malu Kepada Allah
Manusia pertama berusaha mengatasi rasa malu. Mereka mencoba menutupnya dengan tumbuhan atau dedaunan yang ada.
Namun usaha manusia sangat terbatas. Apa yang Nabi Adam dan Siti Hawa buat, tidak mampu menutupi aurat mereka dengan baik.
Melihat keadaan ini, Allah yang menolong mereka. Karena manusia tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.
Allah menolong dengan memberikan pakaian. Pakaian dari Allah inilah yang mampu untuk menutupi aurat manusia dengan baik.
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu . . . dan pakaian takwa itulah yang paling baik . . .” (Qs 7:26).
Dosa Manusia Membuat Malu

Selama hidup ada banyak kesalahan yang kita perbuat. Semua manusia pasti melakukan banyak dosa.
“Sekali-kali manusia tidak akan binasa hingga mereka banyak melakukan kesalahan . . .” (Hadits Abu Daud 3783).
Semua dosa adalah noda hitam dalam hati. Merupakan aib yang memalukan di hadapan Allah.
Karena itu kita berusaha untuk menutupinya. Kita mencoba melakukannya dengan taubat agar bisa mendapatkan ampunan-Nya.
Namun kita lemah. Setelah bertaubat, kita tetap melakukan dosa lagi.
Kita juga berusaha dengan mentaati semua syariat agama. Namun, kita penuh dosa. Mustahil kita mampu takwa seluruh perintah-Nya dengan sempurna.
Dalam keadaan seperti ini pastilah dosa kita terlihat oleh-Nya. Bagaimana kita bisa terhindar dari rasa malu kepada Allah?
Kisah Pertolongan Mengatasi Rasa Malu
Ada kisah seorang anak kecil yang gemar main sepeda. Ia sering berkendara seputar daerah rumahnya.
Hanya ada satu larangan dari orang tua. Yaitu agar dia tidak main ke ladang di belakang rumah. Karena jalan di sana licin, dan memiliki beberapa kubangan lumpur.
Suatu saat ia penasaran. Dengan diam-diam, ia mengayuh sepedanya untuk main ke sana.
Alhasil ia terjatuh ke dalam kubangan lumpur. Kakinya penuh luka. Jalannya menjadi sedikit pincang. Pakaiannya juga sangat kotor.
Ia menjadi sangat malu saat bertemu teman-temannya. Terlebih lagi malu dan takut untuk bertemu orang tuanya.
Ia berusaha membersihkan lumpur dari pakaian dan sepedanya. Namun tentu saja usahanya terbatas. Semua kekotoran itu masih jelas terlihat padanya.
Anak kecil ini dengan kemampuannya sendiri tidak bisa membersihkan diri. Apapun yang dia lakukan tidak cukup untuk menutup kekotorannya.
Saat melihatnya, sang ayah tergerak menolong. Tentu hal ini adalah kesalahan sang anak. Namun sebagai orang tua pasti mau menyelamatkan anaknya yang dalam kesulitan.
Sang ayah lalu menghampirinya. Ia menggendong anak itu yang berjalan pincang karena luka.
Sang ayah kemudian membawanya ke rumah. Memberikan kesempatan untuk mandi. Kemudian berganti dengan pakaian bersih. Lalu ibu mengobati luka di kaki anak itu.
Dengan demikian sang anak bisa terlepas dari rasa malu. Sekarang pakaiannya bersih. Sepedanya juga sudah dicuci. Luka di kakinya telah diobati.
Hanya Allah yang Mampu Menolong
Demikianlah keadaan manusia di hadapan Allah. Dari awal, yaitu Nabi Adam dan Siti Hawa tidak mampu menutup rasa malu.
Hanya Allah yang menjadi penolong sejati. Hanya Allah yang menjadi penyelamat.
Rupanya, pertolongan Allah ini telah tertulis jelas dalam Kitab Allah. Yaitu, hal ini terdapat dalam Kitab Taurat, Zabur dan Injil.
“Aku, Akulah Allah. Tidak ada penyelamat, selain Aku . . . Jiwaku bergembira di dalam Tuhanku karena Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku . . .” (Taurat, Yesaya 43:11; 61:10).
Tertulis jelas bahwa hanya Allah yang mampu menyelamatkan. Hanya Dia yang bisa menolong manusia dari dosa.
Sama seperti Allah yang memberikan Nabi Adam dan Siti Hawa pakaian. Demikianlah hanya Allah yang mampu menutup sepenuhnya kekotoran hati manusia.
Pertolongan Allah Mengatasi Rasa Malu
Cara Allah menolong dengan Ia sendiri yang menjelma dalam wujud manusia. Ia datang untuk mendapati kita dalam kelemahan dan kekotoran kita. Inilah Isa Al-Masih.
Isa adalah Allah yang menjelma menjadi manusia. Ia lahir melalui perawan Maryam.
Lalu Isa mati di kayu salib untuk menggantikan kita. Isa menerima hukuman untuk dosa kita.
Sehingga melalui Isa, kita menerima ampunan dosa. Kita bisa sepenuhnya terbebas dari rasa malu kepada Allah.
“ . . . darah Isa, Sang Anak yang datang daripada-Nya [Kalimatullah], menyucikan kita dari semua dosa . . . Jikalau kita mengakui dosa-dosa kita, maka Allah . . . akan mengampuni dosa-dosa kita serta menyucikan kita dari semua kejahatan” (Injil, Surat 1 Yahya 1:7,9).
Kita menerima pertolongan Allah ini dengan mengimani Isa Al-Masih. Dia adalah jelmaan Allah dalam rupa manusia. Sehingga kita mencari bimbingan dan ampunan-Nya.
Selanjutnya kita hidup untuk mengikuti dan meneladani Isa.
Terbebas dari Rasa Malu pada Allah

Maukah Anda mendapatkan pertolongan-Nya? Allah telah menyediakan jalan selamat. Melaluinya kita pasti terbebas dari rasa malu kepada Allah. Juga kita akan mendapatkan jaminan surga-Nya.
“Karena Isa Al-Masih pengampunan atas dosa-dosa diberitakan kepadamu. Semua orang yang percaya kepada-Nya dibebaskan dari segala dosa, yang tidak dapat dihapuskan melalui berusaha mentaati semua hukum-Nya” (Injil, Kisah Para Rasul 13:38-39, parafrasa).
Mari menerima pertolongan-Nya dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.
Lihat artikel ini dalam bentuk video
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Apakah Saudara setuju bahwa setiap kita pernah melakukan kesalahan yang mempermalukan kita? Jelaskan jawaban Saudara!
- Apa yang Saudara lakukan untuk menutupi rasa malu kepada Allah?
- Bagaimana Allah menyediakan “pakaian kebenaran” untuk menutupi rasa malu kita?
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:
- Menurut Al-Quran, Apakah Nabi Adam Berbuat Dosa Besar?
- Bagaimana Orang Beragama Dapat Mengatasi Rasa Malu?
- Keselamatan Kekal Karena Kebaikan Allah Ar-Rahman
- Petunjuk Allah Dalam Al-Quran, Taurat, dan Injil
Video:
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”

PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected].