• Skip to main content
  • Skip to header right navigation
  • Skip to site footer
Isa Dan Islam

Isa Dan Islam

Dialog Agama - Isa dan Islam

  • Maksud Situs Ini
    • Tentang Kami
    • Isa dan Al-Fatihah
    • Daftar Artikel
  • Jalan ke Surga
  • Artikel
  • Media
  • Kitab Suci
  • Hubungi Kami

Bagaimana Hukum Jual Makanan di Bulan Ramadhan?

Isa Dan Islam > Media > Ulasan Berita Agama > Bagaimana Hukum Jual Makanan di Bulan Ramadhan?
19 Februari 2025 | 50 Komentar

Pernah ada berita televisi menayangkan informasi yang sangat mengiris hati. Seorang wanita muda dicambuk sebanyak tiga kali karena menjual makanan di bulan Ramadhan.

Aparat setempat menegaskan bahwa hukum itu berlaku di daerah tersebut. Sehingga semua warga patut mengikutinya.

Padahal wanita muda ini perlu mencari nafkah. Ia butuh membantu keluarga memenuhi kebutuhan hidupnya. Pantaskah orang yang mencari nafkah dihukum?

Mari kita simak bagaimana sebenarnya hukum jual makanan di bulan Ramadhan. Agar kita bisa hidup dengan baik dan melakukan ibadah yang benar.

Tekanan Saat Jual Makanan di Bulan Ramadhan

Pada kenyataannya ada banyak persekusi terjadi di masyarakat. Banyak yang protes jika ada yang jual makanan di bulan Ramadhan.

Hal ini bisa berupa cibiran, omelan dan sindiran. Namun bisa juga berupa tindakan kekerasan untuk tutup paksa.

Di Aceh, mereka melakukan tindakan lebih jauh lagi. Sebagai daerah yang menerapkan syariat mereka memberi hukuman berupa dicambuk.

Contohnya pada tahun 2010 hal ini pernah terjadi. Ada dua wanita penjual makanan yang mendapat cambuk tiga kali.

Keadaan ini terus berlanjut. Pada tahun 2022 ada berita tindakan tegas satpol PP Aceh. Mereka melakukan penggerebekan warung makanan. Mereka menyita semua makanan yang ada. Juga mengancam hukuman cambuk jika tetap menjual makanan di bulan Ramadhan.

Tidak Boleh Jual Makanan di Bulan Ramadhan?

Melihat semua kejadian ini menyatakan penting untuk kita paham hukum agama. Bagaimana sesungguhnya dalil mengenai jual makanan di bulan Ramadhan?

Memang hal ini masih menimbulkan pro dan kontra. Sebagian ulama menyatakan tidak boleh, namun sebagian lainnya menyatakan bisa saja.

Ulama yang melarang jual makanan di bulan Ramadhan mengambil dalil dari Al-Quran. Menyatakan bahwa berpuasa adalah wajb hukumnya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah . . . dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran . . .” (Qs 5:2).

Dengan dasar ini maka diharapkan semua orang wajib menghormati orang yang berpuasa. Sehingga tidak boleh jual makanan di bulan Ramadhan. Karena hal ini menjadi cobaan bagi yang berpuasa.

Boleh Jual Makanan di Bulan Ramadhan?

Namun banyak ulama lain yang mengajarkan bahwa sebenarnya bisa saja jual makanan di bulan Ramadhan. Hal ini karena ada dalil kelonggaran dalam ibadah.

Contohnya: “. . . maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), . . . bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin . . .” (Qs 2:184).

Dalam ajaran agama ada beberapa kondisi orang mendapat izin tidak puasa. Misalnya wanita haid, orang sedang sakit atau dalam perjalanan.

Dalil ini menjadi dasar banyak ulama berpendapat boleh saja jual makanan di bulan Ramadhan. Karena bisa membantu bukan saja non-Muslim namun juga orang Islam yang sedang tidak puasa.

Tempat berjualan juga menjadi penting. Misalnya tidak etis berjualan makanan jika dekat mesjid. Namun jika di tempat umum, atau di jalur pantura, bisa saja. Karena memang di sana tempat orang dalam perjalanan melintas.

Terlebih lagi kita hidup dalam negara Indonesia. Hukum negara tidak melarang orang jual makanan di bulan Ramadhan.

Berbagai Keadaan dalam Masyarakat

Memang masalah jual makanan di bulan Ramadhan kerap terjadi. Banyak masyarakat yang kurang paham penerapannya.

Malahan banyak umat yang berbuat dosa pada bulan puasa. Misalnya karena memperlakukan orang lain dengan tidak baik.

Hal ini menyebabkan banyak orang menjadi korban. Contohnya yang terjadi pada ibu Samini. Ia biasa menjual nasi uduk pada pagi hari.

Hal ini adalah satu-satunya mata pencaharian keluarganya. Ia memiliki empat anak yang masih kecil.

Pada bulan puasa ia mendapat tekanan dari masyarakat sekitar. Ia tidak boleh berjualan saat waktu puasa.

Ibu Samini berganti berusaha menjual takjil sore hari. namun penghasilannya sedikit karena sudah ada banyak penjual takjil lainnya.

Ibu Samini sempat mengeluh karena pendapatannya berkurang drastis. Namun ia berusaha menerima dengan pasrah dan tabah. Harapannya agar Allah bisa menerima ibadahnya.

Ibadah yang Allah Terima

Bukankah ada tujuan mulia dari ibadah, yaitu agar kita bisa mendapat berkah Allah dan masuk surga? Namun memang ibadah kita terbatas. Bahkan seringkali kita sulit mencapainya.

“Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan bagian dari puasanya melainkan lapar dan haus . . .” (Hadits Ahmad 8501).

Dalam hal ini ajaran Isa Al-Masih memberikan petunjuk dan cahaya. Yaitu agar kita bisa mendapatkan ibadah yang pasti Allah terima.

Pertama ajaran Isa adalah ajaran kasih. Menyatakan bahwa kasih adalah dasar ibadah yang sejati.

“. . . seandainya aku menyedekahkan segala sesuatu yang ada padaku untuk memberi makan orang yang lapar atau menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi tidak mempunyai kasih, maka aku tidak berfaedah sama sekali” (Injil, Surat 1 Korintus 13:3).

Isa Al-Masih tidak pernah memerintahkan pengikut-Nya untuk melakukan hukuman dengan cara kekerasan. Bahkan Isa Al-Masih melarang pengikut-Nya membela diri-Nya dengan cara kasar (Injil Lukas 22:49-51).

Jadi beribadah sambil melakukan kekerasan terhadap orang lain tidak benar. Pastilah Allah tidak menerimanya.

Ibadah: Bukan Makanan Tapi Hati Bersih

Selanjutnya Isa menyoroti hal terutama. Yaitu ibadah lebih dari sekadar masalah makan dan minum. Ibadah sejati berasal dari hati yang bersih.

“Bukan apa yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan apa yang keluar dari mulutlah yang menajiskan orang . . . segala sesuatu yang keluar dari mulut berasal dari hati . . . dari dalam hati keluar pikiran-pikiran yang jahat, seperti pembunuhan, percabulan, perzinahan, pencurian, saksi dusta, dan hujatan” (Injil, Matius 15:11, 18-19).

Hal inilah yang menjadi sangat sulit. Jauh lebih mudah untuk menahan diri dari makanan. Namun sangatlah sulit menjaga kebersihan hati.

Kita selama hidup pasti miliki dosa. Tidak ada manusia dengan hati bersih. Hati manusia penuh dengan riya, iri, nafsu, jahat dan sebagainya.

Allah memberi jalan keselamatan-Nya. Allah menjelma menjadi manusia, melalui pribadi Isa Al-Masih.

Pengorbanan Isa di kayu salib menjadi penebusan Allah atas dosa manusia. Jika kita mengimani dan menjadi pengikut Isa maka ada keselamatan Allah. Yaitu Ia akan mengampuni dosa dan menyucikan hati kita.

“. . . Al-Masih . . . akan menyucikan batiniah kita dari semua perbuatan yang sia-sia supaya kita dapat beribadah kepada Allah, Tuhan yang hidup itu” (Injil, Sura Ibrani 9:14).

Ibadah Sejati dan Surga Allah

Jadi memang berpuasa adalah hal yang baik. Bisa saja kita melakukannya. Perihal jual makanan di bulan Ramadhan pun bisa dilakukan, dalam konteks yang tepat.

Namun semua ini tidak menjamin kebersihan hati manusia. Terlebih lagi menjamin kita masuk surga.

Allah menyediakan jalan selamat. Yaitu memberi pengampunan dosa dan jalan ke surga-Nya.

Kita mendapatkan pertolongan-Nya melalui mengimani dan menjadi pengikut Isa. Mari mendapatkan ibadah sejati dan surga Allah. Mari mengimani Isa Al-Masih.


Artikel Terkait

Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:

  1. Apa Makna Berpuasa Yang Sesungguhnya?
  2. Adakah Amalan Penyelamat di Akhirat Yang Menjamin Surga?
  3. Inilah Ibadah Yang Pasti Diterima Allah! Penasaran?

Video:

  1. Tidak Sanggup Membayar Hutang Puasa? Ini Solusinya!

Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca

Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:

  1. Bagaimana pendapat Saudara mengenai hukum jualan makanan di bulan Ramadhan?
  2. Bagaimana pendapat Saudara dengan menegakkan ibadah melalui hukum cambuk?
  3. Bagaimana pendapat Saudara bahwa hati manusia pasti kotor, sehingga membutuhkan pertolongan Allah untuk ibadah yang benar?

Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, maaf bila terpaksa kami hapus.

 

Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan tentang ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini. Atau WA/SMS ke: 0812-9530-4930
Kategori: Ulasan Berita Agama

Bagikan Artikel Ini:

Share on Facebook Share on X (Twitter) Share on WhatsApp Share on Email Share on SMS

PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR

Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!

Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected].

Subscribe
Beritahulah

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

50 Comments
Paling lama
Terbaru
nuroel
12 November 2010 1:43 pm

*
Berjualan saat semua orang berpuasa adalah bentuk ketidak-toleransian. Bahkan itu bisa saja sebagai penghinaan sehingga pantas untuk dihukum, mengingat Indonesia adalah negara majemuk, negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi.

Adapun bagi mereka yang ingin berdagang atau mencari nafkah bisa dilakukan malam hari. Karena pada saat itulah umat Muslim juga butuh buka puasa.

Balas
staff
13 Januari 2011 9:53 am
Balasan ke  nuroel

~
Sdr. Nuroel, maaf bila kami tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat saudara. Tidak semua rakyat Indonesia berpuasa pada bulan Ramadhan. Begitu banyak orang-orang non-Muslim yang tidak berpuasa dan juga perlu makan.

Dari segi manakah saudara menilai bahwa orang yang berjualan pada bulan puasa adalah sebuah penghinaan?

Isa Al-Masih mengajarkan, “Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi” (Injil, Rasul Besar Matius 6:17-18)

Bila motivasi berpuasa semata-mata karena Allah, maka walaupun ada orang yang berjualan, bahkan makan sekalipun di hadapan kita, hal itu tidak akan pernah mempengaruhi puasa kita. Apa lagi harus menghukum mereka.
~
SO

Balas
Moch Ginanjar
14 November 2010 3:08 am

*
Sebelum menilai sesuatu, kita harus tahu latar belakangnya terlebih dahulu.

Ada beberapa hal yang harus anda ketahui:

1. Jika tidak salah, kejadian itu terjadi di daerah Aceh, di mana daerah itu mempunyai aturan otonomi khusus karena itu adalah salah satu syarat kenapa “GAM” “mau bergabung” dengan Indonesia.

2. Kita harus mengakui bahwa itu adalah keputusan politik sebagai upaya kesatuan NKRI.

3. Sepertinya anda lebih cenderung ke Isa Almasih, daripada ke Islam karena penilaian anda hanya meng-compare Injil saja. Karena Indonesia mayoritas Islam, ya barang tentu “kejelekan” pasti banyak di erbuat orang islam.
Salam.

Balas
staff
10 Desember 2010 9:37 am
Balasan ke  Moch Ginanjar

~
Sdr. Ginanjar,

Bila benar yang Saudara katakan bahwa itu sebuah keputusan politik, maka tetap saja harus mengacu pada Pancasila dan UUD’45 sebagai dasar acuan NKRI yang menjamin kebebasan seseorang dalam menjalankan keyakinannya. Dan menurut kami, UUD’45 berlaku di seluruh Indonesia, tanpa perkecualian.

Dan kecenderungan kami menjawab apa yang Saudara katakan, di sini kami berusaha memberitahukan mengenai “Jalan Kebenaran” di dalam Isa Al-Masih, baik yang terdapat di dalam Injil dan juga Al-Quran.

Banyak orang saat ini tidak menyadari bahwa “Jalan Keselamatan” terkandung di dalam Al-Quran.

Jika Saudara rindu untuk mempelajarinya, kami persilahkan untuk boleh merenungkannya dalam: [url]www.isadanislam.org/jalan-keselamatan[/url]
~
SO

Balas
sepatu hitam
16 November 2010 2:35 am

*
Mengapa hal ini menjadi pembahasan, karena ini tidak begitu penting? Sebaiknya kita melihat di mana hukum itu dilaksanakan.

Jika memang ini dialog yang berimbang, seharusnya artikel diatas harus berimbang. Karena Pancasila sudah disinggung, berarti harus ada keadilan. Juga dalam tulisan itu, seharusnya bukan hanya ditulis keadilan yang berasal dari sepihak saja.

Humanisme yang anda usung belum terlihat!

Balas
staff
25 November 2010 2:48 am
Balasan ke  sepatu hitam

~
Sdr Sepatu Hitam,

Hukuman cambuk karena menjual makanan saat Ramadhan bukanlah masalah ringan. Hukuman cambuk tersebut merupakan langkah mundur dari penegakan HAM di Indonesia. Hukuman itu juga telah memamerkan kesadisan dan mengabaikan aspek humanisme, tidak manusiawi, dan perbuatan yang merendahkan martabat manusia.

Pemberian hukuman cambuk dipastikan dapat menimbulkan penderitaan yang besar. Tidak hanya luka fisik dan psikologis si terpidana, tetapi keluarganya juga akan mendapat malu dan trauma, sebagai akibat pelaksanaan hukuman di depan khalayak ramai.

Berbeda dengan ajaran Isa Al-Masih dalam Injil Rasul Besar Yohanes 8:7 “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Hal yang lebih penting adalah bagaimana kita mengimplementasikan humanisme dalam kehidupan sehari-hari bermasyarakat, untuk menjunjung tinggi pemerintahan yang bermartabat dan berazaskan Pancasila.
~
SL

Balas
sipengebara
16 Desember 2010 9:45 am

*
Di Islam, HAM adalah hal yang pertama dijunjung, tapi tentu saja kita mesti setuju kalau HAM itu bukan berarti bebas. Harus tetap ada aturan main.

Saya pikir hukuman penjara lebih melanggar HAM. Di satu pihak merepotkan yang dihukum, yang kedua merepotkan negara yang mesti menanggung biaya makan dia, lewat pajak.

Kita harus menegakkan HAM, tapi kita harus taat kepada hukum dan aturan. Sebagai contoh, di negara barat saja yang katanya menjunjung tinggi HAM, orang yang mempertanyakan “genoside” juga diancam penjara. Padahal ini kan kebebasan berekspresi. Dan saya berpikir bahwa di Injil juga ada ayat yang menjelaskan aturan main di mana pelanggar juga dihukum.

Balas
staff
30 Desember 2010 3:29 pm
Balasan ke  sipengebara

~
Saudara Sipengebara, benarkah umat Muslim menjunjung tinggi dan mengutamakan HAM?.
 
Umat Muslim di satu sisi menganggap bahwa bulan Ramadhan adalah bulan suci, penuh berkah, rahmat dan pengampunan Allah. Tetapi di sisi yang lain melakukan tindak kekerasan ataupun penodaan terhadap makna Ramadhan itu sendiri.

Pantaskah terjadi pengrusakan-pengrusakan yang begitu banyak di bulan Ramadhan? Pantaskah orang yang mencari makan dihukum cambuk pada bulan yang penuh rahmat?

Berkaitan dengan bulan atau hari yang dianggap suci oleh agama, misalnya: Hari Sabat. Isa Al-Masih mengajarkan bahwa Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Ini berarti yang menjadi keutamaan di dalam menjalani hari peringatan agama adalah “manusia” sebagai makhluk Tuhan, dan bukan “hari”-nya yang dipentingkan.
~
SL

Balas
Abd. Razak
17 Desember 2010 4:14 am

*
Umat Kristen yang baik pasti menghargai umat Islam yang melaksanakan puasa dengan cara tidak makan di tempat umum, apalagi berjualan makanan di siang hari.

Balas
staff
23 Desember 2010 10:24 am
Balasan ke  Abd. Razak

~
Sdr. Abd. Razak, artikel di atas dan media yang menayangkannya, tidak mengatakan apakah yang berjualan itu Muslim atau Kristen. Namun sepintas terlihat bahwa yang berjualan tersebut adalah seorang Muslim.

Kami tidak menyoroti persoalan jikalau ada orang non-Muslim yang makan di tempat umum. Yang disoroti di sini adalah bahwa ada orang yang dihukum secara kejam karena berjualan saat bulan Ramadhan.

Kami sangat menghormati umat Muslim yang sedang berpuasa, sebagaimana kami juga mengharapkan setiap orang boleh menjunjung tinggi harkat dan martabat setiap insan manusia.
~
SO

Balas
prihatin
23 Desember 2010 9:51 am

*
Bukankah seharusnya orang yang berpuasa harus bersyukur dengan adanya orang yang berjualan? Karena dengan demikian, imannya akan diuji dan diperkuat ketika menjalankan puasa.

Balas
staff
23 Desember 2010 10:29 am
Balasan ke  prihatin

~
Seseorang yang benar-benar ingin melaksanakan ibadah puasa dengan motivasi yang murni bagi Allah, tidak akan merasa terganggung dengan orang lain yang berjualan makanan. Fokus orang beriman adalah pada Allah dan bukan pada manusia.

Walau begitu, kami sangat mengharapkan dan menghimbau agar orang-orang yang tidak berpuasa juga dapat menghargai mereka yang berpuasa, dengan tidak makan di tempat-tempat umum.

Dengan demikian, akan tercipta kerukunan umat beragama. Setiap orang bebas dalam melaksanakan ibadahnya, sementara mereka yang mencari nafkah pun kiranya tidak mengganggu mereka yang sedang berpuasa.
~
SO

Balas
Putra
8 Januari 2011 7:06 pm

*
Tergantung lokasi jualannya di mana?

Yah begitulah kalau orang picik memandang semua persoalan dari sudut pandang dia dan maunya menang sendiri.

Kalau cuma jualan makanan di bulan puasa, bukan berarti dia tidak menghormati orang lain. Yang puasa ya puasa saja, tidak ada urusannya sama orang yang lagi cari nafkah!

Mungkin dia terdorong kebutuhan hidup sehingga dia harus mencari nafkah, itu hak azazi manusia dan dilindungi UU!

Kecuali sambil jualan makanan dia mengejek orang yang berpuasa, tapi rasanya tidak mungkin ada orang segila itu.

Tetapi kalau dia berdomisili di Aceh, menurut saya dia harus lebih berbijaksana. Ini namanya mencari penyakit. Karena sejak otonomi khusus di Aceh, di sana sudah diberlakukan syariat Islam.

Tapi kalau kejadiannya di luar Aceh, saya setuju bahwa jikalau dia memang melakukan kegiatan yang mengganggu, maka ia bisa dituntut ke pengadilan untuk dihukum atas dasar penghinaan terhadap agama.

Balas
staff
24 Januari 2011 1:50 am
Balasan ke  Putra

~
Saudara Putra, pendapat Saudara ada benarnya. Namun benarkah seluruh masyarakat Aceh setuju dengan pemberlakuan syariat Islam? Pernahkah dilakukan jajak pendapat yang menjangkau seluruh pelosok Aceh dan menanyakan apakah penerapan syariat Islam merupakan kebutuhan mereka?

Menurut kami, penerapan syariat Islam seperti yang di atas ini, hanya menimbulkan efek yang kelihatan langsung pada masyarakat “bawah”. Dan sama sekali tidak menyentuh kalangan atas untuk menyadarkan ataupun menghukum ‘dosa-dosa’ mereka yang tidak menjalankan kewajibannya mensejahterakan rakyat Aceh.

Maaf jika kami terpaksa mengatakan bahwa hal ini sangat kontras dengan ajaran Isa Al-Masih. Kedatangan-Nya ke dunia justru membawa pengharapan bagi semua lapisan masyarakat.

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Injil Lukas 4:18-19)
~
SL

Balas
nunu
26 Maret 2011 4:07 pm

*
Admin: Tolong dibaca sejarahnya, baca juga Undang-Undang Indonesia yang mengakui hukum adat, hukum syariah ini malah lebih tinggi kapasitas levelnya dari adat, masak tidak diakui?

Aceh juga sudah memiliki kewenangan sendiri untuk mengatur warganya dengan hukum syariah.

Boleh saya kasih tahu, syariah itu tidak sesempit itu, lihat juga efeknya bagi masyarakat umum.

Kalau anda hanya melihat sisi HAM terus, tidak ada habisnya. Hasil atas nama HAM, bisa kawin dan mengawinkan sesama jenis, bisa bikin hukum sendiri tidak menikah seumur hidup.

Balas
staff
7 April 2011 5:34 am
Balasan ke  nunu

~
Saudara Nunu,

Setahu kami, syariat yang berlaku di Aceh adalah syariat Islam. Dan yang kami soroti di sini adalah bahwa agama Islam mengajarkan kekerasan fisik. Apakah Saudara setuju akan pernyataan kami ini?

Para pengikut Isa Al-Masih yang sejati menentang pernikahan sesama jenis dan semua hal lain yang mengganggu norma. Namun semuanya sebaiknya diserahkan kepada hukum negara, dan biarlah ditangani dengan adil dan penuh kasih, seperti ajaran Isa Al-Masih. Hukuman yang benar adalah untuk menyadarkan, dan bukan untuk membuat cacat atau dendam.
~
CA

Balas
zaenurdin
14 Mei 2011 1:14 pm

*
Saling bertoleransilah. Itu kan tempat di mana Islam adalah mayoritas. Coba lihat di Manado, Timika, saat puasa rumah makan banyak yang buka. Toleransi Muslim pun dijalankan di Bali dengan tidak menyembelih kurban sapi saat Idul Adha dikarenakan dapat menyinggung perasaan umat Hindu yang menganggap sapi sebagai kendaraan dewa mereka.

Balas
staff
18 Mei 2011 8:49 pm
Balasan ke  zaenurdin

~
Saudara Zaenurdin, adalah tidak benar kalau dikatakan pada hari Idul Adha tidak ada pemotongan sapi di Bali. Umat Islam di Bali malah mengatakan agar umat non Islam di sana bisa menghargai mereka yang minoritas.

Hal ini bisa Saudara baca di portal-portal berita. Jika Saudara menginginkannya, maka kami akan menyertakan link-nya kepada Saudara nanti.

Kami sangat menjunjung tinggi toleransi beragama. Namun kami juga tidak setuju akan kekerasan fisik untuk diterapkan pada hal-hal yang berbau agama, sebab agama adalah menyangkut iman di dalam hati, dan bukan perkara fisik.
~
CA

Balas
Anggur Baru
24 Mei 2011 12:24 pm

*
Ini peristiwa yang sangat menyedihkan bagi bangsa Indonesia.

Pemaksaan dan ancaman dalam (hukum) agama hanyalah menghasilkan orang semakin jauh dari Penciptanya.

Tidaklah mengherankan bila di negara-negara Islam, puluhan ribu penganutnya tiap bulan meninggalkan agamanya. Takut akan Tuhan lah yang sesungguhnya membawa orang kepada kekudusan dan kebenaran hidup, bukan takut akan hukum agama.

Balas
staff
3 Juni 2011 8:05 am
Balasan ke  Anggur Baru

~
Saudara Anggur Baru, kami setuju dengan kalimat terakhir pernyataan Saudara. Bahwa yang penting adalah rasa taat dan takut kepada Tuhan, dan bukan rasa takut terhadap ancaman hukuman agama.

Rasa taat dan takut kepada Allah menghasilkan pertobatan, sementara rasa takut akan hukuman hanyalah menghasilkan dendam yang terkurung sesaat, dan tidak mempertobatkan. Seorang anak yang dibesarkan dalam suasana takut akan sangat berbeda dengan anak yang dibesarkan dengan dengan kasih.
~
CA

Balas
dou
2 Agustus 2011 3:54 am

*
Negara kita berdasarkan Pancasila, lihat sila ke-1, “Ketuhanan yang maha Esa”.
Ini menunjukkan bahwa negara kita adalah negara agamis.

Bentuk tidak toleran seperti berjualan makanan berarti kena hukuman.

Balas
staff
3 Agustus 2011 9:27 am
Balasan ke  dou

~
Saudara Dou,

Indonesia memang negara yang berdasarkan Pancasila, tetapi Indonesia bukanlah negara agama seperti yang saudara sampaikan. Dan tidak ada satupun undang-undang di Indonesia yang memerintahkan agar menghukum seseorang yang berjualan di bulan puasa.

Sungguh ironis sekali, seseorang yang sedang menjalankan ibadah puasanya melakukan kekerasan pada orang lain, hanya karena orang tersebut berjualan di bulan puasa. Inikah yang saudara namakan bentuk toleran?
~
SO

Balas
dou
2 Agustus 2011 4:12 am

*
Sekarang saya mau tanya, kalau memang bukan hukum Islam, hukum mana lagi yang mau dipakai?

Dalam Al-Quran juga disebutkan, “tidak ada paksaan dalam agama .. ” dan juga disebutkan “agama mu adalah agama mu, agama ku adalah agama ku”.

Balas
staff
26 Januari 2012 10:48 am
Balasan ke  dou

~
Saudara Dou,

Apakah Indonesia negara Islam sehingga harus menggunakan hukum Islam?

Setiap hukum di Indonesia diatur dalam undang-undang. Dan sudah seharusnya setiap warga negara Indonesia yang melakukan kesalahan, dihukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Saudara benar, dalam Islam disebutkan “tidak ada paksaan”. Namun kenyataanya, Islam telah menjatuhkan hukuman bagi seorang wanita yang berjualan di bulan puasa. Bukankah dalam hal ini secara tidak langsung, Islam telah memaksa setiap orang tidak boleh berjualan makanan di bulan puasa?

Apakah tidak ada cara lain menghukum mereka selain mencambuknya?.
~
SO

Balas
Gilig
2 Agustus 2011 9:24 am

*
Hukuman mencambuk karena berjualan bukan syariat Islam, tapi hukum negara Indonesia yang dikeluarkan oleh daerah tersebut.

Jadi salahkan negaranya, jangan kaitkan dengan agama yang kelihatannya “mirip” dengan hukum tersebut.

Balas
staff
3 Agustus 2011 9:17 am
Balasan ke  Gilig

~
Tidak ada Undang-Undang yang dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia tentang hukum cambuk. Baik Pemerintah pusat maupu Pemerintah daerah. Sehingga, hukum cambuk yang diterapkan di Aceh tersebut adalah hukum Islam. Bukan Hukum negara Indonesia seperti yang saudara sampaikan.

Dan, tidak seharusnya seseorang yang berjualan demi mencari nafkah harus dihukum.
~
SO

Balas
ony
9 Agustus 2011 4:26 am

*
Maaf sebelumnya dari sekian banyak pernyataan sepertinya anda menilai bahwa Islam itu kejam.

Saya akui anda berintelegensi tinggi, tentu anda tidak akan memandang segala sesuatu dari sudut negatif saja. Apa lagi masalah agama, anda yakin agama anda adalah agama yang paling benar dan kami juga menganggap agama kami sebagai agama yang benar. Jadi tidak perlu anda repot-repot, masalah agama adalah masalah keyakinan dalam diri sendiri.

Tukar pendapat boleh tapi jangan ada maksud memprovokasi. Kalau memang anda ingin bertanya, ada tempatnya di forum-forum Islam.

Terimakasih.

Balas
staff
12 Agustus 2011 6:59 am
Balasan ke  ony

~
Tujuan website ini bukan memprovokasi umat beragama melainkan untuk memperkenalkan siapakah Isa Al-Masih yang sesungguhnya berdasarkan Alkitab dan Al-Quran.

Kami sadar bahwa kebanyakan umat Muslim banyak yang tidak setuju dengan website ini. Namun dengan hadirnya website ini justru akan menghilangkan salah paham tentang kepercayaan orang Kristen. Sehingga umat Muslim akan mempunyai pengertian yang benar mengenai agama Kristen.

Hal yang paling penting dari website ini adalah memperkenalkan Juruselamat dunia yaitu Isa Al-Masih. Dengan demikian umat beragama tidak lagi mengatakan “insya Allah” tentang keselamatan pribadinya. Melainkan “pasti selamat” dan masuk ke sorga pada waktu meninggalkan dunia.

Isa Al-Masih bersabda: ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorangpun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.” (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:6)
~
SL

Balas
al-islam
19 Agustus 2011 2:03 pm

[quote name=”nuroel”]*
Berjualan saat semua orang berpuasa adalah bentuk ketidak-toleransian. Bahkan itu bisa saja sebagai penghinaan sehingga pantas untuk dihukum, mengingat Indonesia adalah negara majemuk, negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi.

Adapun bagi mereka yang ingin berdagang atau mencari nafkah bisa dilakukan malam hari. Karena pada saat itulah umat Muslim juga butuh buka puasa.[/quote]

Toleransi? Sahabat saya yang Kristen berpuasa ketika Paskah, tetapi mereka tidak meminta saya untuk tidak makan didepannya. Mana yang lebih toleran?

Anda ingin berpuasa apa mau pamer? Tidak perlu berlebihan, mau puasa saja sampai harus menutup.

Anda, sebagai Muslim tidak bisa memaksa orang lain menghormati anda. Yang bisa anda lakukan adalah memantaskan diri supaya anda layak dihormati.

Wasalam.

Balas
staff
26 Januari 2012 10:49 am
Balasan ke  al-islam

~
Inilah ajaran Isa Al-Masih perihal berpuasa, “Kalau kalian berpuasa, janganlah bermuka muram seperti orang yang suka berpura-pura. Mereka mengubah air mukanya supaya semua orang tahu bahwa mereka berpuasa. Ingatlah, itulah upah yang mereka sudah terima. Tetapi kalau kalian berpuasa, cucilah mukamu dan sisirlah rambutmu, supaya tak ada yang tahu bahwa kalian berpuasa, kecuali Bapamu yang tidak kelihatan itu saja. Dia melihat perbuatanmu yang tersembunyi itu dan akan memberi upah kepadamu.” (Injil, Rasul Besar Matius 6:16-18).

Isa Al-Masih mengajarkan, tujuan seseorang berpuasa adalah mencari hadirat Allah. Bukan semata-mata melakukan kegiatan keagamaan di muka umum, agar orang lain memujinya sebagai orang saleh.

Puasa bukanlah sekedar menahan haus dan lapar, tetapi bagaimana menggunakan waktu tersebut untuk merendahkan diri dan mencari hadirat Allah.

Lebih lanjut, bacalah penjelasan tentang puasa pada artikel berikut: http://tinyurl.com/8ymk3ak.
~
SO

Balas
Yoyo
2 Maret 2013 8:43 am

*
Yang saya ingat bila ramadhan tiba.
1. Banyak orang berjubah putih menggrebek dan menghancurkan rumah makan.
2. Razia wts
3. Banci diuber-uber dan digebukin orang berjubah
4. Kios, tempat makan ditutup kain sarung
5. Hari pertama puasa jalanan sepi, kantor banyak yang telat masuk
6. Hari kedua puasa semua normal kembali, bahkan supir bus kota cuek saja merokok siang hari di dalam bis.
7. Mesjid berisik sekali sepanjang malam sampe pagi tidak ada istirahat. Bahkan anak-anak terika-terika melalui loudspeaker. Pusing!

Balas
Pasola
4 Juli 2013 1:39 am

*
Bagi saya, saat bulan puasa di daerah yang mayoritas Muslim adalah saat bulan yang mengerikan. Karena di sana segala hak-hak kita sebagai manusia dipasung dan tidak ada kebebasan.

Sebaliknya, sungguh indah tempat atau daerah yang minoritas Muslim karena di sana saat itu semua hak-hak manusia dapat dilakukan dengan sebebas-bebasnya.

Balas
saminman
22 Juni 2014 3:44 am

~
Sudah hormati bulan puasa. Jual makanan sembunyi-sembunyi masih juga diobrak-abrik. Suruh jual malam, lalu yang tidak puasa makan apa? Alasannya lndonesia mayor. Jadi, buat aturan sendiri suka-suka saya.

Balas
zakino
27 Juni 2014 4:54 am

~
Televisi swasta mana, silakan tunjukan? Saya mau lihat cuplikanya.

Balas
staff
28 Juni 2014 12:47 am
Balasan ke  zakino

~
Salam Sdr. Zakino,

Dengan kemajuan teknologi dan era digital, kami kira saudara dapat mencarinya. Dan lagi, jika sauara sudah membuktikan dan menyaksikannya, dapatkah saudara membenarkan tindakan tersebut?

Bagaimana menurut saudara nasib dari pedagang tersebut? Apakah ia harus kehilangan haknya sebagai warna negara yang sedang mencari sesuap nasi? Dan lagi, menurut saudara relevankah ajaran Islam diterapkan di nergara Pancasila ini?
~
Salma

Balas
injil asli
27 Juni 2014 8:10 am

~
Jika anda dijewer kupingnya oleh orang tua anda karena melanggar aturan yang telah disepakati di rumah anda, berhak kah saya yang tidak punya urusan dengan keluarga anda mencampuri urusan rumah tangga anda? Survei membuktikan, 100% yang menentang hukum Islam adalah non Muslim. Ini fakta. Karena 100% non Muslim pelanggar hukum Islam. Contoh makan babi, sex bebas, mabuk dan alkohol, serta judi.

Balas
staff
28 Juni 2014 12:52 am
Balasan ke  injil asli

~
Salam Sdr. Injil Asli,

Kami sedikit binbung dengan pamaparan saudara, jelas artikel di atas membahas topik seorang pedagang dicambuk karena berjualan di bulan puasa, bukan? Menurut saudara, tidakkah pedagang ini kehilangan haknya untuk mencari nafkah? Apakah Islam selalu memaksakan ajarannya untuk dilaksanakan oleh semua orang termasuk non Muslim?

Dan lagi, menurut saudara layakkah ajaran Islam diterapkan di bumi Pancasila ini?
~
Salma

Balas

Sidebar

Artikel Terbaru

  • Apakah Saya Akan Masuk Surga? Ini Jalan Allah
  • Hadis Tentang Nabi Isa: Satu-Satunya Yang Tidak Tersentuh Setan
  • Sejarah Mekah Dalam Terang Arkeologi Dan Ilmu Pengetahuan
  • Hikmah Qurban Nabi Ibrahim
  • Apakah Makna Qurban Idul Adha Yang Sebenarnya?

Artikel Terpopuler Bulan Ini

  • Antara Agama Dan Korupsi: Bagaimana Menjaga Hati Bersih?
  • Hadis Tentang Nabi Isa: Satu-Satunya Yang Tidak Tersentuh Setan
  • Apakah Saya Akan Masuk Surga? Ini Jalan Allah
  • Contoh Menghina Allah Paling Nyata: Menghina Kalimatullah
  • Potong Kuku Dalam Islam Menjaga Kebersihan Jasmani dan Hati?

Hubungi Kami

Apabila Anda memiliki pertanyaan / komentar, silakan menghubungi kami dengan menekan tombol di bawah ini.

Hubungi Kami

Renungan Berkala Isa dan Al-Fatihah

Apabila Anda ingin menerima renungan singkat setiap minggu, silakan menekan tombol di bawah ini

Renungan Berkala Isa Dan Al-Fatihah

Social Media

Facebook
TikTok
Instagram
YouTube

Hak Cipta © 2009–2026 | Dialog Agama Isa dan Islam. | Kebijakan Privasi | Kebijakan Dalam Membalas Email | Hubungi Kami

wpDiscuz