
Aparat setempat menegaskan bahwa hukum itu berlaku di daerah tersebut. Sehingga semua warga patut mengikutinya.
Padahal wanita muda ini perlu mencari nafkah. Ia butuh membantu keluarga memenuhi kebutuhan hidupnya. Pantaskah orang yang mencari nafkah dihukum?
Mari kita simak bagaimana sebenarnya hukum jual makanan di bulan Ramadhan. Agar kita bisa hidup dengan baik dan melakukan ibadah yang benar.
Tekanan Saat Jual Makanan di Bulan Ramadhan
Pada kenyataannya ada banyak persekusi terjadi di masyarakat. Banyak yang protes jika ada yang jual makanan di bulan Ramadhan.
Hal ini bisa berupa cibiran, omelan dan sindiran. Namun bisa juga berupa tindakan kekerasan untuk tutup paksa.
Di Aceh, mereka melakukan tindakan lebih jauh lagi. Sebagai daerah yang menerapkan syariat mereka memberi hukuman berupa dicambuk.
Contohnya pada tahun 2010 hal ini pernah terjadi. Ada dua wanita penjual makanan yang mendapat cambuk tiga kali.
Keadaan ini terus berlanjut. Pada tahun 2022 ada berita tindakan tegas satpol PP Aceh. Mereka melakukan penggerebekan warung makanan. Mereka menyita semua makanan yang ada. Juga mengancam hukuman cambuk jika tetap menjual makanan di bulan Ramadhan.
Tidak Boleh Jual Makanan di Bulan Ramadhan?
Melihat semua kejadian ini menyatakan penting untuk kita paham hukum agama. Bagaimana sesungguhnya dalil mengenai jual makanan di bulan Ramadhan?
Memang hal ini masih menimbulkan pro dan kontra. Sebagian ulama menyatakan tidak boleh, namun sebagian lainnya menyatakan bisa saja.
Ulama yang melarang jual makanan di bulan Ramadhan mengambil dalil dari Al-Quran. Menyatakan bahwa berpuasa adalah wajb hukumnya.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah . . . dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran . . .” (Qs 5:2).

Boleh Jual Makanan di Bulan Ramadhan?
Namun banyak ulama lain yang mengajarkan bahwa sebenarnya bisa saja jual makanan di bulan Ramadhan. Hal ini karena ada dalil kelonggaran dalam ibadah.
Contohnya: “. . . maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), . . . bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin . . .” (Qs 2:184).
Dalam ajaran agama ada beberapa kondisi orang mendapat izin tidak puasa. Misalnya wanita haid, orang sedang sakit atau dalam perjalanan.
Dalil ini menjadi dasar banyak ulama berpendapat boleh saja jual makanan di bulan Ramadhan. Karena bisa membantu bukan saja non-Muslim namun juga orang Islam yang sedang tidak puasa.
Tempat berjualan juga menjadi penting. Misalnya tidak etis berjualan makanan jika dekat mesjid. Namun jika di tempat umum, atau di jalur pantura, bisa saja. Karena memang di sana tempat orang dalam perjalanan melintas.
Terlebih lagi kita hidup dalam negara Indonesia. Hukum negara tidak melarang orang jual makanan di bulan Ramadhan.
Berbagai Keadaan dalam Masyarakat
Memang masalah jual makanan di bulan Ramadhan kerap terjadi. Banyak masyarakat yang kurang paham penerapannya.
Malahan banyak umat yang berbuat dosa pada bulan puasa. Misalnya karena memperlakukan orang lain dengan tidak baik.
Hal ini menyebabkan banyak orang menjadi korban. Contohnya yang terjadi pada ibu Samini. Ia biasa menjual nasi uduk pada pagi hari.
Hal ini adalah satu-satunya mata pencaharian keluarganya. Ia memiliki empat anak yang masih kecil.

Ibu Samini berganti berusaha menjual takjil sore hari. namun penghasilannya sedikit karena sudah ada banyak penjual takjil lainnya.
Ibu Samini sempat mengeluh karena pendapatannya berkurang drastis. Namun ia berusaha menerima dengan pasrah dan tabah. Harapannya agar Allah bisa menerima ibadahnya.
Ibadah yang Allah Terima
Bukankah ada tujuan mulia dari ibadah, yaitu agar kita bisa mendapat berkah Allah dan masuk surga? Namun memang ibadah kita terbatas. Bahkan seringkali kita sulit mencapainya.
“Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan bagian dari puasanya melainkan lapar dan haus . . .” (Hadits Ahmad 8501).
Dalam hal ini ajaran Isa Al-Masih memberikan petunjuk dan cahaya. Yaitu agar kita bisa mendapatkan ibadah yang pasti Allah terima.
Pertama ajaran Isa adalah ajaran kasih. Menyatakan bahwa kasih adalah dasar ibadah yang sejati.
“. . . seandainya aku menyedekahkan segala sesuatu yang ada padaku untuk memberi makan orang yang lapar atau menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi tidak mempunyai kasih, maka aku tidak berfaedah sama sekali” (Injil, Surat 1 Korintus 13:3).
Isa Al-Masih tidak pernah memerintahkan pengikut-Nya untuk melakukan hukuman dengan cara kekerasan. Bahkan Isa Al-Masih melarang pengikut-Nya membela diri-Nya dengan cara kasar (Injil Lukas 22:49-51).
Jadi beribadah sambil melakukan kekerasan terhadap orang lain tidak benar. Pastilah Allah tidak menerimanya.
Ibadah: Bukan Makanan Tapi Hati Bersih
Selanjutnya Isa menyoroti hal terutama. Yaitu ibadah lebih dari sekadar masalah makan dan minum. Ibadah sejati berasal dari hati yang bersih.
“Bukan apa yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan apa yang keluar dari mulutlah yang menajiskan orang . . . segala sesuatu yang keluar dari mulut berasal dari hati . . . dari dalam hati keluar pikiran-pikiran yang jahat, seperti pembunuhan, percabulan, perzinahan, pencurian, saksi dusta, dan hujatan” (Injil, Matius 15:11, 18-19).
Hal inilah yang menjadi sangat sulit. Jauh lebih mudah untuk menahan diri dari makanan. Namun sangatlah sulit menjaga kebersihan hati.
Kita selama hidup pasti miliki dosa. Tidak ada manusia dengan hati bersih. Hati manusia penuh dengan riya, iri, nafsu, jahat dan sebagainya.
Allah memberi jalan keselamatan-Nya. Allah menjelma menjadi manusia, melalui pribadi Isa Al-Masih.
Pengorbanan Isa di kayu salib menjadi penebusan Allah atas dosa manusia. Jika kita mengimani dan menjadi pengikut Isa maka ada keselamatan Allah. Yaitu Ia akan mengampuni dosa dan menyucikan hati kita.

Ibadah Sejati dan Surga Allah
Jadi memang berpuasa adalah hal yang baik. Bisa saja kita melakukannya. Perihal jual makanan di bulan Ramadhan pun bisa dilakukan, dalam konteks yang tepat.
Namun semua ini tidak menjamin kebersihan hati manusia. Terlebih lagi menjamin kita masuk surga.
Allah menyediakan jalan selamat. Yaitu memberi pengampunan dosa dan jalan ke surga-Nya.
Kita mendapatkan pertolongan-Nya melalui mengimani dan menjadi pengikut Isa. Mari mendapatkan ibadah sejati dan surga Allah. Mari mengimani Isa Al-Masih.
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:
- Apa Makna Berpuasa Yang Sesungguhnya?
- Adakah Amalan Penyelamat di Akhirat Yang Menjamin Surga?
- Inilah Ibadah Yang Pasti Diterima Allah! Penasaran?
Video:
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Bagaimana pendapat Saudara mengenai hukum jualan makanan di bulan Ramadhan?
- Bagaimana pendapat Saudara dengan menegakkan ibadah melalui hukum cambuk?
- Bagaimana pendapat Saudara bahwa hati manusia pasti kotor, sehingga membutuhkan pertolongan Allah untuk ibadah yang benar?
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, maaf bila terpaksa kami hapus.

PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected].