
Inilah curahan hati teman saya, Karim. Ia berkata bahwa tidak melihat bukti Allah bersifat Ar-Rahman. Hidupnya mengalami banyak masalah. Dan ia juga takut hukuman Allah di akhirat.
Karim berkata: “Saya merasa gelisah dengan kehidupan. Bagaimana saya di bumi menderita dan nantinya di akhirat masuk neraka?”
Akhirnya saya dan Suhaimin berdiskusi dengan Karim. Kami ingin menghibur dan menguatkannya.
Apakah Anda juga sulit memahami bukti Allah bersifat Ar-Rahman? Mari simak percakapan kami. Agar Anda bisa dikuatkan dan mendapatkan rahmat Allah.
Sulit Melihat Bukti Allah Bersifat Ar-Rahman
Karim menceritakan bahwa kehidupannya penuh tantangan. Sekarang ia sedang kuliah. Namun keadaan keuangan keluarganya memburuk. Ibunya sedang sakit dan membutuhkan banyak perawatan.
Selain itu ia juga baru saja dikecewakan teman dekat masa kecilnya. Teman ini pernah pinjam uang dan sampai sekarang tidak mengembalikan.
Pada saat Karim membutuhkan keuangan, ia meminta tolong untuk pelunasan hutang. Namun temannya malah menghilang, tidak bisa dihubungi.
Terlebih lagi Karim juga khawatir akan akhirat. Ia menyadari telah melakukan banyak dosa. Ia menjadi takut tidak dapat masuk surga.
Akhirnya Karim mempertanyakan bukti Allah bersifat Ar-Rahman. Karena ia merasa jika ia perlu tabah di bumi, pastilah untuk bisa mendapatkan rahmat Allah di akhirat. Namun ia tidak memperoleh jaminan itu juga.
Allah Maha Pemurah (Ar-Rahman) dalam Al-Quran
Saya dan Suhaimin mendengarkan dengan seksama. Selanjutnya Suhaimin berkata bahwa ada bukti Allah bersifat Ar-Rahman. Ajaran agama menyatakan demikian.
Memang sifat Allah adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Bermakna Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Sifat Ar-Rahman artinya Maha Pengasih atau Pemberi Rahmat. Sifat ini menyatakan kebaikan Allah kepada segala mahkluk. Secara umum Allah yang memberikan udara, hujan dan berkah.
Sifat Ar-Rahman juga Ia tunjukkan secara khusus kepada hamba-hamba-Nya. Yaitu orang yang taat menyembah-Nya.
Ar-Rahman yang Bersyarat?
Saat itulah Karim menyatakan kegelisahannya. Ia membaca banyak dalil yang menyatakan tidak semua orang mendapatkan rahmat Allah.

Atau ayat lain: “Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat” (Qs 24:56). Menyatakan kita perlu beribadah dengan baik agar mendapat rahmat-Nya.
Karim mengatakan ia memang berusaha hidup baik. Namun sebagai manusia ia penuh dengan khilaf dan salah.
Sadar akan kekurangannya membuat Karim merasa takut. Dia sedang mengalami kesusahan hidup dan merasa tidak layak mendapat pertolongan Allah.
Kisah Orang Tua dengan Dua Anak
Selanjutnya Karim mengungkapkan perasaannya lebih dalam. Ia mengatakan pernah mendengar kisah tentang dua saudara.
Ada sebuah keluarga memiliki dua orang anak. Yang sulung sangat rajin dan pintar di sekolah. Sedangkan yang bungsu malas. Ia kerap mendapat nilai jelek.
Orang tua mereka memperlakukan kedua anak ini berbeda. Si sulung sangat dipuji-puji, bahkan di hadapan para tetangga. Anak sulung juga mendapat banyak hadiah saat lebaran.
Namun si bungsu yang kerap mendapat teguran. Ia sedikit mendapat hadiah. Bahkan kadang orang tuanya merasa malu mengajaknya pergi ke luar.
Keadaan ini menyatakan kasih orang tua tersebut bersyarat. Hanya mengasihi anak yang rajin saja.
Demikianlah perasaan Karim menghadapi kehidupan. Ia sulit melihat bukti Allah bersifat Ar-Rahman.
Pemikiran Karim, bukankah seharusnya rahmat Allah bersifat “cuma-cuma.” Bukan merupakan imbalan dari perbuatan baik. Namun kenyataannya banyak dalil menyatakan sebaliknya.
Kisah yang Menjadi Bukti Allah Bersifat Ar-Rahman
Saat itulah saya mulai berbicara. Saya menyatakan saya pernah mengetahui kisah yang mirip dengan dua saudara itu. Namun respon orang tuanya sangat berbeda.
Pernah ada seorang anak bungsu meminta warisan kepada ayahnya. Padahal sang ayah masih hidup.

Hal ini terus ia lakukan sampai hartanya habis. Setelah itu barulah sang anak menderita. Ia hidup menjadi budak orang lain.
Sampai satu saat ia tersadar dan menyesal. Ia terpikir ingin kembali ke rumah ayahnya.
Pada awalnya ia sangat takut karena banyak dosa. Namun akhirnya ia memberanikan diri juga untuk pulang.
Yang menarik adalah sang ayah menerima dengan bahagia. Ia bahkan berlari meyambut dan memeluk anak itu.
Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia” (Injil, Lukas 15:20).
Inilah gambaran dari bukti Allah bersifat Ar-Rahman. Ia menerima kita saat masih berdosa.
Allah Ar-Rahman Menyelamatkan Manusia Berdosa
Karim dan Suhaimin bertanya dari mana kisah ini berasal. Karena mereka belum pernah mendengar sebelumnya.
Mereka sebagai teman saya, sudah mengetahui saya adalah pengikut Isa Al-Masih. Jadi saya informasikan bahwa kisah itu terdapat dalam Kitab Injil Lukas pasal 15.
Ini adalah salah satu ajaran dari Isa Al-Masih. Intinya, mengenai Allah yang penuh kasih dan rahmat.
Inilah bukti terbesar Allah bersifat Ar-Rahman. Yaitu bahwa justru Allah menerima dan menolong saat kita masih berdosa.
“. . . bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku [Isa Al-Masih] datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Injil, Markus 2:17).
Cara Allah menyelamatkan adalah dengan menjelma menjadi manusia. Isa Al-Masih yang lahir dari perawan Maryam adalah jelmaan Ilahi.
Isa datang mengajarkan kebenaran. Ia juga mati di kayu salib untuk menanggung hukuman atas dosa manusia.
“Akan tetapi, Allah menyatakan kasih-Nya kepada kita karena Al-Masih telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa” (Injil, Surat Rum 5:8).
Melalui Isa kita mendapat bukti Allah bersifat Ar-Rahman. Yaitu yang terutama, mendapat ampunan Allah dari dosa kita. Sehingga kita bisa mendapat surga-Nya.
Allah Ar-Rahman Peduli dan Menolong Manusia
Selanjutnya saya mengatakan bahwa Allah Ar-Rahman mau mendengarkan doa kita. Bahkan saat kita jauh dari Allah, Ia tetap mendengarkan kita.
“Aku menyerukan nama-Mu, ya Allah, dari lubang tutupan yang terdalam. Engkau mendengar suaraku! . . . Pada waktu aku berseru kepada-Mu, Engkau datang mendekat. Firman-Mu, ‘Jangan takut!’” (Taurat, Ratapan 3:55-57).
Karena itu kita bisa berharap akan pertolongan-Nya. Memang banyak kesusahan hidup, namun Allah peduli.

Semua kita pasti bisa mendapatkan rahmat Allah. Caranya adalah dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.
Mengimani Allah Ar-Rahman
Karim dan Suhaimin mendengarkan dengan seksama. Karim berkata bahwa ia menjadi terhibur. Ia mendengar ada sisi rahmat Allah yang selama ini ia tidak ketahui.
Ia berjanji untuk merenungkannya. Ia sangat senang jika hidupnya dapat ditolong Allah. Terlebih lagi jika mendapat kepastian surga.
Bagaimana dengan Saudara pembaca? Bukti Allah bersifat Ar-Rahman terutama dari pengampunan-Nya atas dosa melalui Isa Al-Masih.
Maukah Anda mendapat pertolongan Allah dan jaminan surga? Mari mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih!
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Menurut Saudara, apakah arti rahmat itu?
- Siapakah orang-orang yang layak mendapat kasih Allah secara “cuma-cuma”?
- Bagaimana perasaan Saudara mengetahui bahwa Allah tetap mengasihi kita meskipun kita berdosa?
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.
Artikel Terkait
Berikut ini tiga link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:
- Relasi Masuk Sorga Karena Rahmat Allah Dan Isa Al-Masih
- Kebencian Ataukah Kasih Yang Umat Beragama Butuhkan?
- Cara Muslim Menghindari Pintu Neraka
Video:
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”

PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected].